Kadin Jatim : PPKM Jadi Hantaman Bagi Dunia Industri

Ketua Umum Kadin Jatim Adik Dwi Putranto


KANALSATU - Pemerintah pusat telah menetapkan Pemberlakukan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) pada 11-25 Januari 2021 di beberapa daerah yang tingkat penyebaran Covid-19, tingkat kematian dan tingkat keterisian kamar isolasi di rumah sakit melebihi rata-rata nasional. Langkah ini bertujuan untuk menekan dan memutus mata rantai penyebaran virus yang berasal dari Wuhan, Tiongkok ini.

Ketua Umum Kadin Jatim Adik Dwi Putranto mengatakan, sebenarnya keputusan ini menjadi hantaman bagi teman-teman industri. Di saat ekonomi mulai merangkak, ada kebijakan PPKM yang justru akan kembali menghambat lajunya.

Untuk itu, ia berharap pemerintah daerah juga memperhatikan sektor ekonomi. "Kesehatan memang harus menjadi prioritas. Tetapi sektor ekonomi juga tidak bisa dikesampingkan. Keduanya harus berjalan secara seimbang. Tetapi pada prinsipnya, sebenarnya masih ada kelonggaran, misalkan konstruksi yang padat karya, bisa beroperasi 100 persen, bahan pokok 100 persen dan makanan minuman juga 100 persen. Kalau soal jam buka mall, saya kira masyarakat harus bisa menyesuaikan, begitu juga dengan restoran, masyarakat juga harus menyesuaikan misal dengan membeli untuk dibawa pulang," ungkap Adik di Surabaya, Jumat (7/8/1/2021).

Di Jawa Timur, ada beberapa daerah yang masuk kriteria tersebut sehingga harus melaksanakan PPKM yaitu Surabaya Raya yang meliputi Kota Surabaya, Kabupaten Sidoarjo dan Kabupaten Gresik serta Malang Raya yang meliputi Kabupaten Malang, Kota Malang dan Kota Batu.

Atas keputusan tersebut, Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Jatim akan menunggu keputusan lebih lanjut dari pemerintah daerah setempat. Mengingat daerah biasanya memiliki cara sendiri dalam mengimplementasikannya.

Saat ini, Kadin Jatim terus melakukan koordinasi, baik dengan pemerintah daerah terkait maupun dengan industri. Kadin juga terus mengimbau kepada seluruh industri dan pengusaha agar tetap dan terus menekankan pemberlakuan protokol kesehatan di tempat kerja masing-masing.

Pekerja harus memakai masker, menjaga kebersihan, menjaga jarak dan tidak berkerumun.

"Kami secara intens melakukan komunikasi dengan Apindo Jatim untuk menyikapi kondisi ini. Apa saja kesulitan dan hambatan yang ditemui pengusaha dan bagaimana mencari solusinya," tambahnya.

Menurut Adik, sebenarnya kondisi ekonomi Jatim saat ini sudah mulai membaik. Recovery yang dilakukan pemerintah dengan berupaya semaksimal mungkin untuk mengerek daya beli melalui berbagai stimulus telah berdampak positif sehingga pergerakan ekonomi langsung naik. Dan stimulus tersebut terus diperpanjang hingga 2021.

Survei Kondisi Dunia Usaha (SKDU) dan Survei Penjualan Eceran (SPE) yang dilaksanakan oleh Bank Indonesia juga mengindikasikan perbaikan aktivitas usaha dan penguatan penjualan eceran di Jatim pada triwulan III/2020.

Hal ini juga tercermin dari membaiknya kinerja lapangan usaha utama Jatim seperti industry pengolahan, perdagangan dan konstruksi. Selain itu lapangan usaha akomodasi dan mamin serta transportasi yang sebelumnya terkontraksi cukup dalam juga menunjukkan perbaikan atau pemulihan.

Sektor pariwisata juga sudah menunjukkan perbaikan namun masih terkontraksi sejalan dengan masih terbatasnya aktivitas masyarakat untuk melakukan kegiatan wisata.

Dari sisi investasi, juga mencatatkan kinerja yang cukup menggembirakan, baik dari sisi Penanaman Modal Asing (PMA) ataupun Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN). Jatim memiliki daya tarik yang luar biasa sehingga di masa pandemi kinerjanya pada triwulan III/2020 justru tumbuh 42,2 persen dibanding tahun lalu pada periode yang sama. Dan naik 23,31 persen dibanding triwulan sebelumnya.

"Kondisi ini sebenarnya menjadi landasan optimis untuk mendorong pertumbuhan ekonomi di 2021. Mudah-mudahan setelah dua Minggu pemberlakuan PPKM, kinerja industri bisa digenjot lagi," pungkasnya. (KS-5)
Komentar