Kinerja Jeblok, Ini Tiga Langkah Kadin Jatim Hidupkan Kembali Industri Pariwisata

Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Jawa Timur (Jatim) Adik Dwi Putranto


KANALSATU - Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Jawa Timur berupaya keras untuk membangkitkan kembali kinerja sektor pariwisata yang mengalami keterpurukan akibat merebaknya pandemi Covid-19 di seluruh dunia. Ada tiga hal utama yang menjadi konsentrasi Kadin Jatim dalam meringankan beban pengusaha wisata serta membangkitkan kembali kinerja mereka.

Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Jawa Timur (Jatim) Adik Dwi Putranto mengatakan, pertama adalah adanya stimulus bagi pengusaha. Stimulus yang dimaksudkan adalah penghapusan sementara pajak hotel dan restoran dan penghapusan Pajak Bumi dan Bangun (PBB) hingga akhir tahun.

Selain itu juga penambahan diskon untuk PPH 25 (pajak penghasilan) dari 25 persen menjadi 50 persen. Dan keringanan tagihan kepesertaan BPJS Ketenagakerjaan sebesar 50 persen.

"Stimulus ini sangat penting mengingat pengusaha tidak bekerja. Hotel mereka tutup, hanya 10 persen hingga 20 persen saja yang beroperasi. Kalau dibebani dengan berbagai macam kewajiban pajak, mereka akan kesulitan. Dalam hal ini, Kadin Jatim telah menyurati Bupati dan Walikota se-Jatim karena kewenangannya ada di daerah, bukan provinsi," ujar Adik Dwi Putranto saat Webinar Kadin Jatim dengan tema "Industri pariwisata Jatim menuju tatanan baru ekonomi atau New Normal, Surabaya, Kamis (16/7/2020).

Langkah kedua yang dilakukan Kadin Jatim adalah mendorong pengusaha pariwisata untuk melakukan pengetatan protokol kesehatan di masing-masing titik pariwisata serta di setiap hotel dan restoran. Hal ini dilakukan untuk meyakinkan wisatawan bahwa pariwisata Jatim telah menerapkan protokol kesehatan dengan ketat sehingga aman untuk dikunjungi.

"Kami terus mendorong pengusaha untuk tetap taat dalam melaksanakan protokol kesehatan, termasuk di sektor transportasi yang mendukung pariwisata," tegasnya.

Dan langkah ketiga adalah melakukan promosi wisata aman secara massif bersama pengusaha yang terkait kepada wisatawan, baik domestik maupun manca negara. Promosi ini juga berguna untuk meyakinkan wisatawan akan keamanan destinasi yang akan dikunjungi. "Kita promosikan bagaimana tempat wisata sudah melakukan standar kesehatan. Ini sangat diperlukan. Seperti di industri lain, Kadin Jatim juga sudah meminta teman-teman agar industri itu melakukan protokol kesehatan dengan benar," ujarnya.

Pada kesempatan yang sama, Kepala Bidang Pemasaran Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jatim, Susariningsih mengatakan bahwa Pandemi covid memang telah memberikan dampak cukup luar biasa terhadap sektor pariwisata, tidak hanya teknis tetapi juga psikologis. Pergerakan antar wilayah dan daerah yang terhenti, menyebabkan penutupan usaha pariwisata yang berdampak pada tenaga kerja yang dirumahkan.

"Tentunya ini berdampak pada kunjungan wisata. Di Januari 2020 masih cukup bagus, masih normal bahkan ada peningkatan. Tetapi pada Maret mulai menunjukkan penurunan dan di April semakin tidak bagus. Di April hingga Juni, penurunan sangat signifikan, mencapai 95 persen. Bahkan penurunan wisatawan mancanegara hampir 100 persen," ujarnya.

Dan saat ini, Indonesia sudah masuk di era kenormalan baru. Ada beberapa hal yang menjadi bagian dari adaptasi kebiasaan baru. Pertama adalah kesehatan menjadi prioritas di masa pandemi tetapi sektor ekonomi harus tetap berjalan. Masyarakat harus hidup produktif dan aman dari Covid-19.

"Kami sedang menyiapkan upaya bagaimana bisa memulihkan ekonomi. Tentu ini tidak bisa sendiri, stakeholder pariwisata harus bahu-membahu, berkolaborasi dan bersinergi. Dan pada bulan Juni kemarin Pemprov Jatim telah mengeluarkan SOP protokol kesehatan yang ditindaklanjuti oleh seluruh Dinas di lingkungan Pemprov. Jatim dengan mengeluarkan petunjuk tenis," terangnya.

Petunjuk teknis ini bisa dijadikan acuan oleh Kabupaten dan Kota, pengusaha serta sektor lain dalam melakukan kebijakan aktifitas usaha dan lain sebagainya. Disbudpar Jatim juga telah melakukan sampling serta edukasi melalui meeting online dan media serta melakukan uji coba destinasi yang sudah di buka di beberapa kota.

"Dua hal yang sangat penting dalam pemulihan pariwisata. Pertama Bagaimana industri pariwisata ini betul-betul menerapkan protokol kesehatan dan kedua Bagaimana meyakinkan wisatawan bahwa Jatim aman dikunjungi," tegas Sari.

Ia kemudian memerinci, bahwa di masa new normal ini, ada sekitar 18 daerah yang telah melakukan reopening dengan jumlah destinasi wisata yang sudah dibuka mencapai 109 titik dari 992 titik daya tarik wisata di seluruh Jatim. Selain itu juga ada sekitar 626 hotel dan 954 rumah makan atau restoran yang juga telah dibuka. Destinasi ini bisa kembali dibuka karena berada di zona hijau dan kuning. Untuk tahap awal, destinasi wisata yang bisa dibuka adalah destinasi wisata alam, kawasan taman nasional, taman safari dan taman rekreasi.

Hal yang sama juga diutarakan oleh Wakil Ketua Umum Bidang Pariwisata Kadin Jatim, Dwi Cahyono. Ia mengatakan bahwa dunia bisnis saat ini harus mampu beradaptasi dengan kondisi apapun. Apakah daerah berstatus Hijau, kuning ataupun merah, pengusaha harus siap.

"Kita harus taat terhadap protokol kesehatan dalam kondisi apapun. Karena kalau karyawan tidak memakai masker misalnya, wisatawan akan pindah. Kita harus tunjukkan bahwa tanpa pengawasan pun Jatim tetap taat dan siap," tegasnya.

Sementara itu, Ketua Umum Asosiasi Desa Wisata, Andi Yuwono mengatakan bahwa seluruh desa wisata di Jatim menyatakan siap untuk dibuka kembali dengan menerapkan protokol kesehatan secara ketat. Beberapa destinasi desa wisata juga telah melakukan simulasi, seperti Wonosalam Agro Wisata.

Ia mengungkapkan, era pandemi ini menjadi sebuah momentum bagaimana mengubah mindset wisata. Misalkan dengan menawarkan paket wisata eksklusif, dengan jumlah sangat terbatas atau wisata kesehatan. "Kami siap kembali membuka tetapi bagaimana pemerintah mendampingi. Karena sejauh ini fasilitas kesehatan dimodali sendiri, sehingga banyak yang tidak sesuai standar. Dan ini sebenarnya sudah menunjukkan keseriusan bahwa desa wisata siap. Yang kami tunggu bagaimana regulasi ada dan bisa dijalankan. Intinya kami memohon dukungan semua pihak agar kembali bisa dibuka," kata Andi.

Disisi lain, Chief Executive Officer Monas Tour & Travel, Monas Tjahjono mengatakan bahwa pasca pandemi, yang bisa dilakukan oleh pelaku wisata diantaranya adalah melakukan promosi wisata domestik atau domestik tour, virtual tour, penyewaan transpot, penjualan voucher hotel yang sudah buka, serta penjualan tiket pesawat dengan fasilitas rapid tes.

"Kita juga bisa lakukan kerjasama dengan negara yang sudah berhasil mengatasi pandemi, seperti yang telah dilakukan oleh Australia yang menjalin kerjasama dengan New Zealand, Korea Selatan dengan Jepang dan Letvia dengan Estonia, Lethuania," pungkasnya (KS-5)
Komentar