Produsen Tissue Asal Mojokerto Ini Terus Tingkatkan Ekspor

Presiden Direktur PT Sun Paper Source Ventje Hermanto (tiga dari kiri), Wakil Menteri Perdagangan Jerry Sambuaga (tiga dari kanan), Wakil Gubernur Jatim Emil Elestianto Dardak (dua dari kanan) saat pelepasan ekspor tisu produksi PT. Sun Paper Source di Mojokerto, Kamis (10/6/2021).

KANALSATU - PT. Sun Paper Source melepas ekspor 136,3 ton tisu dari Ngoro, Mojokerto, Kamis (10/6/2021). 11 kontainer berisi parent roll dan finished good tisu diberangkat ke Malaysia, Amerika Serikat, Australia dan Jamaica.

Selama ini produsen tisu yang ada Ngoro, Mojokerto ini mengekspor tisunya ke lebih dari 80 negara di dunia. Menjadi produsen tisu kedua terbesar di Asia Tenggara.

Sun Paper Source mencatat kenaikan ekspor 6% sepanjang tahun 2020, dan lonjakan ekspor di Maret 2021 sebanyak 37,16% dibanding Februari 2021.

Presiden Direktur PT Sun Paper Source Ventje Hermanto mengemukakan, saat ini ada dua poin penting tantangan yang dihadapi saat ini, yakni masalah kenaikan freight dan kelangkaannya, serta regulasi impor bahan baku. “Tentu ini akan membuat harga tisu menjadi tidak kompetitif dibanding negara lain yang masih rendah harga freight-nya. Daya saing jadi berkurang di pasar global,” jelas Ventje.

Padahal apabila kendala dan tantangan yang dihadapi eksportir dan produsen tisu dapat diurai satu per satu oleh pemegang kebijakan, potensi Indonesia untuk menjadi motor industri tisu dunia sangatlah besar.

Laporan Fastmarket RISI 2021, menyebutkan kenaikan ekspor tisu dari Indonesia (kumulatif semua eksportir tisu) sebanyak 122.000 ton (18%). Dari 676.000 ton pada 2019 ke 798.000 ton pada 2020. Produk tisu dalam bentuk parent roll buatan Indonesia mendominasi di Asia Pasifik.

Dalam kesempatan tersebut, Wakil Menteri Perdagangan Jerry Sambuaga dan Wakil Gubernur Jatim Emil Elestianto Dardak ikut melepas ekspor tersebut. Pelepasan ini sekaligus mengapresiasi kinerja eksportir yang terus tumbuh meski diterpa pandemi covid-19.

Jerry Sambuaga menyebutkan dalam sambutannya, neraca perdagangan surplus di tahun 2020 sebanyak 21,74 Milyar USD. Bahkan April 2021 juga mengalami lonjakan.

Kondisi ini patut disyukuri tapi tetap waspada. “Kita tetap harus mengembangkan apa yang bisa kita ekspor dengan produk-produk ekspor yang tepat sasaran, seperti kertas tisu. Ini saya pikir menjadi salah satu penyemangat kita. Menjaga neraca perdagangan surplus,” ungkapnya,

Menanggapi isu kenaikan freight, amendag Jerry Sambuaga membeberkan sejumlah kinerja untuk mendorong produk Indonesia di pasar global. Permasalahan Freight tidak dapat dituntaskan sendirian oleh Kementerian Perdagangan, sehingga pihaknya akan terus intens berkomunikasi dengan Kementrian Perhubungan dan lobi-lobi perjanjian dagang internasional.

Kinerja yang saat ini sedang ditingkatkan terus adalah Free Trade Agreement. Dengan perjanjian dagang biaya masuk nol, harga produk Indonesia akan lebih kompetitif.

“Tahun ini sudah selesaikan lebih dari 23 perjanjian dagang. Tambahan 12 sedang on going, seperti dengan chile, negara EFTA dan Uni Eropa. Tadi disebutkan Pak Ventje soal ekspor ke Pakistan juga masih ada biaya masuk, ini akan kita kerjakan,” jelasnya.

Daftar jenis barang pun juga terus ditambah. Dia menyebutkan sejauh ini untuk ekspor ke Australia sudah 7000 daftar dan Hongkong sudah ada 5000 daftar.

Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak menyampaikan semangat yang sama untuk ekspor. “Pak Wamen datang ke sini, menjadi pemicu semangat eksportir Jatim. Hampir seperempat industri di Indonesia ada di Jatim. Kami mendukung untuk semua pelaku industri ini berorientasi ke ekspor,” ujarnya. Dengan adanya perpres 80/2019 industri yang ada di Gerbangkertasusila bisa lebih kompetitif lagi. (KS-5)


Komentar