TNI AU paksa mendarat pesawat asing

Penerbang AL Amerika Serikat Letkol James Patrick Murphy dipaksa mendarat di Bandara Juwata, Tarakan, karena melanggar wilayah udara Indonesia saat menerbangkan Cessna bernomor lambung N96706. (Foto:Pendam VI/Mulawarman)

KANALSATU - TNI Angkatan Udara memaksa sebuah pesawat asing untuk mendarat di Bandara Juwata, Kota Tarakan, Provinsi Kalimantan Utara, Senin (9/11/15), pukul 14.31 Wita. Pesawat itu diidentifikasi jenis Propeller First Engine Cessna bernomor lambung N96706 yang dipiloti seorang penerbang Angkatan Laut Amerika Serikat Letnan Kolonel James Patrick Murphy.

“TNI AU memaksa pesawat asing tersebut mendarat karena tanpa izin memasuki wilayah kedaulatan udara NKRI,” kata Kepala Penerangan Komando Daerah Militer VI/Mulawarman Kolonel (Inf) Andi Gunawan di Balikpapan, Provinsi Kalimantan Timur, Senin.

Operasi penurunan paksa pesawat itu, katanya, dilakukan menggunakan dua pesawat Sukhoi milik TNI AU dari Komando Pertahanan Udara Nasional Skadron Makassar dengan Pilot Mayor Penerbang Anton Pallaguna dan Mayor Penerbang Baskoro.

Pesawat yang diawaki Patrick Murphy tersebut sebelumnya diketahui melintas di wilayah perbatasan udara Indonesia-Malaysia-Filipina dan terpantau Radar TNI AU. “Pilot pesawat asing itu kini masih berada di ruang BO AirNav Bandara Juwata untuk diinterogasi secara tertutup oleh Pangkalan TNI AU Tarakan.”

Menurut Andi, di Tarakan tidak ada pesawat tempur dan yang siaga beroperasi hanya satuan Radar 225 Mabes TNI. “Namun, jika hasil operasi pantau udara lewat radar kita tersebut menangkap sinyal pesawat lewat tanpa kode atau identitas, maka dianggap sebagai pelanggaran wilayah udara suatu negara.”

Satuan Radar 225 Tarakan langsung melaporkan adanya objek terbang tanpa kode identitas ke Markas Komando Sektor Pertananan Udata Nasional di Makassar, Provinsi Sulawesi Selatan, dan pesawat TNI AU dari Skadron Tempur Makassar langsung melakukan pengejaran.

Pilot pesawat itu, kata Andi, anggota Angkatan Laut Amerika Serikat yang sedang cuti. Dia terbang dari Hawai ke Filipina dan rencananya hendak menuju Singapura, tapi tertangkap radar karena melanggar batas wilayah udara Indonesia.

“Info terakhir, penyelidikan yang dilakukan Pangkalan TNI AU Tarakan sudah selesai. Kini tinggal tunggu hasil koordinasi tentang keputusan dari Kementrian Luar Negeri RI. Apakah izin terbang yang bersangkutan tersebut diubah atau tidak,” kata Andi.(win10)

Komentar