Abon Sambel Klotok Ning Niniek, Permintaan Ekspor Makin Tinggi Saat Pandemi

Sri Wahyuni menunjukkan produk abon sambel bikinannya.

 

KANALSATU - Coba bayangkan... Nasi putih hangat yang masih mengepulkan uap disandingkan dengan sambel ikan klotok, ditambah lalapan atau kerupuk. Apalagi jika dinikmati saat hujan seperti sekarang ini. Cita rasa sambel klotok yang pedas dan asin gurih akan membangkitkan selera makan hingga tanpa terasa nasi di piring pun tandas. 

Kesibukan karyawan yang mengemas botol-botol sambel ke dalam kardus mulai berdenyut kembali di tempat usaha Sambel Klotok Ning Niniek yang berlokasi di Siwalankerto, Surabaya. Berbeda dengan sambel lainnya, sambel yang diolah Sri Wahyuni ini diolah menyerupai abon yang sedikit basah. Resep ini menurutnya merupakan makanan kegemaran keluarga. 

Usaha membuat abon sambal klotok ini sudah dimulai Niniek-sapaan akrab Sri Wahyuni sejak tahun 2017. Produksi sambal ketika itu hanya dilakukan di akhir pekan karena ia masih aktif menjadi Aparat Sipil Negara (ASN) Pemerintah Kota Surabaya. Penjualan pun hanya berdasarkan pesanan. 

Karena melakukan semuanya sendiri, produksi abon sambal klotok hanya bisa mencapai sekitar 35 botol per hari. Semua dilakukan sendiri mulai dari mengupas kulit ikan klotok, menyuwir dagingnya hingga  menggorengnya sampai kering. 

Seiring meningkatnya permintaan, Niniek akhirnya mengajak beberapa orang ibu-ibu yang tinggal di sekitar rumahnya untuk membantu produksi. Dengan semakin meningkatnya permintaan, pada 2018 Niniek akhirnya memutuskan fokus membesarkan usahanya.

Perempuan asli Surabaya ini pun semakin giat meningkatkan ilmu serta mengembangkan pasar, mengurus legalitas untuk produk makanan serta mengembangkan kemampuan manajerial. Apalagi saat itu sudah ada karyawan yang menggantungkan hidupnya pada usaha abon sambel yang ia rintis.  

Meskipun banyak digemari, Niniek juga memahami bahwa ikan klotok atau ikan asin dikenal mengandung formalin sehingga bisa berbahaya bagi kesehatan tubuh. Akhirnya ia pun bergerilya mencari distributor ikan klotok yang bisa berkomitmen tidak menggunakan formalin dalam proses produksinya. Meskipun sedikit lebih mahal, Niniek tidak mempermasalahan demi keamanan dan kesehatan konsumen. 

Dengan komitmennya memproduksi abon sambel klotok yang nikmat namun tetap aman dikonsumsi, produknya semakin diterima pasar. Selain konsinyasi dengan beberapa toko oleh-oleh, permintaan ke beberapa daerah seperti Jakarta, Bali, Jogja, Batam dan Makassar juga semakin deras mengalir. 

Seiring permintaan pasar, ia pun mengembangkan produknya menjadi delapan varian. Mulai dari sambel tuna, sambel roa, abon tuna, sambel udnag, chilli oil dan ebi serta sambel tuna asap. Dan tentunya abon sambel klotok yang menjadi andalannya. 

Abon sambel yang ia produksi menurutnya banyak menjadi pilihan mereka yang pergi berhaji, umroh atau travelling. ”Mereka butuh makanan pendamping. Gak cuma sambel. Nah abon sambel klotok ini kan sudah ada ikannya sekaligus. Selain itu, jika membawa sambal, biasanya suka tumpah dan mengotori kompor. Karena itu mereka lebih suka sambel berbentuk abon ini,” ujarnya. 

Menembus Pasar Mancanegara

Saat akan serius menggarap usaha abon sambel klotok ini, Niniek sebenarnya sempat dihantui keraguan. ”Biasanya sambel klotok ini penggemarnya hanya ibu-ibu atau orang tua karena dianggap kurang berkelas,” ujarnya. Padahal harga ikan klotok bisa lebih mahal dari ayam. 

Karena itu ia berusaha meningkatkan image sambal klotok. Salah satunya membuat kemasan yang lebih menarik agar bisa diterima di kalangan anak muda, termasuk mahasiswa. 

Dengan konsistensi rasa produknya, sejak 2019 abon sambel Niniek sudah berhasil menembus Hong Kong dengan permintaan rata-rata 100-400 botol per minggu. Termasuk juga melayani permintaan reseller dari Australia, Jerman, Singapura dan Jepang. 

Niniek mengungkapkan, penjualan produknya selama pandemi memang mengalami naik turun. Sempat drop di awal pandemi, penjualan kembali meningkat ketika semakin banyak orang yang enggan keluar rumah dan membutuhkan makanan siap saji di rumah. 

”Di awal pandemi, sekitar Maret-April saya itu sempat bingung karena barang-barang yang ada di toko dikembalikan semua. Saya baru taruh 500 botol, sisa 300 dikembalikan semua. Akhirnya bareng beberapa UMKM lain, kami bersama-sama membagikan produk-produk yang dikembalikan oleh toko ke masyarakat umum,” jelasnya.

 

Bermula Dari Kekurangan Botol

Sempat terpukul karena penjualan drop, asa Niniek kembali bangkit ketika ia menerima orderan dari Hongkong hingga 4000 botol sambel yang harus dipenuhinya dalam waktu dua minggu. Permintaan ini tentu membuatnya pontang panting. Mulai toko sampai pabrik ia datangi untuk mendapatkan botol yang ia butuhkan. Namun semuanya kosong. 

Dari informasi yang ia dapatkan, ternyata Pertamina memborong ribuan botol dari pabrik. ”Ternyata katanya diborong Pertamina untuk UMKM binaannya yang produksi minuman herbal. Dari situ saya kepikir, wah sampai begini ya perhatiannya Pertamina ke UMKM binaannya. Di satu sisi saya sebal karena susah dapat botol, tapi di sisi yang lain juga salut dengan Pertamina,” kata Niniek. Bermula dari situ, ia pun mencari tahu syarat menjadi UMKM Pertamina. 

Proses demi proses menjadi UMKM binaan Pertamina pun ia jalani. Hingga akhirnya ia menerima bantuan modal Rp200 juta yang ia gunakan untuk merenovasi tempat usaha, meningkatkan kapasitas serta melengkapi legalitas yang disyaratkan sejumlah negara. 

Selain permodalan, dengan menjadi mitra binaan Pertamina, ia juga mendapatkan pendampingan dan upskilling di bidang keuangan, manajemen, marketing, promosi dan lain-lain. 

Ia berharap di tahun ini produknya bisa menembus negara-negara Timur Tengah karena banyak orang Indonesia yang tinggal di sana. Selain itu, Niniek juga meluncurkan kemasan baru yaitu dalam bentuk sachet. Kemasan ini menurutnya lebih banyak diterima di kalangan pondok pesantren. 

Berawal dari usaha rumahan, abon sambel klotok bikinan Niniek kini secara perlahan mulai mendunia. KS-5)

Komentar