Pertagas EJA Beri Pelatihan Tuli Mengaji Gunakan Metode Amakasa



KANALSATU - Mengaji menjadi sarana manusia untuk mendekatkan diri kepada Sang Pencipta melalui bacaan-bacaan ayat suci Al Qur’an. Sejak kecil, umumnya anak-anak muslim sudah diajarkan mengaji oleh orangtua maupun melalui kelompok TPA (Taman Pendidikan Al Qur’an).

Dengan demikian, tidak heran kalau kegiatan belajar mengaji sangat melekat dalam proses tumbuh kembang anak.

Namun bagaimana proses belajar mengaji bagi anak penyandang tuna rungu? Mengaji tentu menjadi sebuah tantangan tersendiri baik bagi anak-anak penyandang tuna rungu maupun bagi para orangtua dan tenaga pendidik.

Untuk menjawab keresahan tersebut, UPT Resource Center Gresik bekerjasama dengan PT Pertamina Gas Operation East Java Area (Pertagas EJA) mengadakan kegiatan Pelatihan Membaca Al Qur’an Isyarat dengan Metode Amakasa. Metode Amakasa sendiri adalah cara membaca Al Qur’an dengan memadukan tiga konsep untuk merehabilitasi pendengaran dengan bina persepsi bunyi dan irama melalui kata lembaga.

Kegiatan Pelatihan Membaca Al Qur’an Isyarat dengan Metode Amakasa ini dilaksanakan selama 2 hari yaitu hari Senin dan Selasa (3 – 4 Mei 2021) bertempat di Aula Kantor UPT Resource Center Gresik. Kegiatan diikuti 20 orang anak-anak serta orangtua atau pendamping dari SD, SMP dan SLB di Gresik.

Pada kesempatan ini turut hadir pula Wakil Bupati Gresik, Aminatun Habibah.

Salah satu pelopor lahirnya Metode Amakasa, Innik Hikmatin menyampaikan, metode ini sukses membantu anak-anak tuna rungu dalam membaca Al Quran.

“Kegiatan Tuli Mengaji ini sebagai bentuk nyata bahwa anak-anak penyandang tuna rungu juga bisa ikut melafalkan ayat-ayat Al Qur’an namun tentu dengan cara mereka sendiri. Kemampuan mereka tidak kalah dari anak-anak normal lainnya,” ujar Innik.

Kegiatan Tuli Mengaji merupakan bagian dari Program Pemberdayaan Masyarakat Daya Krida Gresik yang dijalankan oleh Pertagas EJA selaku afiliasi dari Subholding Gas PT PGN Tbk dengan kelompok sasaran yaitu Komunitas Tuli Gresik (Kotugres). Program ini sudah berjalan sejak tahun 2019 dan berhasil membina 26 orang penyandang tuli dalam bidang menjahit, menyablon, dan pembuatan kerajinan tangan.

Inovasi program terus dijalankan oleh Pertagas EJA bersinergi dengan berbagai pemangku kepentingan (stakeholder) untuk menciptakan peluang baru dan membuktikan bahwa penyandang tuli juga memiliki kesempatan yang sama dalam mencapai kemandirian secara ekonomi maupun sosial. (KS-5)
Komentar