Kekerasan Anak Meningkat, Terbanyak Terjadi di Rumah



KANALSATU - Situasi pandemi Covid-19 yang masih belum diketahui kapan berakhirnya, dipandang sebagai momentum tepat untuk memviralkan gerakan perlindungan anak Indonesia oleh berbagai pihak. Pentingnya perlindungan terhadap hak-hak anak perlu terus digaungkan agar menjadi perhatian banyak pihak.

Dari data yang dimiliki Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Kependudukan (DP3AK) Provinsi Jawa Timur tercatat ada 699 laporan kekerasan terjadi pada perempuan dan anak di Jawa Timur.
Dimana 40,6 persen diantaranya berupa kekerasan seksual, diikuti kekerasan fisik dan psikis.

Sementara itu, lokasi terbanyak terjadinya kekerasan pada anak dan perempuan dilaporkan terjadi di rumah tangga. Disusul fasilitas umum, tempat kerja dan sekolah. "Ini sungguh mengenaskan. Ini yang harus disuarakan oleh para pihak. Terutama oleh teman-teman media, agar masyarakat dapat diedukasi secara benar,” jelas Kepala DP3AK Provinsi Jawa Timur Andriyanto, Selasa (21/7/2020).

Ia mengungkapkan, peran media dianggap cukup strategis dalam hal ini. Ia berharap media dapat mengambil peran sentral dalam kampanye menyiapkan mental anak dan melakukan edukasi pada anak di masa pandemi.

Hal sama diungkapkan Direktur Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Tulungagung Winny Isnaeni. Menurutnya, salah satu isu perlindungan anak yang saat ini marak terjadi dan seringkali masih diabaikan dampaknya ialah isu kekerasan, termasuk di dalamnya kekerasan berbasis gender, eksploitasi, kesehatan mental anak, dan penelataran anak.

“Kasus kekerasan berbasis gender masih sering dianggap tabu oleh masyarakat karena pengaruh budaya dan lingkungan masyarakat. Ini yang kemudian menyebabkan kasus yang banyak terjadi tidak terungkap dan tidak ada penanganan maupun respon terhadap korban. Jika tidak dicegah dan ditangani dengan baik, kasus kekerasan dapat berdampak bagi korban,” jelas Winny yang juga Fasilitator Nasional Sistem Perlindungan Anak.

Keluarga dan masyarakat merupakan sumber daya yang besar dan dekat dengan anak. Maka media yang dipercaya informasinya oleh publik memiliki posisi strategi untuk menguatkan keluarga dan masyarakat agar lebih melindungi anak yang menjadi tanggung jawabnya

Ditambahkan, keberhasilan suatu program pemerintah tidak bisa lepas dari peran media mainstream untuk menyebarluaskan perencanaan, pelaksanaan, dan capaian yang sudah dihasilkan. Dengan penyebarluasan isu yang dilakukan oleh media dapat membentuk persepsi publik dan aksi publik kedepannya.

Sementara itu Child Protection Specialist UNICEF Kantor Perwakilan wilayah Jawa, Naning Pudjijulianingsih mengungkapkan, di masa pandemi ini semua pencegahan kekerasan anak bisa dilakukan dari tiap rumah. Baik itu kolaborasi yang baik antara keluarga, sekolah, masyarakat serta media.

"Meskipun dalam kondisi sulit menghadapi pandemi, semua anak harus bisa dipastikan pendidikannya serta kontrol keluarga yang baik. Termasuk dalam kesehatan mental anak yang harus dijaga. Nah, media sangat berperan dalam hal ini," tegas Naning. (KS-5)
Komentar