FinPlus dan Jembatan Emas Kenalkan Fintech P2P Lending ke Mahasiswa Palu



KANALSATU - Pandemi Covid-19 yang tengah terjadi di seluruh dunia saat ini sangat berdampak kepada sektor ekonomi. Sebagian besar bisnis sudah mulai terdampak, baik perusahaan besar, bisnis mikro maupun individual.

Kendati terdampak pandemi Covid-19, Fintech lending tetap mampu merealisasikan akumulasi pinjaman signifikan. Lonjakan tersebut didukung oleh kenaikan akumulasi rekening dan transaksi baik dari pemberi dana dan peminjam dana.

Tren kenaikan tersebut terus berlanjut hingga April 2021 dengan nilai akumulasi penyaluran pinjaman nasional mencapai Rp 182,62 triliun dengan nilai outstanding pinjaman mencapai Rp 20,61 triliun.

Untuk memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai fintech resmi dan ilegal, kampanye untuk mengajak masyarakat tidak menggunakan layanan pinjaman online ilegal juga terus dilakukan.

Sebuah gerakan yang melibatkan asosiasi, pelaku fintech pendanaan legal, dan masyarakat untuk memberi edukasi sangat diperlukan agar masyarakat secara luas memiliki pemahaman yang baik dalam menggunakan layanan fintech pendanaan agar terhindar dari jeratan pinjaman online ilegal.

Untuk mendukung upaya tersebut, platform fintech Peer to Peer (P2P) lending terdaftar dan diawasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK) PT Rezeki Bersama Teknologi (FinPlus) dan PT Akur Dana Abadi (Jembatan Emas)
menyelenggarakan talk show dengan mahasiswa Universitas Tadulako secara daring untuk mengenalkan industri fintech peer-to-peer lending serta pemahaman inovasi yang dilakukan fintech untuk tetap melayani masyarakat selama masa pandemi, Jumat (23/7/2021).

Business Development Jembatan Emas,
Ezra Felix J.M berharap adanya kehadiran layanan dari fintech P2P lending mampu meningkatkan pengetahuan terkait layanan keuangan berbasis digital dan membuka akses finansial ke seluruh lapisan masyarakat melalui model bisnis fintech lending terutama untuk UMKM.

Sedangkan Marketing Komunikasi Manager FinPlus Yulia Inggit Palupi menambahkan, dengan adanya edukasi daring ini, diharapkan masyarakat Palu dapat memanfaatkan layanan produk P2P lending untuk kebutuhan dalam menghadapi masa pandemi dan tetap waspada terhadap fintech ilegal.

Untuk memboikot pinjam online illegal dan menciptakan budaya yang bertanggung jawab sosial, Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI) turut berkampanye menyuarakan Gerakan 5M, yakni Mengabaikan iklan menggiurkan dan pinjaman dengan bunga besar, Melakukan pengecekan pinjaman dari situs resmi OJK dan AFPI,
Memastikan Legalitas dan rekam jejak digital platform pinjaman online, Meneliti syarat dan ketentuan pinjaman serta Mewaspadai penyalahgunaan data pribadi.

Kedua narasumber pada acara juga menerangkan di tengah kinerja industri yang meningkat, namun pelaku pinjaman online (pinjol) ilegal marak. Satgas Waspada Investasi (SWI) sendiri saat ini telah melakukan pemblokiran pada 3.193 pinjol ilegal di Indonesia. (KS-5)
Komentar