Kesulitan Bahan Baku, Industri Minyak Makan Terancam Gulung Tikar

Kopra, bahan baku minyak makan. Pelaku industri minyak makan di tanah air kesulitan mendapatkan bahan baku karena banyak diekspor.



KANALSATU - Perkumpulan Industri Minyak Makan Indonesia (PIMMI) di Provinsi Jawa Timur (Jatim) meminta pemerintah memberikan proteksi bahan baku agar tidak semakin berkurang seperti yang mulai terjadi saat ini. Bahan baku kelapa khususnya kopra yang didatangkan langsung dari para petani di Sulawesi saat ini banyak diekspor ke luar negeri sehingga produksi minyak makan terganggu.

Pembina Perkumpulan Industri Minyak Makan Indonesia (PIMMI) Provinsi Jawa Timur Adhi Prabowo mengatakan, akibat kekurangan bahan baku kelapa khususnya kopra, perusahaan penghasil minyak kelapa kasar atau crude coconut oil dan minyak goreng terpaksa menurunkan produksi bahkan ada yang sudah tidak beroperasi.

Dikhawatirkan bila penurunan produksi terus berlangsung dalam jangka panjang, maka mau tak mau perusahaan harus melakukan pengurangan pekerja atau PHK massal. Saat ini ada ribuan pekerja ribuan pekerja yang bergantung pada industri pengolahan minyak kelapa ini.

Adi menuturkan, selama ini pihaknya membeli produk turunan kelapa dari para petani dalam bentuk kopra kemudian diolah menjadi minyak kelapa mentah dan minyak goreng. Namun dalam beberapa bulan belakangan produksinya semakin berkurang karena kesulitan bahan baku lantaran banyak yang diekspor dalam bentuk bahan mentah seperti kelapa butir atau putih.

“Pemerintah harus membuat proteksi terhadap industri ini terutama dalam hal ketersediaan bahan baku, sebab kalau ini dibiarkan mengalir, maka dampaknya industri minyak makan akan tutup. Padahal hasil produksi kita 80 persen diekspor ke luar negeri,” katanya.

Selain itu, pihaknya meminta agar beberapa regulasi perdagangan yang menghambat daya saing sektor ini agar ditinjau kembali, sebab dampaknya semakin memberatkan industri yang ada.

Hal inipun diamini Purchasing Director PT Indo Oil Perkasa Syaiful Rachman. Menurutnya kondisi ini memang sangat memberatkan bahkan saat ini pabriknya harus menunggu bahan baku terkumpul agar bisa beroperasi.

"Penurunan produksi akibat ketidaksediaan bahan baku ini mencapai 80-90 persen. Semula produksi Indo Oil Perkasa mencapai 250 ton per hari, tetapi sekarang hanya mampu mencapai 30 hingga 50 ton per hari, ini terjadi karena bahan baku semakin sulit didapat,” katanya.

Untuk itu, dia berharap pemerintah bisa memberi perhatian lebih komprehensif  kepada industri kopra, baik dari hulu sampai hilir. Sebab, sumbangsih dari industri ini juga sangat besar mulai dari devisa hingga pajak yang harus dibayarkan. (KS-6)
Komentar