Didampingi BI, Kopi Wonosalam Diminati Pasar Luar Negeri

Anggota Kelompok Petani Kopi Wojo melakukan pemilihan biji kopi.


KANALSATU - Wonosalam, Kabupaten Jombang tidak hanya dikenal dengan durian khasnya. Sejak beberapa tahun yang lalu, petani di Wonosalam mulai mengembangkan komoditas kopi.

Untuk mendukung pengembangan kopi lokal Wonosalam, Bank Indonesia (BI) memberikan berbagai fasilitas. Mulai dari bibit kopi, alat untuk proses produksi hingga pendampingan dari hulu ke hilir.

Deputi Kepala Perwakilan BI Jatim, Harmanta mengatakan, kualitas lokal Wonosalam sangat bisa ditingkatkan agar memiliki standar ekspor. "Kualitas kopinya sudah bagus, kita tinggal mendukung peningkatannya agar layak ekspor," ujarnya kepada wartawan di Jombang, Sabtu (28/11/2020).

Untuk bibit, BI Jatim memberikan 14.500 bibit kopi Arabika, 2.500 jenis Liberika dan 3.500 entres Robusta kepada petani binaan di wilayah tersebut.

Jenis kopi yang saat ini banyak dikembangkan di Wonosalam yaitu excelsa atau liberica. Liberica yang di tempat lain kurang bisa berkembang, di Wonolosalam justru bisa dijadikan andalan. Varietas ini memiliki cita rasa yang berbeda dari arabica atau robusta.

Ketua Kelompok Petani Kopi Wojo, Unit Pengolahan Hasil (UPH) Kopi Desa Carangwulung Kecamatan Wonosalam, Kabupaten Jombang, Yayak mengatakan biji kopi produksi para petani di kelompok tersebut diminati pasar Singapura. Sementara untuk pasar lokal sudah menjangkau Surabaya, Malang, Kediri, Sumatra, Bali dan Kalimantan.

Meskipun permintaan sudah tinggi, namun sayangnya hingga kini belum mampu dipenuhi karena hasil panen belum maksimal.

Kelompok Petani Kopi Wojo merupakan salah satu klaster binaan BI di Jombang. Saat ini beranggotakan 25 petani yang memiliki lahan 30 ha. Jika dulunya mereka hanya mampu memproduksi biji kopi 1-2 ton per tahun, kini mencapai 15 ton per tahun.

“Kami akan berusaha terus meningkatkan produksi untuk memenuhi permintaan pasar. Kalau bisa, juga memperluas pasar ke negara-negara selain Singapura,” ujarnya.

Yayak memaparkan, para petani di kelompoknya memproduksi biji kopi grade 1. Saat dipetik, semua buah kopi berwarna merah segar dan harus diproses langsung untuk memperoleh cita rasa kopi yang bagus. Untuk menghasilkan biji kopi grade 1, harus menerapkan rangkaian proses secara benar.

Sebelum ada pendampingan, petani melakukan pemetikan dan proses pasca panen secara asal-asalan sehingga tidak bisa menghasilkan biji kopi grade 1 yang tentunya juga berpengaruh pada harga.

Sebelumnya, Kepala Perwakilan BI Jatim, Difi Ahmad Johansyah juga menyatakan bahwa sektor kopi adalah salah satu bisnis yang tidak terlalu terpengaruh oleh pandemi Covid-19. Bahkan dalam festival beberapa waktu lalu, semua produk kopi habis terjual.

Tapi masalahnya, kata dia, menciptakan produk kopi dengan kualitas konsisten di negara ini masih terkendala faktor musim. "Kopi yang sudah baik ini tinggal butuh sentuhan agar bagaimana caranya untuk meningkatkan produksi dan kualitasnya, karena sudah ada demandnya," ujarnya.

Pihaknya berharap para produsen kopi bisa memanfaatkan teknologi digital agar bisa lebih memaksimalkan pemasarannya. Dengan demikian petani dan produsen kopi di Wonosalam akan bisa naik kelas. (KS-5)
Komentar