Kanim Tanjung Perak Deportasi WNA Asal Bangladesh

Overstay Lebih dari 60 Hari


KANALSATU - Kantor Imigrasi (Kanim) Kelas I TPI Tanjung Perak mendeportasi seorang Warga Negara Asing (WNA) asal Negara Bangladesh. Yang bersangkutan melakukan pelanggaran izin tinggal sementara hingga melebihi batas waktu yang ditentukan (overstay) di atas 60 hari.

“Hari ini kami telah melakukan deportasi kepada satu orang WNA asal Bangladesh bernama MD Shah (44), karena telah overstay. Yang bersangkutan kami deportasi dan dikenai tangkal paling lama enam bulan," kata Kasubsi Intelijen Keimigrasian Kanim Tanjung Perak, Iyan Sagala, Jumat (21/2/2020).

Iyan menyebutkan, MD Shah melanggar ketentuan Pasal 78 ayat 3 Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2011 tentang Keimigrasian. Dimana dalam pasal tersebut menyebutkan bahwa orang asing pemegang izin tinggal yang berakhir masa berlakunya dan masih berada dalam wilayah Indonesia lebih dari 60 hari dari batas waktu izin tinggal dikenai tindakan administratif berupa deportasi dan penangkalan.

Iyan menjelaskan, bahwa untuk kasus overstay terdiri dari dua penindakan. Apabila kurang dari 60 hari akan dikenakan denda, namun jika lebih dari 60 hari, dideportasi dan dikenai tangkal paling lama enam bulan.

Iyan menuturkan, WNA asal Bangladesh ini masuk ke Indonesia melalui Bandara Soekarno-Hatta (Soeta) pada 1 Agustus 2019 dan tinggal di Kabupaten Bojonegoro. Seharusnya WNA tersebut meninggalkan wilayah Indonesia pada 29 September 2019, namun sampai saat ini dia masih berada di Indonesia, sehingga akumulasi lama dia tinggal di Indonesia telah mencapai 145 hari.

Menurut Iyan, yang bersangkutan hari ini akan langsung di pulangkan ke Dhaka dengan menggunakan penerbangan AirAsia dengan nomor penerbangan QZ-326, pukul 15:30 WIB melalui Bandara Internasional Juanda Surabaya.

"Yang bersangkutan ini punya keluarga disini, sudah memiliki 2 orang putra. Dan sudah menikah secara sah. Jika WNA tersebut ingin kembali berkumpul dengan keluarganya di Indonesia. Tapi yang bersangkutan harus menunggu diluar selama 6 bulan, sampai dia bisa mengurus ke Direktorat Jenderal Imigrasi untuk pencabutan namanya dari daftar tangkal," tuturnya.

Iyan juga menambahkan, sebenarnya yang bersangkutan sudah pernah melapor bahwa ingin melakukan perpanjangan izin tinggalnya, namun ditipu temannya.

"Saya pernah ngurus visa, tapi kena tipu dari kawan. Menunggu kakak saya kirim uang kesini tapi tak sampai-sampai, hingga saya kena overstay," ungkap MD Shah, seraya menambahkan bahwa pada tahun 2005 dia telah melakukan pernikahan di Malaysia. (KS-5)
Komentar