Cinta dan Totalitas Suporter Jawa Timur di PON Papua 2021

Andi Baso Suherman (celana pendek) diapit Ketua KONI Jatim dan Ketua Harian

KANALSATU – Cinta dan totalitas supporter dalam mendukung kontingen Jawa Timur diperhelatan Pekan Olahraga Nasional (PON) XX Papua 2021 patut diacungi jempol. Kesuksesan seorang atlet meraih medali emas memang tak lepas dari peran seorang pelatih dan official, tapi jangan dilupakan hadirnya supporter atau yang dikenal sebagai pemain keduabelas istilahnya di sepakbola bisa mempengaruhi segala hal.

Totalitas adalah suatu tuntutan yang harus dilakukan dengan baik dalam hal apapun. Totalitas dalam berpikir, berbicara dan juga totalitas dalam berbuat. Totalitas dapat diwujudkan dalam berbagai cara, salah satuya adalah totalitas dalam mendukung tim kebanggaan atau atletnya dengan maksimal tanpa setengah-setengah. Meskipun tim atau atletnya dalam kondisi sedang tidak stabil atau kalah maupun ketika tim sedang meraih kemenangan. 

Berbicara tentang kesuksesan atlet atau cabor dalam meraih prestasi tidak hanya tentang unsur internal saja seperti tim dan pengurus di dalamnya, tetapi ada unsur eksternal yang tidak kalah penting dan juga cukup mempengaruhi performa tim yaitu suporter. Keduanya merupakan unsur yang saling terkait dan tidak bisa dipisahkan. 

Mendukung atlet kesayangan atau tim yang sedang berlaga tentu terdapat nilai penting dan berarti yaitu cinta dan totalitas. Suatu yang mustahil jika totalitas dukungan tanpa ada rasa cinta, karena keduanya saling berhubungan, karena harus ada rasa cinta terlebih dahulu agar bisa totalitas dalam mendukung tim. 

Totalitas dan kecintaan suporter terhadap tim kebanggaan atau atletnya yang sedang bertanding diwujudkan dengan berbagai macam cara. Tentunya dengan cara-cara positif dan kritik yang membangun demi kemajuan dan tentunya untuk meraih kemenangan dengan cara yang elegan menjunjung tinggi sportifitas.

Andi Baso Suherman, Penanggung jawab supporter Jawa Timur di PON XX Papua 2021 mengungkapkan bahwa bukan urusan gampang untuk bisa menjadi “pemain keduabelas” dalam memotivasi semua atlet yang sedang bertanding atau berlomba agar bisa meraih hasil maksimal. Dan tidak semua venue atau kontingen bisa menerima kehadiran supporter Jatim dengan baik, menurutnya, bagaimanpun kehadiran supporter bisa mempengaruhi animo pertandingan atau perlombaan bahkan bisa membuat down lawan.

“Apapun yang terjadi di lapangan kita semua sudah siap baik mental dan psikis. Cinta dan totalitas supporter tetap akan all out mendukung serta memotivasi agar semua atlet Jatim bisa bermain maksimal. Tujuan kita hadir di Papua untuk memotivasi bukan membuat suasana tidak kondusif, agar para atlet bisa berprestasi setinggi langit meraih medali emas untuk Jawa Timur,” jelasnya.

Baso juga menambahkan bahwa tidak mudah untuk mengerahkan sejumlah supporter dalam jumlah yang lumayan besar, apalagi untuk memobilisasi supporter dari venue sat uke venue lainnya. Tak hanya kondisi Kesehatan yang harus diutamakan, factor keamanan dan koordinasi antar cabor juga harus dipikirkan dan membutuhkan strategi yang khusus.

“Karena masih dalam kondisi pandemic Covid-19, factor kesehatan menjadi prioritas utama, fatal akibatnya jika kita lalai akan protocol Kesehatan. Selain itu koordinasi jadwal pertandingan antar cabor menjadi perhatian khusus, kita berharap bisa hadir disemua laga yang dipertandingkan atau diperlombakan agar atlet Jatim bisa maksimal,” ulasnya.

Sinyo Devara Noumanto, koordinator supporter selama di PON Papua juga mengungkapkan bahwa untuk bisa menjalin koordinasi yang bai kantar supporter di Jawa Timur dan local (yang berada di Papua) butuh waktu dan pendekatan secara psikologis. “Kami disini saling bersinergis bagaimana Jawa Timur bisa meraih sukses di PON Papua 2021 ini, tentu chemistery harus dibangun dengan baik dan itu semua butuh waktu tidak instan,” ungkapnya.

Senada, Ketua Harian Koni Jawa Timur sekaligus ketua kontingen PON XX Papua 2021, Muhammad Nabil mengapresiasi supporter dalam mendukung kontingen Jatim berlaga, bahkan kehadirannya memompa adrenalin para atlet agar bisa memberikan yang terbaik berupa medali emas.

“Kami yang ada di tribun saja merasa tersemangati, apalagi para atlet yang berjuang. Mereka (supporter) seakan bisa merubah jalannya lomba atau pertandingan disaat banyak tekanan baik dari dalam diri atlet itu sendiri maupun dari lawan. Jatim sangat diuntungkan sekali, sesuatu yang gak mungkin bisa saja terjadi, seperti yang terjadi dicabor Voli Pantai, dan kita berhasil meraih emas. Bulutangkis, takraw dan masih banyak cabor lain yang selalu minta dukungan para supporter,” ungkapnya.

Nabil juga menambahkan bahwa kehadiran supporter Jawa Timur bukan untuk menciptakan suasana yang destruktif tapi kondusif. Perspektif negative selama ini sirna bahkan rasa persaudaraan antar kontingen dan supporter semakin terjalin erat. Nyanyian dan pujian semakin mencairkan suasana di tengah persaingan untuk menjadi yang terbaik bisa menyumbangkan medali emas buat kontingennya.

“PON Papua adalah ajang silaturahmi bukan ajang permusuhan di tengah persaingan mengejar prestasi. Kalau selama ini kita terkotak-kotak akhirnya lebur jadi satu, terutama buat supporter Jawa Timur itu sendiri. Nggak ada yang Namanya Bonekmania, Aremania, Kacongmania semua lebur demi mengangkat nama Jawa Timur,” pungkasnya. (ks/7)

 

Komentar