Webinar Japnas: Terjadi supply shock dan demand shock secara bersamaan

KANALSATU – Sebuah webinar yang digelar oleh Jaringan Pengusaha Nasional (Japnas) bertajuk Potret Kondisi dan Prediksi New Normal Ekonomi Indonesia, menyimpulkan bahwa pandemic Coronavirus COVID-19 telah serata-merta menghentikan banyak kegiatan produksi akibat pembatasan mobilitas manusia, sehingga terjadi supply shock dan demand shock secara bersamaan.

Webinar yang digelar pada Selasa (19/5/20) mulai pukul 19.30 Wib itu menampilkan dua pembicara utama, yakni Ketua Umum Japnas Bayu Priawan Djokosoetono dan ekonom Faisal Basri, yang dimoderatori oleh Wakil Ketua Umum Japnas, Boncau Fakkari Maza.

“Pandemi Covid-19 telah menyebabkan terganggunya kegiatan ekonomi bisnis secara ekstrim – khususnya sektor produksi, sehingga jalinan mata rantai sektor terkait juga terganggu, bahkan sudah ada yang mengalami stagnasi,” kata Bayu Priawan yang juga dikenal sebagai pengusaha sektor transportasi tersebut.

Menurut Bayu, pemerintah telah berupaya melakukan mitigasi atas kemungkinan terpuruknya dunia usaha, sebagaimana dilakukan oleh hampir semua negara di dunia – dengan mengalokasikan anggaran khusus penanganan dampak ekonomi akibat Covid-19. “Namun dunia usaha perlu melakukan prediksi secara cermat dan lebih prudential agar tidak terlalu dalam menanggung risiko,” katanya.

Sementara itu, Faisal Basri mengatakan,  telah terjadi supply shock dan demand shock secara bersamaan akibat pandemic global Covid-19, khususnya sektor manufaktur hulu - hilir, sehingga pengaruhnya dahsyat ke sektor lainnya. “Bahkan sektor keuangan mengalami guncangan, bursa saham dan pasar obligasi ikut tertekan. Investasi nyaris berhenti, dan jutaan pekerja telah dirumahkan,” katanya.

Hampir semua negara di dunia, kata Faisal, ekonominya mengalami tekanan yang hebat akibat pandemic Coronavirus. “Kurva aggregate supply bergeser ke kiri. Semua sektor terkait terganggu, sehingga mengakibatkan demand shock, menggeser aggregate demand ke kiri atau ke bawah. Semua negara telah mengalokasikan anggaran besar untuk menangani Covid-19, sekaligus mitigasi dampaknya, khususnya sektor ekonomi - bisnis,” jelas Faisal.

Faisal membandingkan krisis ekonomi dan depresi besar pada 1929 akibat wabah penyakit yang nota-bene berbeda dengan kondisi dunia akibat pandemic Coronavirus pada 2019. Pada masa yang lalu, katanya,  langsung tersedia obatnya dengan sejumlah kebijakan ekonomi untuk memulihkannya. Berbagai perangkat kebijakan ekonomi membuat kegiatan usaha dan masyarakat bisa terus berlangsung - walaupun skalanya menciut.

“Tapi akibat pandemic Covid-19 saat ini, semua berjalan serba tidak jelas. Sistem informasi dan globalisasi yang sangat masif menjadikan kondisi ekonomi dunia terguncang. Akibatnya di tingkat operasional bisnis terjadi supply shock dan demand shock secara bersamaan. Butuh kebijakan ekstra keras dan dana yang besar untuk mitigasi dan penyelamatannya menuju kondisi new-normal,” kata Faisal Basri.

Faisal mencontohkan Amerika Serika yang telah menganggarkan dana sangat besar untuk penanganan dampak Covid-19, diantaranya Kongres dan White House menyepakati US$2,35 triliun untuk menopang para pekerja yang kehilangan pekerjaannya, dan industri yang terpukul. Selain juga memasok berbagai kebutuhan vital sistem penanganan kesehatan dalam jumlah yang sangat besar.

Kongres dan White House, kata Faisal, juga menyetujui paket bantuan senilai US$484 miliar untuk usaha kecil yang terimbas Coronavirus. Juga mengesahkan paket tambahan senilai US$3 triliun. Sedangkan Bank Sentral AS (The Federal Reserve) memompakan likuiditas sebesar US$4 triliun ke dalam perekonomian makro. “Ini sungguh suatu langkah yang tak pernah terjadi sedemikian masifnya dilakukan AS pada masa sebelumnya.”

Di Indonesia, kata Faisal, pandemi Covid-19 yang telah menyebar ke hampir semua provinsi – masih berada di lereng menuju puncak kurva. Sementara rendahnya kapasitas sistem pelayanan dan kesehatan lumayan merata, sehingga tingkat kematian (case fatality rate) Indonesia pada kasus wabah ini mencapai 6,6%, atau yang tertinggi di Asia.

Menurut dia, berbeda dengan perang konvensional yang selalu melahirkan dua kutub yang saling bertentangan. Pada konteks pandemic Coronavirus, katanya, yang telah menjelma sebagai pandemik global dan telah menjadi musuh bersama, dibutuhkan aksi kolektif secara bersama (global) untuk menghadapinya.

“Negara maju membantu negara miskin yang lebih rentan. Menghimpun segala sumber daya dan berbagi data, temuan, pengalaman, dan vaksin. Perlu semacam global solidarity guna menuju keseimbangan baru antara interdependency dengan penguatan nation-state. Menutup diri bukanlah solusi. Konsolidasi di tingkat nation-state dalam periode transisi, juga diperlukan – tapi bukan anti asing.”

Jika kebersamaan dunia berjalan baik, kata Faisal, maka situasi ekonomi akan terselamatkan. Hubungan antara pasar dan negara akan terseimbangkan kembali. “Ini akan disertai dengan keseimbangan kembali antara hiper-globalisasi dan nasional otonomi. Tapi apa yang terjadi dalam krisis ini (akibat Coronavirus) sejauh ini bukanlah indikator masa depan.” (ksc)

 

Komentar