GAR ditengarai caplok 20 hektare hutan Papua

JAKARTA (WIN): Golden Agri Resources (GAR) ditengarai menyaplok 20 hektare lebih hutan di Papua. Pasalnya, pelepasan hutan ke pihak GAR tanpa sepengetahuan dan izin dari Kementrian Kehutanan (Kemenhut). "Saya tidak pernah mengeluarkan izin untuk Sinar Mas. Tidak ada izin," kata Menteri Kehutatan, Zulkifli Hasan di Jakarta, Rabu (24/7/13).

Sebelumnya, berdasarkan laporan Greenomics, yang dipublikasi 27 Juni 2013 menyebutkan, GAR yang merupakan kelompok usaha Sinar Mas mengklaim sudah mendapatkan izin pelepasan sebagian kawasan hutan Papua, yang berlokasi di Kabupaten Jayapura seluas 20.143,30 hektare pada akhir Juli 2012.

Namun ternyata, hutan tersebut masuk ke dalam areal Penundaan Izin Baru pada Hutan Primer dan Lahan Gambut (peta moratorium), seperti tertuang dalam Instruksi Presiden Nomor 10 Tahun 2011 tanggal 20 Mei 2011.

Cara satu-satunya untuk meneruskan proses pelepasan kawasan hutan adalah dengan mengeluarkannya dari peta moratorium, yang secara legal memang dimungkinkan karena telah mendapatkan izin prinsip sebelum diterbitkannya peta moratorium. 

"Akhirnya, pada peta moratorium revisi I yang diterbitkan oleh Menteri Kehutanan pada 22 November 2011, calon areal sawit anak usaha GAR tersebut sudah dihapuskan dari areal moratorium," ungkap Direktur Eksekutif Greenomics Indonesia, Elfian. 

Menurut Elfian, mayoritas hutan Papua yang dilepas untuk ekspansi sawit GAR tersebut masih baik tutupan lahannya. Dimana lebih dari 76% merupakan areal berhutan. Berdasarkan data shape file peta moratorium hasil interpretasi Kementerian Kehutanan tahun 2000, 2003, 2006, dan 2009, areal tersebut merupakan hutan primer. "Makanya, relevan mengapa areal tersebut sempat dimasukkan ke dalam peta moratorium," papar Elfian.(win6)

Komentar