Pj. Gubernur Jatim Saksikan MoU Penjajakan Kerja Sama KUB Bank Jatim dengan Bank Banten

 

KANALSATU - Penjabat (Pj) Gubernur Jawa Timur Adhy Karyono menghadiri Focus Group Discussion (FGD) Pemenuhan Modal Inti Minimum (MIM) Bank Pembangunan Daerah (BPD) dan Konsolidasi Perbankan Daerah di Hotel Borobudur Jakarta Pusat, Senin (4/3/2024). Dalam kesempatan ini, Pj. Gubernur Adhy menyaksikan MoU penjajakan kerja sama antara Bank Jatim dengan Bank Banten.

Menurutnya, kerja sama antar bank pembangunan daerah dengan melakukan penguatan permodalan dan konsolidasi perbankan dapat menjadi salah satu cara untuk menghadapi dinamika perekonomian saat ini.

"Jadi kita diminta untuk membantu bank yang memang modal intinya kurang dari Rp3 triliun, kita kan sudah 2, Bank NTB Syariah dan Bank Lampung. Dan ternyata Banten berminat, sudah datang dan bersurat, kita sudah menyatakan iya dan tadi adalah MoU," ujarnya.

Bank Jatim, kata Pj. Gubernur Adhy, termasuk bank yang masuk dalam kategori bank dengan modal inti antara Rp1 triliun hingga Rp5 triliun. Bahkan, per Desember 2023, Bank Jatim memiliki modal sebesar Rp11,541 trilliun, dengan Aset Tertimbang Menurut Resiko (ATMR) sebesar Rp44,897 trilliun.

Sementara rasio CAR Bank Jatim mencapai 25,71 persen. Pemprov Jatim memiliki modal dasar seri A di Bank Jatim sebesar 51,13 persen atau sekitar Rp1.919.228.412.000.

Dikatakan Adhy, Mendagri mendorong supaya membantu Banten. ”Ini bagian dari ekspansi, kami melihat tetep Jawa Timur juga diuntungkan karena akhirnya penambahan aset dan juga pangsa pasar jadi luas, sasaran target untungnya juga bisa menjadi berkembang," imbuhnya.

Adhy pun menjelaskan, langkah aksi korporasi yang akan ditempuh Bank Jatim adalah dengan melakukan penyertaan modal kepada beberapa BPD yang modal intinya masih di bawah ketentuan. Bank Jatim juga  membentuk KUB dengan bank-bank tersebut.

"Dengan Bank NTB Syariah sudah tahap penyelesaian, dengan Bank Lampung sudah on progress sudah dilakukan penandatanganan Non-Disclosure Agreement (NDA) atau Perjanjian Kerahasiaan ketika memulai kerja sama dengan pihak lain dan perjanjian kerjasama, dan dengan Bank Banten sedang proses penjajakan," jelasnya.

Lebih lanjut, Adhy memastikan bahwa aksi korporasi yang akan dilakukan Bank Jatim telah dituangkan dalam rencana bisnis bank (RBB). Bank Jatim sendiri juga telah mencadangkan penyertaan modal sebesar Rp1 trilliun.

"Rencana, kita tahap pertama Rp100 juta dulu baru berikutnya berapa, ini baru mau akan, karena memang kalau sudah begini kan harus dengan perdanya, dan kita nanti akan RUPS disini, RUPS disana dengan DPRnya, maka di sini kita RUPS untuk menyatakan iya, aset kita akan menjadi bertambah dengan KUB itu," terangnya.

Sementara untuk konsep KUB yang ditawarkan Bank Jatim, sebut Pj. Gubernur, adalah fully protection growing together di mana Bank Jatim akan memberikan dukungan penuh terhadap likuiditas dan permodalan serta menjalankan sinergitas bisnis yang saling menguntungkan.

"Intinya sebetulnya itu kan harus ada kesesuaian sama-sama mempunyai syarat, tapi kita tidak membuat syarat yang sulit supaya mereka juga tidak susah, kita intinya membantu tetapi harus akuntabel, bank harus sehat, dan profesionalitas sehingga sama-sama maju," urainya.

Sementara itu Bank Jatim sebagai bank pembangunan daerah di Jawa Timur memiliki performance yang didukung dengan rasio permodalan kuat dengan rasio CAR sebesar 25,71 persen pada posisi Desember 2023.

Self Assessment yang dilakukan menunjukkan hasil PK-2 atau peringkat komposit tingkat kesehatan bank periode Desember 2023 PK-2 yang mencerminkan kondisi bank secara umum.

"Jadi Bank Jatim itu ya wajib memberikan drive-nya supaya sama manajemennya dengan Bank Jatim sehingga peluang untuk untungnya juga sama, pengembangan SDMnya, IT nya semua harus sama, dari situ baru effort kita didapat, akhirnya mendapat keuntungan tambahan," jelas Adhy.

(KS-9)

Komentar