BEI Dorong Perusahaan Keluarga Untuk IPO

Kepala Kantor BEI Jatim, Dewi Sriana Rihantyasni


KANALSATU - Pertumbuhan perusahaan keluarga di Jatim dalam kurun waktu beberapa tahun ini cukup signifikan. Untuk itu Bursa Efek Indonesia (BEI) Kantor Perwakilan Jawa Timur terus mendorong potensi perusahaan keluarga di Jatim untuk melakukan Initial Public Offering (IPO)

Kepala Kantor BEI Jatim, Dewi Sriana Rihantyasni mengatakan sejauh ini minat perusahaan keluarga untuk melakukan IPO sudah cukup bagus. Bahkan masyarakat sudah mulai memahami bahwa untuk melakukan IPO tidak harus dalam jumlah yang besar hingga triliunan, tapi hanya dengan aset Rp5 miliar.

"Memang minat perusahaan keluarga untuk IPO sudah cukup bagus tapi kami harus sering info ke masyarakat agar lebih paham,” kata Dewi Sriana seusai workshop media BEI Jatim, Kamis (27/2/2020).

Ana sapaan akrab Dewi Sriana menjelaskan, dalam kegiatan sosialisasi dan workshop kepada perusahaan-perusahaan di Jatim, BEI menggandeng komunitas-komunitas Tionghoa di Surabaya seperti Organisasi Sarjana dan Profesional Buddhis Indonesia (SIDDHI), Perkumpulan Marga Huang Jatim, Generasi Muda Indonesia Tionghoa Jatim, Komunitas Billionnaire Mindset Jatim, dan Muda Mudi Perkumpulan Hwie Tiauw Ka Surabaya.

“Dalam kegiatan sosialiasi dan workshop itu nanti akan dijelaskan bahwa manfaat IPO itu banyak, tidak hanya soal pendanaan tapi juga sebagai salah satu bentuk promosi gratis dan karyawannya bisa teredukasi tentang pasar modal,” jelasnya.

Tahun ini, kata Dewi, BEI menargetkan ada 79 perusahaan secara nasional yang akan IPO, sedangkan di Jatim sudah ada dua perusahaan. Namun begitu, target tahun ini tidak secara spesifik menyasar perusahaan keluarga.

Berdasarkan data BEI Jatim, per Desember 2019 terdapat 35 emiten yang tercatat dalam bursa. Jumlah tersebut terus berkembang sejak 2017 yang tercatat hanya 29 emiten, lalu pada 2018 meningkat menjadi 33 emiten.

Sedangkan jumlah investor pada 2019 tercatat mencapai 139.187, meningkat dibandingkan 2018 yang hanya 104.949. Dari data tersebut, terdapat nilai transaksi investasi saham sebesar Rp130,7 tiliun pada 2019, atau naik dibandingkan transaksi pada 2018 yakni Rp116 triliun. (KS-5)
Komentar