Produsen Benih Kedelai Super Dalam Negeri Harapkan Dukungan Pemerintah

Ketua DPD RI Dukung Swasembada Kedelai Nasional



KANALSATU - Produsen benih kedelai super dalam negeri ingin menjadi bagian dari solusi permasalahan kedelai nasional. Jika kedelai super produksi anak negeri bisa dikembangkan maka diharapkan mampu mengurangi ketergantungan impor kedelai

Direktur Produksi PT Taru Tama Nusantara (TTN) Iryono mengatakan bahwa rekayasa benih kedelai yang dilakukan PT TTN ini merupakan bentuk keprihatinan atas permasalahan kedelai nasional.

Dari rekayasa benih yang dilakukan, PT TTN sudah mampu memghasilkan benih dengam tingkat produktivitas sangat tinggi, mencapai 3,2 ton per hektar. Sementara produktivitas kedelai lokal saat ini hanya mencapai 1,2 ton per hektar.

Ia menyampaikan bahwa pada Musim Tanam II/2020, demplot percontohan di Jember seluas 10 hektar telah panen pada Bulan Juni 2020 dan hasil panen juga telah diujicobakan kepada pengrajin tempe dan tahu di Jember. Hasilnya mereka mengaku senang karena sesuai dengan yang diharapkan, bahkan hasil tempenya lebih bagus dibanding menggunakan kedelai impor.

Selanjutnya, PT TTN juga akan memperluas area tanam benih kedelai kualitas unggul tersebut di demplot yang ada di Malang dan Bondowoso dengan total produksi sekitar 100 ton benih per tahun.

“Kami memberikan beberapa contoh kepada bapak Ketua DPD RI agar benih ini bisa diketahui. Syukur-syukur bisa dilihat langsung oleh pak Mentan, Pak Mendag dan pak Menkop UMKM. Karena ketiga kementerian itulah yang mengambil kebijakan,” ujar Iryono, Jember, Jumat (19/2/2021).

Pada kesempatan tersebut, Iryono juga menyampaikan sejumlah aspirasi agar keinginan bangsa Indonesia untuk mencapai swasembada kedelai nasional bisa tercapai. Pertama mendorong pemerintah bersama pihak terkait untuk dapat bersama-sama menciptakan tata Kelola kedelai yang saling sinergi dan memberikan manfaat kepada para pelaku usaha kedelai nasional.

“Kami juga ingin pemerintah memberikan dorongan dan motivasi kepada para petani kedelai di Indonesia agar dapat melakukan budidaya kedelai berdasarkan prinsip Good Agricultural Practices dan membantu memenuhi kebutuhan sarana dan prasarana petani kedelai,” tandasnya.

Selain itu, pemerintah juga harus mampu memberikan jaminan harga kedelai yang dihasilkan petani dengan harga yang layak agar kedelai dapat dijadikan usaha tani yang menguntungkan. Untuk itu, kebijakan penetapan harga benih oleh pemerintah yang saat ini ditetapkan sebesar Rp. 13.400 per kilogram harus ditinjau ulang karena kebijakan ini tidak menarik bagi pengusaha dan penyedia benih kedelai nasional.

“Kami juga berharap pemerintah mampu mendorong pemulia dan pelaku benih nasional untuk berlomba-lomba menciptakan varietas unggul kedelai yang mempunyai produktivitas yang tinggi. Serta menjadikan PT. Tarutama Nusantara Jember sebagai mitra pemerintah dalam penyediaan benih unggul kedelai nasional,” ujarnya.

Ketua DPD RI AA LaNyalla Mahmud Mattalitti menunjukkan dukungannya atas keberadaan produsen benih kedelai super milik anak negeri guna terciptanya swasembada kedelai nasional. Menanggapi keinginan PT TTN yang disampaikan, LaNyalla menegaskan bahwa aspirasi tersebut akan ia teruskan ke Komite II DPD RI, yang terkait dengan Bidang Ketahanan Pangan dan Pertanian.

“Dan pemerintah kita dorong bisa mempercepat proses penanaman varietas kedelai unggul produksi lokal hasil pengembangan dari Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi (Balitkabi). Dari varietas ini, kita akan akan mendapatkan kedelai lokal berukuran besar dengan kualitas baik," katanya.

Komoditas varietas kedelai unggul ini juga akan menegaskan posisi Jawa Timur sebagai salah satu wilayah penghasil kedelai terbesar di Indonesia. “Dengan varietas unggul, Jawa Timur akan bisa menghasilkan produksi kedelai yang tinggi dan dapat menutupi defisit kedelai," ujar LaNyalla optimis.
(KS-5)
Komentar