Maligano, ‘Permata’ dari Sulawesi Tenggara

Butuh Sentuhan Kasih Sayang Pemerintah Daerah

MINIM PERHATIAN: Giona Nur Alam mengharapkan Pemerintah Kota Kendari memberi perhatian kepada perajin dan pedagang batu akik yang ada di Pasar PKL Lawata Kendari. (Foto: Rossi Rahardjo)
TUJUH tahun silam, sekira tahun 2015, banyak warga Kota Kendari yang terkena demam batu akik. Fenomena ‘gila’ batu akik ini juga terjadi di sejumlah daerah lain di Indonesia. Selain berburu batu akik hingga ke daerah lain, sebagian penggemar dan kolektor batu akik bahkan rela menempuh langkah yang terkadang di luar nalar sehat. Perajin dan pedagang batu akik tumbuh subur seiring rejeki yang terus menetes ke dompet.

Kini, daya magnet batu akik tidak sepopuler dulu meski peminatnya masih tetap ada. Di Kendari, secara perlahan industri kreatif batu akik mulai menemukan jalannya kembali. Tergusur dari kawasan Tugu Religi Sulawesi Tenggara atau juga dikenal dengan nama Tugu Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) tidak membuat perajin dan pedagang batu akik Kendari menyerah. Komunitas ini terus berjuang untuk tetap ‘hidup’ di tengah segala keterbatasan fasilitas penunjang dari pemerintah. Impian terus digantang.

Dedi Ahmad, Faizal Husain, Jafar dan kawan-kawan saat ini membuka "workshop"-nya di area Pasar Lawata. Bukan di dalam pasar dengan tempat yang layak. Mereka ngemper di area parkir Pasar Lawata dengan meja seadanya sebagai etalase yang dipayungi kain terpal dan sejumlah kain bekas spanduk sebagai dindingnya. Kondisi itu diperparah dengan jalan becek berlumpur di depan lapak jika turun hujan agak deras.

Keterbatasan itu tidak membuat mereka kehilangan semangat mengelola hobi yang sekaligus mata pencaharian. Meski tak seramai dulu, kehadiran komunitas pencinta batu akik dan batu mulia yang melapak dagangannya di emperan Pasar Lawata ini cukup semarak. Sesekali calon pembeli memegang batu akik yang diminati dan mengarahkannya ke cahaya matahari sembari bertanya kepada pedagang. Jika cocok, transaksi langsung dilakukan. Harganya dari puluhan ribu hingga ratusan ribu, bahkan juga jutaan rupiah.

Sore itu dengan bangga Dedi dan Jafar memamerkan sebagian koleksi batu akik miliknya. Ada jenis Maligano. Ada Ereke. Ada Giok Bau Bau. Mereka juga sempat memperlihatkan batu jenis Blue Saphir yang konon berharga setara mobil Toyota Avanza tipe tertinggi. Keinginan mereka tidak muluk-muluk. Mereka hanya ingin ada kepedulian pemerintah daerah karena aktivitas komunitas pencinta batu akik juga terkait erat dengan kekhasan Sulawesi Tenggara, khususnya Kota Kendari.

Teman-teman perajin batu akik di Kendari juga membutuhkan bantuan mesin poles dan mesin pemotong batu agar kinerja mereka terbantu secara kualitas dan lebih cepat menyelesaikan pesanan pembeli.

Minimnya fasilitas peralatan pendukung produksi ini berimbas pada masih rendahnya nilai jual batu-batu khas Sulawesi Tenggara. Sebelum menjadi batu yang siap dipasarkan ke internasional, Maligano asal Kendari dikirim terlebih dulu ke Jawa untuk diproses. Batu itu kemudian diekspor ke Cina dengan nilai jual berkali lipat dari awal.

Seandainya mereka mendapat bantuan peralatan, promosi, hingga penyediaan lokasi/sentra penjualan dari pemerintah daerah, ceritanya pasti berbeda dengan kondisi saat ini. Perajin batu akik di Kendari ini seperti 'anak tiri' yang kurang mendapat kasih sayang orangtuanya.

Saya membayangkan jika para perajin dan pedagang batu akik di Kendari ini difasilitasi oleh pemerintah dengan menyediakan tempat khusus untuk mereka menggelar komoditasnya yang lebih baik dibanding sekarang ini.

Dalam benaknya saya muncul ide seandainya di pelataran Masjid Al Alam setiap hari Jumat digelar festival batu akik khas Sulawesi Tenggara, mulai pagi hingga sore dan tentu saja aktivitas harus berhenti saat pelaksanaan Salat Jumat.

Sebagai ikon Kendari dan Sulawesi Tenggara, Masjid Al Alam selalu menjadi jujugan wisatawan yang berkunjung ke Kendari. Kita sodori para wisatawan ini dengan produk khas Sulawesi Tenggara, salah satunya batu akik Maligano dan Ereke.

Di Kabupaten Belitung Timur, para perajin dan pedagang batu akik mendapat rangkulan pemerintah setempat. Ketika Basuki Tjahja Purnama alias Pak Ahok menjabat Bupati Belitung Timur, beliau menyediakan sebuah gedung yang khusus dijadikan sebagai sentra batu akik.

Saya yakin jika festival batu akik di Masjid Al Alam ini rutin digelar dan memiliki kontinyunitas, ke depan bakal menjadi ikon baru Kendari dan Sulawesi Tenggara sebagaimana Jember Fashion Carnaval (JFC), sebuah festival fashion show jalanan yang digelar di Kabupaten Jember, Jawa Timur.

Batu Maligano sering pula disebut sebagai akik porselen asal Sulawesi Tenggara, tepatnya dari Kabupaten Muna. Jafar menjelaskan jika pada umumnya Maligano berbahan keras, solid, dan mengkilap seperti porselen dengan teksturnya lembut dan tidak kristal (badar). Selama ini, Maligano sudah masuk dalam daftar kelas kontes gemstone yang digelar di kota-kota di Indonesia. Pasar batu akik dari Cina sangat menggemari Maligano. Di pasaran harga Maligano jadi yang siap dipasang menjadi mata cincin mencapai US10. Kata Jafar harga itu jauh lebih mahal daripada nikel yang hanya Rp40.000 per meter kubik.

Lain halnya dengan batu Ereke. Batu ini berasal dari Pulau Buton, khususnya daerah utara. Satu batu biasanya terdiri dari berbagai warna, sehingga sering juga disebut Pancawarna Ereke. Ada kuning berpadu dengan hitam, hijau serta merah muda dan warna lain. Harganya? Sebongkah Ereke yang belum diasah ukuran sekitar 15x5 cm dihargai sekira Rp50.000. Sementara yang sudah diasah dijual Rp50.000 per butir. Tapi jika sudah dilengkapi dengan ring harganya bisa di atas Rp100 ribu.

Sayangnya masyarakat Sulawesi Tenggara belum terlalu mengekspose batu khas daerahnya. Bisa jadi masyarakat belum menyadari potensi keindahan dan nilai ekonomis Maligani dan Ereke. Pemerintah daerah seharusnya memberi ruang untuk mempromosikan batu-batu khas setempat. Tidak bisa dipungkiri, Maligano memang indah dan pantas dikoleksi. Sudah saatnya, masyarakat lokal mempromosikan Maligano agar menjadi suvenir khas Sulawesi Tenggara hingga kita tak malu lagi mengucap #kusukakendari. (*)

Sitya Giona Nur Alam
Ketua DPW Garda Wanita Malahayati NasDem Sulawesi Tenggara
Komentar