Masih Banyak yang Berkumpul, Segera Berlakukan Aturan Tegas di Surabaya

Jelang Deadline Turunkan Angka Penularan Covid-19 di Jatim


KANALSATU - Deadline yang diberikan Presiden Joko Widodo kepada Pemprov Jatim untuk menurunkan angka penularan Covid-19 tinggal seminggu lagi. Namun sampai saat ini kurva persebaran belum juga melandai.

Untuk mencapai target yang sudah ditetapkan presiden, Pemprov dan jajaran Forkopimda Jatim mengadakan pertemuan dengan Gugus Tugas tiga wilayah di Surabaya Raya, yaitu Kota Surabaya, Kabupaten Sidoarjo dan Kab. Gresik.

"Jadi perlu adanya keterbukaan yang harus dilakukan, seperti yang disampaikan bapak Presiden bahwa kita harus memiliki perasaan yang sama," ungkap Sekdaprov Jatim Heru Tjahjanto dalam arahannya pada Rakor Percepatan Penanganan Covid-19 di Markas Kodam V Brawijaya Surabaya, Kamis (2/7/2020) malam.

Selain keterbukaan dan perasaan yang sama, dirinya juga menekankan harus ada kebersamaan antar daerah. Dirinya menyayangkan adanya kasus saling lempar pasien yang terjadi baru-baru ini. Seorang pasien positif Covid-19 di Surabaya, karena berdasarkan KTP-nya berasal dari Nganjuk, harus dikembalikan ke daerah kelahirannya. "Lah ini lempar-lemparan kan berdosa," tegasnya.

Heru menyebut, sekarang inilah waktu yang tepat untuk duduk bersama dalam rangka menindaklanjuti arahan Presiden bahwa angka Covid-19 di Jawa Timur harus turun. "Kalaupun tidak turun paling tidak akan ada langkah konkret dari hulu sampai hilir," tegasnya.

Dalam sambutannya, Pangdam V/Brawijaya, Mayjend TNI Widodo Iryansyah mengatakan, untuk mewujudkan penurunan angka penularan Covid-19 di Surabaya Raya, salah satu hal krusial yang harus dilakukan adalah menekankan pentingnya penerapan protokol kesehatan. Karena masih banyak masyarakat yang belum sadar akan ancaman nyata dari Covid-19.

“Saya sudah mendatangi beberapa rumah, ada yang dalam satu rumah tersebut terdapat lima orang. Tapi, maskernya hanya ada dua, jadi jika ada yang mau keluar rumah, masker tersebut dipakai bergantian. Lalu, kami bagikan lima masker,” katanya.

Ia menambahkan, saat malam hari di beberapa ruas jalan di Surabaya, banyak orang bersepeda, mulai tua, remaja, hingga anak-anak. Setelah bersepeda, mereka berkumpul di Taman Bungkul. "Ketika kami tanya, kenapa bersepeda ramai-ramai malam hari ? Jawabannya karena bosan atau suntuk di rumah, dan ingin jalan-jalan. Jika seperti ini terus, bagaimana bisa turun angka covid-19?,” imbuhnya.

Keresahan Pangdam Mayjend TNI Widodo tersebut turut dirasakan Kapolda Jatim, Irjen Pol Mohammad Fadil Imran. Dirinya mengusulkan agar dilakukan tindakan tegas kepada masyarakat yang masih mengabaikan protokol kesehatan. Kemudian, menerapkan jam malam di beberapa ruas jalan di wilayah Surabaya Raya.

“Kalau perlu, jam sembilan malam kita tutup saja jalan yang menjadi tempat berkumpul masyarakat, lalu kita semprot disinfektan. Contohnya, mulai Jalan Raya Darmo sampai ke Tunjungan, jika perlu mulai besok kita start bergerak. Kemudian perlu adanya sanksi tegas, contohnya di Kab. Banyuwangi. Jika ada tempat yang masih bandel, diberi kartu kuning, jika tetap bandel, dikasih kartu merah atau tutup selamanya,” tegasnya. (KS-10)
Komentar