Signifikan, Peran Ayah dalam Pencegahan Pneumonia Pada Anak Melalui Imunisasi

Anggota Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Jawa Timur Dr. dr. Dominicus Husada, Sp.A.K (kiri) dan Psikolog Universitas Airlangga Surabaya Dr. Nur Ainy Fardana di Surabaya.

KANALSATU - Seorang ayah memiliki peranan kunci dalam menentukan kesehatan keluarga, termasuk dalam hal dilakukannya imunisasi untuk pencegahan Pneumonia. Selama ini, pemaksimalan peran ayah belum banyak diangkat.

Anggota Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Jawa Timur Dr. dr. Dominicus Husada, Sp.A.K mengatakan, selama ini fokus kesehatan keluarga selalu saja fokus pada ibu si anak. Pasalnya, ibu yang merawat dan bersama si anak untuk jangka waktu yang lama sepanjang hari. “Kombinasi peran ayah yang maksimal akan melengkapi sebuah keluarga dalam membangun pertahanan kesehatan,” jelasnya pada Edukasi Media dan Penyebaran Komunikasi Publik Peran Ayah dan Pencegahan Pneumonia pada Anak dengan Imunisasi, Senin (21/12/2020) di Surabaya.

Pneumonia sendiri, merupakan keradangan pada paru-paru yang menyerang pernafasan. Pneumonia terjadi karena adanya infeksi yang berasal dari mahluk hidup asing yang masuk di tubuh seseorang dan menimbulkan proses penyakit. “Penyebabnya bisa dari virus, bakteri, jamur, bahan kimia, bahan beracun maupun mahluk hidup kecil lainnya,” jelasnya.

Ia menambahkan, Pneumonia begitu berbahaya karena menyerang saluran nafas. Proses penularannya pun bisa ditulari orang lain maupun ketika menghirup bahan berbahaya. “Penyebarannya bisa lewat droplet atau percikan ludah. Ketika seseorang bicara, batuk, bersin, maupun meludah. Bisa juga melalui partikel penyebab infeksi yang melayang di udara,” ungkapnya.

Dominicus juga menambahkan, Pneumonia menyerang bayi, anak-anak, sampai orang lanjut usia (lansia). Tentu, orang dengan sistem imun yang buruk akan lebih muda terkena Pneumonia. “Jadi Penumonia ini menempati urutan pertama penyebab kematian balita di seluruh dunia. Bergantian dengan penyakit diare yang juga penyebab kematian bagi balita,” jelasnya.

Bagi tiap keluarga, terutama untuk ayah harus bisa mengetahui ciri-ciri Pneumonia. Biasanya diawali dengan panas, batuk-batuk dan pilek. kemudian muncul sesak nafas. “Akhirnya pernafasan cuping hidung. Termasuk otot dada digunakan dengan kuat. Semakin lama anak semakin lemah dan menuju gagal nafas,” sambungnya.

Dalam situasi ini, katanya, pencegahan selalu lebih baik dari pada mengobati. Apalagi tidak semua penyakit ada obatnya. Kalau pun tersedia, biaya dan sumber daya selalu lebih besar dibandingkan upaya pencegahan “Upaya pencegahan itu bisa dilakukan lewat imunisasi Pneumonia,” tambahnya.

Medical Manager PT Pfizer Indonesia Dr. Carolina Halim menuturkan, keberadaan ayah menjadi dirigen bagi keluarganya untuk bisa menjaga kesehatan. Berbagai keputusannya menjadi penting sebagai bekal sebuah keluarga mampu untuk menjaga kesehatan dengan baik.

Data yang diperoleh dari Profil Kesehatan Jatim 2019 menyebutkan, meskipun Angka Kematian Bayi (AKB) di Jatim dari laporan rutin relatif sangat kecil, namun bila dihitung angka kematian absolutnya masih tinggi, yaitu sebanyak 3.875 bayi meninggal pertahun dan sebanyak 4.216 balita pertahun. Ini berarti dalam satu hari sebanyak 11 bayi meninggal dan 12 balita meninggal.

Sebenarnya upaya pencegahan kondisi ini sangat mungkin dilakukan, terlebih bila seorang ayah bisa membuat keputusan tepat dalam menentukan pilihan kesehatan bagi keluarganya. Peran dari seorang ayah dalam mengambil keputusan yang cepat dan tepat, sangat menentukan pondasi sebuah keluarga, termasuk dalam hal menjaga kesehatan, terutama saat imunisasi bayi dan balita juga termasuk di dalamnya.

Pihaknya menyadari, tak semua ayah memiliki edukasi yang cukup untuk bisa memahami kebutuhan kesehatan untuk keluarganya. Di tengah percepatan komunikasi saat ini, pihaknya ingin semua ayah bisa peduli dan memahami kebutuhan ini.

Selama ini upaya atau tindakan terkait kesehatan anak kerap dilakukan oleh ibu atau orang tua perempuan. Namun ayah atau orang tua laki-laki justru memiliki peran vital dan strategis dalam hirarki sebuah keluarga. Ini karena seluruh upaya atau tindakan yang dilakukan ibu atau orang tua perempuan dalam keluarga, pasti akan meminta persetujuan terlebih dahulu dari ayah atau orang tua laki-laki yang dianggap sebagai penanggung jawab tertinggi.

“Ayah diharapkan mampu mengambil keputusan penting, termasuk manajemen finansial untuk kesehatan keluarganya. Sehingga bisa menentukan masa depan anaknya. Keputusan tepat untuk memastikan mereka sehat dan tetap hidup di masa mendatang,” jelasnya.

Psikolog Universitas Airlangga Surabaya Dr. Nur Ainy Fardana menuturkan, peran penting ayah sebenarnya dimulai sejak bayi dalam kandungan. Dibutuhkan dukungan emosi dan perhatian ayah terhadap kondisi kehamilan ibu. “Makanya ayah yang terlibat mengasuh anak sejak awal terbukti memberi kontribusi terhadap berkembangnya rasa aman dalam sisi emosi anak. Perhatian dan kasih sayang ayah kepada anak semasa bayi memberi sumbangan besar bagi terjalinnya kedekatan emosi ayah dengan buah hatinya,” jelasnya.

Ia menambahkan, seorang ayah juga mengambil peran besar dalam menyiapkan anak untuk menghadapi tantangan hidup, termasuk bagaimana ayah mempersiapkan perlindungan terhadap kesehatan anak di masa depan. Salah satunya persiapan yang matang untuk mencegah Pneumonia.

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Jatim dr Herlin Ferliana M.Kes menuturkan, imunisasi merupakan program yang sangat efektif untuk memenuhi target SDGs dengan penurunan angka kematian bayi 25 per 1.000. Apalagi Pneumonia merupakan penyebab kematian terbesar pada bayi dan balita.

“Sebanyak 50 persen disebabkan oleh Streptococcus Pneumoniae dan 20 persen disebabkan oleh Haemophilus influenzae tipe B,” kata Herlin. Ia melanjutkan, vaksin Pneumokokus Konyugasi (PCV) sudah diintroduksi di Indonesia. Semua diawali dengan demonstration program di Provinsi NTB dan Bangka Belitung serta selanjutnya diintroduksi secara nasional, yakni bertahap mulai 2020 sampai 2024. “Vaksin PCV yang akan digunakan telah memiliki izin edar dari BPOM dan sertifikat halal dari IFANCA,” ungkapnya.

Herlin menambahkan, diperlukan kerjasama yang terpadu dengan semua pihak untuk mencapai imunisasi PCV yang sukses. “Peran ayah sangat penting dalam kesuksesan imunisasi PCV,” katanya. (KS-5)

Komentar