Virus Corona Merebak, Empat Sektor Dipastikan Terdampak

Deputi Kantor Perwakilan Bank Indonesia Jawa Timur, Harmanta


KANALSATU - Merebaknya virus korona ke penjuru dunia dipastikan akan berdampak negatif terhadap kinerja ekonomi Indonesia, termasuk Jawa Timur. Bank Indonesia (BI) Kantor Wilayah Jawa Timur pun menurunkan target pertumbuhan ekonomi Jatim sebesar 0,1 persen, dari 5,3 persen - 5,8 persen menjadi 5,2 persen - 5,7 persen.

Sebelumnya, Bank Indonesia (BI) menurunkan target pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 0,1 persen dari 5,1 persen hingga 5,4 persen menjadi 5,0 persen hingga 5,3 persen.

Deputi Kantor Perwakilan Bank Indonesia Jawa Timur, Harmanta mengatakan bahwa hubungan ekonomi Jatim terhadap Tiongkok sangat erat sekali. Sehingga apapun yang terjadi di sana sangat berpengaruh kepada kinerja ekonomi Jatim.

Setidaknya, ada empat sektor yang dipastikan akan terkendala akibat mengganasnya virus korona di negara tirai bambu tersebut.

“Karena Jatim memiliki ikatan erat dengan Tiongkok, khususnya Wuhan terkait manufakturnya. Sehingga jalur ekspor impor, perdagangan antar kedua belah pihak pasti akan terganggu. Kedua pariwisata Jatim juga akan terganggu karena jumlah wisatawan dari Tiongkok yang masuk jatim adalah dua yang terbesar setelah Malaysia, selanjutnya remitansi TKI asal Jatim jua terkendala dan yang terakhir investasi Penanaman Modal Asing (PMA) di di Jatim juga akan terkendala karena investasi Tiongkok di Jatim adalah yang terbesar kedua setelah Singapura,” terang Harmanta saat Bincang Bersama Media (BBM) di Surabaya, Kamis (5/3/2020).

Meskipun dipastikan akan berdampak terhadap ekonomi Jatim, namun Harmanta optimistis tidak akan berlarut dan akan kembali membaik di kuartal II/2020 karena keseriusan pemerintah Tiongkok dalam menangani kasus tersebut. Bahkan saat ini, jumlah korban baru yang terjangkit virus korona di sana sudah mulai menurun.

“Virus korona ini tidak seganas virus yang sebelumnya, Mers dan Sars yang tingkat fatalitasnya mencapai 30 persen hingga 40 persen. Virus korona ini tingkat kematiannya hanya sebesar 2 persen hingga 4 peren sehingga saya yakin ini akan mudah terlewati. Harapan selesai di kuartal I dan di kuartal II, III dan IV sudah mulai berlari,” ujarnya.

Agar ekonomi Jatim tidak tergerus cukup dalam, maka yang harus dilakukan adalah secara terus menerus melakukan kampanye 'Jangan Panik'. Karena kepanikan akan mendorong masyarakat untuk melakukan aksi borong bahan kebutuhan pangan yang selanjutnya akan berdampak pada kurangnya stok dan naiknya harga komoditas pangan.

“Aksi panic buying harus dicegah karena bisa berdampak pada kenaikan harga barang dan tingginya inflasi Jatim. Dan kami sudah melakukan koordinasi dengan Tim TPID Jatim untuk menjaga ketersediaan pasokan dan stabilnya harga bahan kebutuhan pokok di pasar. Selain itu, kami juga menarik maju berbagai kegiatan untuk dilaksanakan pada bulan ini. Hal ini untuk memberikan stimulus bagi pergerakan ekonomi di Jatim,” pungkasnya. (KS-5)

Komentar