Faktor Cuaca dan PPKM Jadi Penyebab Melejitnya Harga Cabai Rawit



KANALSATU - Dalam beberapa pekan terakhir, harga cabai rawit di pasar tradisional Jatim meningkat signifikan. Dari yang semula di kisaran Rp 35.000 per kilogram kini naik hampir dua kali lipat menjadi Rp72.104 per kg.

Tidak hanya cabai rawit, cabai merah keriting juga naik tipis dari normalnya Rp35 ribu per kilogram menjadi Rp48.528 per kilogram.

Harga cabai rawit itu terpantau dari data Sistem Informasi Ketersediaan dan Perkembangan Bahan Pokok (Siskaperbapo) yang dikumpulkan dari sejumlah pasar tradisional di Jatim.

Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Jatim, Hadi Sulistyo mengatakan salah satu faktor utama yang mempengaruhi kenaikan harga cabai adalah menurunnya hasil produksi selama musim hujan. Selain itu juga dipengaruhi terhambatnya distribusi komoditas ke lokasi penjualan karena adanya pembatasan aktivitas untuk pengendalian penularan Covid-19.

“Pertama karena musim hujan. Selain itu distribusi juga terhambat akibat antisipasi pandemi Covid-19,” kata Hadi Sulistyo di Surabaya, Jumat (15/01/2021). Seperti diketahui, saat ini 11 kabupaten/kota di Jatim, termasuk Surabaya Raya, Malang Raya menjalankan PPKM.

Produksi cabai rawit Jatim selama ini berkontribusi cukup besar terhadap nasional yaitu mencapai 39 persen. Data Dinas Pertanian Jatim menunjukkan, total luas panen cabai rawit mencapai 58.563 hektare.

Produksi cabai rawit pada tahun 2020 mencapai 612.978 ton. Sedangkan tingkat konsumsi di Jatim hanya 67.008 ton per tahun. Surplus 545.970 ton cabai rawit yang ada dikirim ke daerah lain.

Potensi produksi cabai rawit di Jatim pada semester pertama (Januari-Juni) 2021 diperkirakan 22.853 hektare dengan produksi 286.923 ton. Adapun potensi luas panen komoditi cabai rawit pada semester kedua (Juli-Desember) sebesar 33.547 hektar.

Kemudian untuk cabai merah besar, potensi luas panen pada semester pertama (Januari-Juni) diperkirakan 5.973 hektar dengan produksi mencapai 55.933 ton. Sedangkan potensi luas panen Semester II (Juli-Desember) diperkirakan menurun menjadi 4.221 hektar.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) Jatim menyebutkan, komoditas cabai rawit pada Desember 2020 menjadi penyumbang inflasi dengan tren kenaikan harga mencapai 51,58 persen. Kondisi itu berdampak pada kinerja Nilai Tukar Petani (NTP) untuk subsektor hortikultura yang naik 2,22 poin menjadi 97,82 pada Desember dibandingkan NTP November sebesar 95,70.

“Namun, NTP ini memang masih di bawah 100 yang berarti pengeluaran petani lebih besar dibandingkan pendapatannya,” pungkasnya. (KS-5)
Komentar