Potensi Industri Halal di Indonesia Belum Dioptimalkan


KANALSATU - Bank Indonesia terus berkomitmen dalam mendorong aselerasi ekonomi syariah dalam mendukung perekonomian regional salah satunya melalui akselerasi industri dan ekosistem halal. Terlebih saat ini pasar halal dunia terus berkembang.

Namun sayangnya, Indonesia sebagai negara dengan penduduk beragama Islam terbesar belum mampu berbicara banyak untuk produk halal. "Di Jepang sudah terdapat kebutuhan ayam potong halal yang sayangnya disuplai bukan dari Indonesia. Begitu pula di Inggris yang telah terdapat pasar halal, namun sayangnya produsen utamanya lagi-lagi bukan berasal dari Indonesia," ujar Difi.

Menanggapi hal tersebut, Dirjen Pengembangan Ekspor Nasional,
Kasan mengatakan bahwa potensi Industri Halal belum dioptimalkan. Hingga saat ini posisi Indonesia masih sebagai konsumen No.1 produk halal namun peringkat 10 produsen halal.

"Kita belum fokus pada peningkatan ekspor produk halal. Negara dengan penduduk non muslim banyak mengembangkan industri halal, banyak pelaku usaha terutama UMKM belum melakukan sertifikasi halal, Tarif dan Non Tarif," ungkapnya.

Sementara itu, Sapta Nirwandar selaku Ketua Indonesia Halal Life Center menyampaikan bahwa COVID-19 berdampak pada berbagai negara termasuk di Indonesia yang berdampak pada sosial ekonomi termasuk industri halal khususnya pariwisata halal. Penerapan Halal Lifestyle sebagai gelombang baru juga berdampak bagi industri untuk menyediakan produk halal.

Halal lifestyle pun bukan hanya terbatas sandang, papan, pangan bahkan hingga ke teknologi. Adanya COVID-19 juga mengubah perilaku konsumen. Termasuk dalam hal konsumsi dimana produk halal diyakini sebagai produk yang sehat dan berkualitas.

Ketua Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia Adhi S. Lukman mengatakan bahwa makanan dan minuman menjadi sektor industri dengan nilai ekspor terbesar. Ekspor pun di masa pandemi tidak menurun termasuk ekspor makan dan minuman.

Menurutnya, ada enam strategi utama dalam meningkatkan pangsa ekspor produk makanan dan minuman halal diantaranya mengenai data dan pencatatan yang perlu diperbaiki dapat dimulai dengan penambahan kolom halal pada dokumen ekspor di NSW dan PEB. Kemudian identifikasi potensi konsumsi pangan halal.

Yang ketiga yaitu promosi misalnya dengan pameran khusus produk halal hingga integrasi promosi halal dengan event besar. Keempat mengedukasi konsumen untuk memahami membaca label, jaminan halal, memahami bahwa pangan halal higienis dan baik serta pengembangan media halal.

Kemudian kelima sertifikasi halal dan membangun kepercayaan konsumen serta yang terakhir inovasi produk halal menyesuaikan tren kebutuhan konsumen serta modernisasi pemasaran halal.
(KS-5)
Komentar