‘Azizah’, Sang Primadona dari Wonosalam

Menyortir biji kopi yang dilakukan ibu-ibu dari kelompok petani kopi di Wonosalam, Jombang.

 

 

KANALSATU - Kopi saat ini bukan sekadar minuman penahan kantuk. Bagi masyarakat urban, menikmati kopi kini juga sudah menjadi gaya hidup.

Indonesia sendiri dikenal sebagai gudangnya kopi. Masing-masing daerah memiliki varietas khusus yang memiliki kekhasan aroma dan rasa. Umumnya merupakan jenis Arabica atau Robusta. Padahal, selain kedua jenis tersebut, ada lagi jenis kopi yang unik dan jarang dijumpai di dunia yaitu kopi excelsa.

Di Indonesia, kopi excelsa dibudidayakan secara terbatas di Jambi, Kepulauan Riau dan Wonosalam, Kabupaten Jombang, Jawa Timur. Di Wonosalam sendiri, excelsa sering disebut Kopi Aziza, Kopi Azezah, atau Kopi Sesah.

Dengan semakin dikenalnya kopi Wonosalam, sejak 2018 eduwisata kopi di daerah ini semakin banyak dilirik wisatawan sebagai alternatif kegiatan pariwisata. Apalagi, secara lokasi Jombang juga tidak terlalu jauh dari Surabaya, Ibu Kota Provinsi Jawa Timur.

Jika menggunakan kendaraan pribadi, perjalanan ke Wonosalam bisa ditempuh hanya dalam waktu 2,5 jam saja. Selain itu, perjalanan ke Wonosalam juga bisa ditempuh dengan kendaraan umum. Dari Terminal Mojoagung tersedia bus kota ke Wonosalam dengan tarif cukup murah yaitu hanya Rp 5.000 saja.

Begitu tiba di Wonosalam, bagi yang ingin bermalam sudah tersedia beragam tipe penginapan. Mulai dari homestay yang dikelola warga setempat hingga hotel bernuansa Jawa dengan kolam renang berpemandangan perbukitan yang indah.

Wisata kopi biasanya dimulai dengan kunjungan ke kebun kopi. Di sini, aroma petualangan sudah terasa. Coba bayangkan. Untuk menuju kebun kopi, Anda akan dibonceng sepeda motor menyusuri jalan setapak dengan medan yang cukup membuat jantung berdebar. Dibutuhkan keahlian khusus untuk mengendalikan jalannya sepeda motor jika tidak ingin terperosok. Apalagi saat musim hujan yang menyebabkan jalanan licin.

Tidak berhenti di situ, perjalanan dilanjutkan dengan berjalan kaki selama beberapa menit untuk menuju kebun kopi. Untungnya udara hutan cukup sejuk hingga perjalanan tidak terasa terlalu melelahkan.

Bulan Mei hingga Juli merupakan waktu yang tepat untuk berkunjung ke Wonosalam karena kita bisa ikut memanen biji kopi yang sudah matang. ”Di kebun kita diajari bagaimana memetik biji kopi. Pertama, pilih yang warnanya merah. Kemudian memetiknya dengan cara memelintir,” ujar Andrian Farid, wisatawan asal Sidoarjo. Waktu yang berlalu tidak terasa ketika semua peserta asyik mengikuti proses panen dan memilih biji kopi berwarna merah yang sudah matang dan bisa dipetik.

Setelah selesai memanen, selanjutnya peserta diajak ke tempat pemrosesan buah kopi. Di sini, kopi yang sudah dipanen direndam, dikupas dan ijemur kemudian disortir.

Berwisata ke kebun kopi di Wonosalam baru pertama kalinya dilakukan Andrian. Selain untuk berlibur, ia dan beberapa orang teman memang berencana membuka kedai kopi di depan rumah. Karena itu ia tertarik untuk mengenal dan belajar tentang pemrosesan kopi. ”Kami berencana menjadikan kopi excelsa sebagai salah satu menu di warung kopi kami agar orang-orang tahu ada satu jenis kopi yang unik, langka dan jarang di dunia asal Jombang,” ujarnya.

Sebelum mengikuti tur ke kebun kopi, Andrian bersama dua orang rekannya bermalam di homestay di Kampung Adat Segunung. Dengan tarif Rp 75 ribu per orang, mereka sudah bisa mendapatkan kamar yang bersih dan nyaman serta sarapan dengan menu makanan khas Wonosalam seperti nasi tiwul, nasi jagung serta sayur dan lauk.

Bagi ketiga pemuda ini, berwisata ke Wonosalam memberikan mereka suatu pengalaman baru yang belum pernah dirasakan sebelumnya. Apalagi dengan kesejukan udara di Wonosalam yang begitu jauh berbeda dari kota asal mereka. “Kami sempat jalan-jalan pagi di kampung adat, sangat menyenangkan karena udaranya masih bersih dan sejuk,” ucap Andrian.

Selain biaya yang murah, pembayaran juga bisa dilakukan menggunakan QRIS. Dengan demikian pengunjung bisa bertransaksi dengan mudah, praktis dan aman.

Sekretaris Asosiasi Kopi Wonosalam, Muhamad Edi Kuncoro mengatakan, minat wisatawan yang berkunjung ke Wonosalam untuk mengikuti eduwisata kopi memang cukup tinggi. Dengan biaya Rp 100 ribu per orang, wisatawan bisa mengikuti kegiatan didampingi pemandu, mencicipi kopi dan makanan ringan khas Jombang serta mendapatkan satu bungkus kopi bubuk yang bisa dibawa pulang. ”Sebenarnya untuk biaya kami bisa fleksibel. Selain ke kebun kopi dan tempat pemrosesan, kami juga bisa membawa wisatawan ke tempat-tempat wisata lainnya yang ada di sekitar Wonosolam,” jelasnya.

Jika ingin merasakan pengalaman yang berbeda, pengunjung juga bisa mengikuti tur dengan mengendarai jeep. Biayanya tentu berbeda. ”Kalau pakai jeep, biayanya Rp 750.000 per orang. Satu jeep bisa diisi tiga orang, mendapatkan dua kali makanan ringan dan makan siang,” kata Edi.

 

Semakin Berkembang dengan Dukungan Bank Indonesia

Sebelum tahun 2016, Wonosalam lebih dikenal sebagai surga durian. Setiap tahun festival durian digelar di sini dan selalu sukses mendatangkan ribuan pengunjung dari berbagai daerah.

Namun sejak mulai meningkatnya minat masyarakat terhadap kopi, keberadaan Wonosalam sebagai penghasil kopi semakin dikenal. Selain Arabica dan Robusta, yang khas dari kopi Wonosalam adalah kopi excelsa. Tanaman yang berasal dari Afrika Barat ini dibawa Belanda ke Indonesia pada sekitar 1870-an. Sedangkan di Wonosalam, budidaya kopi excelsa baru dimulai sekitar tahun 1930.

Kopi excelsa memiliki aroma dan cita rasa yang lembut dan khas dengan kadar kafein di bawah kopi robusta. Bila dicampur dengan kopi lain, excelsa akan membantu meningkatkan kedalaman dan kekuatan rasa.

Menurut data Badan Pusat Statistik Kabupaten Jombang tahun 2019, luas panen tanaman kopi di Kecamatan Wonosalam sebesar 751 Ha dengan produksi 583 ton per tahun untuk semua jenis kopi. ”Meskipun sudah lama menanam kopi, namun di sini baru terasa bergeliat sekitar tahun 2016 seiring dengan menjamurnya kedai kopi apalagi setelah mendapat pembinaan dari Bank Indonesia,” ucap Edi.

Untuk mendukung pengembangan kopi lokal Wonosalam, BI memberikan berbagai fasilitas. Mulai dari bibit kopi, alat untuk proses produksi hingga pendampingan dari hulu ke hilir seperti pemasaran, kemasan, hingga keuangan dan managerial perusahaan. Beberapa orang petani kopi juga diajak ke Puslit Kopi dan Kakao di Jember untuk menimba ilmu mengenai budidaya kopi.

Sebelum ada pendampingan, petani melakukan pemetikan dan proses pasca panen secara asal-asalan sehingga tidak bisa menghasilkan biji kopi grade 1 yang tentunya juga berpengaruh pada harga. Tidak hanya dari sisi kuantitas, namun setelah mendapatkan pembinaan dari BI, kualitas kopi yang dihasilkan petani kopi Wonosalam semakin meningkat bahkan berhasil menembus pasar ekspor.

Dengan berkembangnya kopi khas Wonosalam serta wisata di daerah tersebut, secara tidak langsung kesejahteraan masyarakat juga ikut terangkat. Selain dari budidaya kopi, anak-anak muda Wonosalam juga tidak perlu mencari pekerjaan jauh dari rumah karena penyerapan tenaga kerja dari sektor pariwisata juga cukup bagus.

Pelaku Usaha Kecil Menengah (UKM) di Kota Jombang yang bergerak di bidang kopi, Muhammad Hasim mengatakan pihaknya sudah menjalin kerjasama dengan petani di Wonosalam sejak 2014. Selain membuka kedai kopi yang diberi nama Kedai Sufi, Hasim memiliki dua merk kopi yaitu Kopi Sufie dan Santrisu. Jika Kopi Sufi menggunakan kopi excelsa, merk Santrisu merupakan perpaduan dari excelsa dan robusta.

Melihat perkembangan kopi yang ada sekarang, ia berharap kopi asal Jombang bisa semakin berkembang. ”Kopi Excelsa ini hanya ada sedikit di dunia mestinya ini jadi keunggulan kita. Namun hingga kini belum ada standar pascapanen, roasting dan cupping untuk excelsa. Berbeda dengan robusta atau Arabica. Karena itu butuh kepedulian semua pihak mulai dari pemerintah, ahli kopi, pegiat kopi, kampus atau akademisi termasuk dari pusat penelitian kopi agar kualitas kopi excelsa Jombang ini semakin baik,” kata Hasim. (KS-5)

Komentar