Tanpa Salaman, Isi Buku Tamu Diganti Barcode

Di era normal baru, tamu dan pengantin tidak diperkenankan bersalaman secara langsung.


KANALSATU - Di masa pandemi seperti saat ini ada banyak norma-norma baru yang diterapkan demi menjaga kesehatan bersama. Termasuk diantaranya ketika menyelenggarakan atau menghadiri pesta resepsi pernikahan.

Dimulai dari kedatangan di lokasi resepsi, undangan diminta untuk mencuci tangan dan diukur suhu tubuhnya. Tamu yang suhunya di atas 37 derajat, tidak diperkenankan masuk ke ruang resepsi.

Berlanjut kemudian di area registrasi di mana biasanya tamu diminta untuk mengisi buku tamu, sekarang hanya perlu memindai barcode yang sudah dikirimkan ke ponsel masing-masing. Setelah itu, biasanya tamu akan langsung diarahkan untuk bersalaman dengan mempelai dan keluarganya.

Tapi sekarang tidak boleh lagi. Cukup dengan menangkupkan kedua tangan atau yang sering disebut salam namaste dari jarak aman. Begitu juga untuk foto bersama juga tidak dilakukan berjejer. "Sekarang ini panggung dibuat berundak. Jadi nanti tamu di panggung level bawah dan mempelai tetap di atas agar tidak berdempetan," tutur Ketua Asosiasi Pengusaha Jasa Dekorasi Indonesia (Aspedi) Jatim, Sumitro saat Simulasi pernikahan tatanan normal baru di Dyandra Convention Center Surabaya, Sabtu (4/7/2020).

Yang juga berbeda, pengantin, keluarga serta semua yang terlibat di acara tersebut beserta tamu yang hadir wajib mengenakan masker.

Di ruangan, tatanan meja dan kursi terlihat sangat longgar karena hanya diisi sekitar sepertiga dari kapasitas ruangan saat kondisi normal dan tidak lagi diperkenankan mengadakan standing party. Ini ditujukan untuk meminimalisir menggerombolnya tamu saat masuk hingga pengambilan menu sajian. Begitu juga dengan tatanan sajian hingga pengambilannya, semua dilayani.

Untuk pengambilan souvenir pernikahan, tamu juga tidak perlu lagi menujukkan kartu namun lagi-lagi cukup dengan men-scan barcode. Semua prosesnya minim sentuhan tangan langsung antar manusia.

Sumitro mengatakan, simulasi pernikahan ini sengaja digelar untuk menunjukkan bahwa perhelatan pernikahan masih tetap dapat diselenggarakan di era normal baru dengan mengikuti tatanan kesehatan yang berlaku. "Kami sudah berupaya meminimalisir risiko terpapar Covid-19. Bahkan kami menjamin ini lebih aman dari pada ke pasar atau ke mall," klaim Sumitro.

General Manager Dyandra Convention Centre, Lusi Astuti bahwa selama pandemi, pihaknya tidak ada pemasukan sama sekali. Padahal biasanya, ia biasa melayani resepsi pernikahan setiap Sabtu dan Minggu. Dan dalam satu kali perhelatan pernikahan, ia bisa mempekerjakan sekitar 160 orang atau bahkan lebih. Sementara saat pandemi, semua terhenti.

"Semua venue sudah siap. Misalnya di tempat kami, ruangan dengan kapasitas 3.000 orang sekarang dengan protokol kesehatan berkurang banyak. Hanya diisi sepertiganya, " tutur Lusi.

Event Director Celtic Creative, salah satu wedding organizer di Surabaya menambahkan, seluruh pihak yang terlibat dalam penyelenggaraan pesta pernikahan sudah berkomitmen untuk menjalankan pesta pernikahan sesuai standar kesehatan yang sudah ditetapkan. "Karena itu kami menggelar simulasi ini untuk menunjukkan kepada dinas-dinas pemerintahan bahwa kami siap menggelar acara sesuai protokol kesehatan," tegasnya. (KS-5)


Komentar