Masa Depan Industri Sawit di Tangan Generasi Muda

Oleh: Tofan Mahdi*

KANALSATU - Masa depan industri minyak sawit Indonesia, berada di tangan generasi muda, anak-anak milenial hingga generasi Z. 

Karena itu perlu penguatan strategi kampanye positif di kalangan anak-anak muda. 

Jika tidak, sektor kelapa sawit akan ditinggalkan. Artinya, mati bukan karena kehilangan permintaan, tetapi karena kehilangan generasi yang melanjutkan tongkat estafet, yang menjaga keberlanjutan industri strategis nasional ini.

Atas dasar itu, dalam setiap pertemuan penting, seperti saat bincang santai dengan sejumlah wartawan, di sela kegiatan IPOC (Indonesian Palm Oil Conference) di Nusa Dua Bali, awal November lalu, selalu disinggung masalah penting itu, yaitu soal regenarasi sektor industri minyak sawit nasional.

Masalah regenarasi selalu menjadi topik hangat, dan selalu menarik dibicarakan. Sebab dengan pergeseran teknologi komunikasi digital yang masif, rasanya tantangan komunikasi di industri sawit bisa dihadapi dengan ringan, jika semakin banyak generasi muda terlibat dan berperan aktif dalam banyak bidang di industri sawit.

Di bidang teknis, sudah ada banyak anak muda yang masuk dan bekerja di industri sawit. Tetapi dalam bidang komunikasi, kampanye positif, dan advokasi kebijakan, perlu lebih banyak anak-anak muda terlibat di dalamnya.

Saat ini, sedikitnya ada tiga tantangan besar yang dihadapi industri minyak sawit, yaitu tantangan kebijakan, keberlanjutan, dan fluktuasi harga. 

Pertama, dari tiga tantangan tersebut, tantangan kebijakan adalah yang terberat.

Fluktuasj harga CPO, sebagai sektor usaha bidang komoditas kita, dalam posisi tidak bisa melakukan apapun. Fluktuasi harga komoditas sepenuhnya ditentukan oleh mekanisme permintaan dan penawaran di paaar.

Kedua, adalah tantangan keberlanjutan. Komitmen sektor kelapa sawit terhadap tata kelola yang berkelanjutan (sustainable palm oil) adalah mutlak. 

Terkait komitmen keberlanjutan ini, ibarat pesawat terbang yang baru lepas landas, kita sudah sampai pada titik yang tidak bisa kembali atau point of no return. Diwajibkan atau tidak, diminta Eropa atau tidak, komitmen keberlanjutan adalah mutlak.

Ketiga, adalah tantangan kebijakan. Belajar dari pengalaman yang terjadi pada semester pertama tahun 2022, berharap seluruh pemangku kepentingan dalam mata rantai industri sawit, tetap kompak dan konsisten mendukung munculnya kebijakan yang pro terhadap industri sawit yang berkelanjutan.

Para pelaku usaha dan petani sawit harus makin kompak dalam advolasi kebijakan apapun terkait sawit.

Intinya, selain dilibatkan dalam kampanye positif sawit, generasi muda juga harus mulai terlibat dalam advolasi kebijakan terkait sawit. 

Anak muda mungkin kalah dalam pengalaman, tetapi perspektif mereka akan lebih objektif dalam melihat tantangan di industri sawit, baik tantangan itu yang berasal dari luar negeri ataupun dalam negeri.

Jadi semua pihak harus mengapresiasi program-program kampanye positif sawit yang melibatkan generasi muda, seperti yang dilakukan asosiasi pelaku usaha seperti GAPKI, asosiasi petani sawit, maupun pemerintah dalam hal ini BPDP KS (Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit).

Jakarta, 13 November 2022

*Ketua Bidang Komunikasi GAPKI (Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) 
*Pernah menjadi Wakil Pemimpin Redaksi Jawa Pos 
*Pernah dinobatkan sebagai PR Terbaik Indonesia 2016 versi Majalah PR Indonesia  
*Senior Vice President (SVP) of Communication, Public Affair, and Investor Relation PT Astra Agro Lestari Tbk.

Komentar