Sebanyak 16 Ribu Anak di Jatim Alami Depresi di Masa Pandemi Covid-19




KANALSATU - Pandemi Covid-19 telah menyebabkan kehidupan masyarakat dunia, termasuk di Indonesia dan Jawa Timur mengalami perubahan cukup drastis. Hal ini kemudian menjadi penyebab banyaknya masyarakat yang mengalami depresi atau stress, termasuk anak-anak.   

Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Kependudukan Provinsi Jawa Timur, Andriyanto mengatakan bahwa ketahanan keluarga sedang diuji. Ada banyak persoalan yang kemudian muncul dalam keluarga akibat Covid-19.

Selain kesulitan ekonomi dan banyaknya jumlah anak yang terkonfirmasi positif di Jatim, kasus lain yang muncul adalah besarnya jumlah anak yang mengalami depresi.

“Riset Kesehatan Dasar menyebutkan, ada sekitar  1,6 persen anak alami depresi. Dari 42 juta jiwa penduduk Jatim, maka anak usia 0 tahun hingga 18 tahun mencapai 10,87 juta. Artinya, 16 ribu anak di Jatim mengalami depresi selama masa Covid-19, ini fakta,” ujar Andriyanto saat Webinar Aliansi Pelajar Surabaya dengan tema ”Mental anak menghadapi New Normal, apa peran kita?” yang disupport oleh Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Jatim, Kamis (25/6/2020).

Pandemic Covid-19 telah menyebabkan angka stunting di Jatim mengalami kenaikan. Padahal di 2019, Jatim telah berhasil menekan angka sunting dari 30,8 persen menajdi 27,5 persen.  

“Bahwa di tahun 2019 kita sukses menurunkan angka stunting. Tetapi pada tahun 2020 ada survei ketahanan pangan, ternyata kecukupan pangan anak turun drastis. Orang tua banyak yang mengalami PHK, sehingga persoalan ekonomi menjadi cacat,” tegasnya.

Agar anak bisa beradaptasi dengan protocol Covid-19 dan tidak mengalami depresi, maka pada masa transisi era kenormalan baru ini anak harus diajak berhijrah dengan memanage mental mereka, karena transisi new normal sama artinya dengan berhijrah.

“Ini harus kita bangun. Jadi sebenarnya  berdamai dengan covid-19 itu bagaimana kita memanage mental anak. Anak jangan dijadikan objek, anak harus dijadikan subjek. Kalau seandainya anak berani menegur teman dan orang tua, ini menjadi sesuatu yang luar biasa. Berikan peran, berikan saluran kepada mereka supaya mereka bisa memasuki pada jalan yang lurus,” tambahnya.

Solusi yang kedua yaitu dengan menyisipkan ibadah. Karena agama dalam kondisi seperti ini menjadi sebuah solusi jitu.

Pendiri Yayasan Alit Indonesia, Yuliati Umrah mengatakan, untuk membiasakan anak disiplin melaksanakan protokol kesehatan harus diawali oleh orang tuanya. Karena sebenarnya mereka adalah manusia peniru.

“Anak sangat meniru orang tua, anak jauh lebih mudah dikasih contoh. Tinggal orang dewasa ini memberikan contoh konkrit. Karena biasanya prilaku orang dewasa ini absurd, yang dikatakan dengan yang dilakukan tidak sama. Inilah yang kemudian menjadikan anak-anak semakin tertekan dan stress,” tandasnya.

Disisi lain, agar anak tidak mengalami depresi, maka menurut Yuli, anak harus diberikan ruang untuk berekspresi. Bagaimana ruang yang biasa dinikmati saat di sekolah dan di luar rumah bisa kembali dinikmati di dalam rumah.

“Bagaimana ruang rumah menjadi nyaman bagi anak. Anak-anak punya energi lebih, ini dikemanakan. Ruang partisipasi anak harus diperbanyak, terutama pada minat dan bakat mereka,” tambahnya.

Direktur Lembaga Psikologi dan Pengembangan SDM Media Hati, Nurul Indah Susanti yang juga menjabat sebagai Wakil Ketua Umum Bidang SDM dan Ketenagakerjaan Kadin Jatim mengatakan anak-anak membutuhkan lingkungan dan tempat yang menjadi media berekspresi dan mereka butuh kesempatan yang banyak.       

“Anak itu tidak ingin yang bertele-tele, beri mereka ruang, penghargaan, cinta, kasih sayang dan perhatian yang lebih,” ujarnya.

Sementara Ketua Umum Kadin Jatim, Adik Dwi Putranto menyatakan sangat bersimpati dan memberikan apresiasi kepada seluruh pihak yang selama ini telah memberikan perhatian kepada anak-anak di masa pandemi.

Menurut Adik, dalam situasi seperti ini, semua lapisan masyarakat harus saling mendukung dengan melakukan peran masing-masing. Dan Kadin sebagai lembaga yang menaungi pengusaha serta tenaga kerja, telah berupaya menyosialisaikan kewajiban melaksanakan protokol Covid-19 pada industri.

“Mari kita sama-sama mengkampanyekan protokol kesehatan di lingkungan masing-masing agar terputus mata rantai penyebaran Covid-19. Karena kalau tidak dilakukan, maka anak-anak kita tidak bisa sekolah dan orang tuanya juga tidak bisa bekerja. Saya berterimakasih kepada Ibu Yuli dan Bapak Kadis yang menggugah saya untuk ikut ngurusi anak-anak. Karena biasanya orang tua itu kalau ditegur temannya tidak mengindahkan, tetapi kalau anaknya yang menegur, mereka pasti akan langsung cuci tangan dan mandi di saat pulang kerja,” pungkasnya.(KS-5)
Komentar