Pemilik eks Bank Aspac Sesalkan Penyitaan Aset RBD oleh Satgas BLBI

PENYITAAN ASET BRD : Suasana seremonial sita aset BRD yang dilakukan Satgas BLBI di pelataran Bogor Raya Golf, Rabu (22/6/2022). Peristiwa itu menuai keprihatinan sekitar 1000 karyawan BRD, yang terancam menganggur. (istimewa)

KANALSATU - Pemilik eks Bank ASPAC menyesalkan penyitaan aset milik PT Bogor Raya Development (BRD), yang dilakukan Satgas BLBI, karena dinilai sangat ceroboh.

Penyesalan itu disampaikan Setiawan maupun Hendrawan, salah satu pemilik PT Bank Asia Pasific (Aspac), melalui Didi Supriyanto, yang menjadi kuasa hukum keluarga Harjono, melalui siaran pers yang diterima KanalSatu.Com, Kamis (23/6/2022).

Seperti ramai diberitakan, Satuan Tugas Penanganan Hak Tagih Negara Dana Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (Satgas BLBI), telah melakukan penyitaan aset milik PT BRD.

Tepatnya  aset PT BRD yang disita itu berada di Kawasan Bogor Raya Golf, Sukaraja, Bogor, Jawa Barat, dilakukan Rabu, 22 Juni 2022.

Langkah Satgas BLBI itu mendapat reaksi keras dan sangat disesalkan oleh Setiawan Harjono dan Hendarawan Harjono.

Setiawan maupun Hendrawan adalah salah satu pemilik PT Aspac, yang 'diduga' oleh Satgas BLBI memiliki keterkaitan dengan PT BRD, yang menguasai tanah seluas 89,01 hektare, berupa lapangan golf Bogor Raya, serta Hotel Ibis Style dan Novotel di pinggir Jalan Tol Bogor Selatan.

Baik Setiawan maupun Hendrawan  melalui Didi Supriyanto yang menjadi kuasa hukum Keluarga Harjono, mengaku sangat terkejut dengan langkah Satgas BLBI itu.

Alasannya, karena dinilai tidak bisa membedakan mana aset yang menjadi milik obligor, ataupun aset yang dimiliki pihak lain, yang tidak terkait sama sekali dengan obligor.

Menurut Didi, Setiawan dan Hendrawan yang sejak awal telah bersikap kooperatif dengan  pemerintah, dalam hal ini Badan Penyehatan Perbankan Nasional/BPPN, mengenai besarnya estimasi jumlah kewajiban pemegang saham PT Bank Aspac sebesar Rp1,2 triliun di 27 Februari 2004, tentu saja merasa terperanjat dengan penyitaan aset BRD. 

Karena menurut kuasa hukum itu, tidak ada hubungan sama sekali antara Aspac maupun pribadi mereka dengan BRD. 

BRD dijelaskan Didi, bukan obligor BLBI apalagi termasuk jaminan dalam rangka pemenuhan kewajiban kepada Pemerintah. 

Didi sisi lain kata dia, Baik Setiawan dan Hendrawan akan tetap memegang janjinya untuk membayar kewajiban Bank Aspac, asalkan nilainya mempunyai perhitungan yang jelas, transparan serta akuntabel. 

"Jangan lupakan juga aset-aset milik Bank Aspac yang disita dan telah dialihkan Pemerintah dengan melanggar prinsip good governance tanpa pijakan nilai lelang yang jelas.,” tegas kuasa hukum itu.

Menurut Didi, langkah penyitaan aset BRD diibaratkannya sebagai cara membabi buta dan ceroboh, yang menyamaratakan antara obligor yang bertanggungjawab dengan obligor yang 'mengemplang' hutang. 

"Atas kerugian yang mungkin timbul akibat langkah penyitaan aset BRD yang dilakukan Satgas BLBI, bukan menjadi tanggungjawab Setiawan maupun Hendrawan," tegas Didi.

Sebelumnya Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum dan Keamanan (Menkopolkam) Mahfud MD, bersama Kepala Bareskrim Mabes Polri Komjen Pol Agus Andrianto dan Kepala Satgas BLBI Rionald Silaban, menghadiri acara sita aset BRD yang dikemas dengan 'mewah' dan 'kolosal' di pelataran Bogor Raya Golf.

Seperti menjadi panggung pembuktian keberhasilan Satgas BLBI, acara pemasangan papan penyitaan dilakukan dengan seremoni.

Seremonial itu tidak urung mengundang keprihatinan dari 1000 karyawan Bogor Raya Golf, yang merasa ketidakpastian masa depan penghidupannya. (ard)

Komentar