PTPN XI Ekspor Daun Tebu Kering ke Jepang

Direktur Utama PT Perkebunan Nusantara XI, Gede Meivera Utama Adnjana Putera saat pelepasan ekspor perdana daduk di Pabrik Gula Djatiroto Lumajang Jumat (13/2/2020).

KANALSATU - PT Perkebunan Nusantara XI melakukan ekspor perdana daun tebu kering atau daduk ke Jepang. Di tahap pertama ekspor daduk ini sejumlah 17 ton berasal dari lahan HGU PG Djatiroto.

Ekspor dilakukan bekerjasama dengan mitra yang bergerak di bidang bisnis produksi dan perdagangan biomassa.

"Kami memanfaatkan peluang yang selama ini dengan tidak sadar seolah disia-siakan bahkan berpotensi merusak lingkungan dengan membakar daun tebu kering atau daduk, dalam istilah lainnya Sugar Cane Top (SCT). Sementara kita juga tahu tanaman tebu dari pucuk sampai akar ada manfaatnya," terang Direktur Utama PT Perkebunan Nusantara XI, Gede Meivera Utama Adnjana Putera dalam pelepasan ekspor perdana daduk di Pabrik Gula Djatiroto Lumajang Jumat (13/2/2020).

Asumsi perolehan jumlah daun kering sebanyak 2 persen pada saat masa pemeliharaan (klentekan) dan 10 persen pada saat musim giling/panen dengan protas sebesar 800 Ku/Ha.

Dengan demikian potensi pasokan daduk diperkirakan ± 16 Ku/Ha pada masa pemeliharaan dan ± 80 Ku/Ha pada masa panen.

"Kedepan akan kami kembangkan melalui inovasi-inovasi milineal PTPN XI terkait pengembangan pemanfaatan tanaman tebu selain core business yakni gula. Sementara ini kita coba eksport daduk. Hasilnya menjanjikan pendapatan yang tinggi bahkan cukup untuk menutupi biaya kebun yang berpengaruh positif terhadap HPP kami," jelasnya.

Direncanakan ekspor akan dilakukan berkala tergantung kesediaan bahan baku, mengikuti pekerjaan kebun yakni masa klentek dan panen. "Bila mitra petani berminat maka akan kami kembangkan di wilayah lainnya. Ekspor akan mengikuti ketersediaan bahan baku yaitu sesuai pekerjaan kebun diantaranya masa klentek dan panen," jelas Gede.

Seperti diketahui dalam fase pertumbuhan tanaman tebu dilakukan klentek pengupasan daun kering sebanyak dua kali dengan tujuan memperlancar sirkulasi udara dan proses fotosintesis, menaikkan rendemen, mencegah keluarnya akar pada ruas, mencegah kebakaran kebun tebu, mengurangi kelembaban hingga meringankan beban tanaman sehingga tidak mudah roboh.

Daduk hasil kegiatan klentek atau sisa tebangan biasanya menjadi sampah dan kebanyakan dibakar langsung di lahan karena dianggap sebagai pilihan paling praktis untuk persiapan lahan penanaman tebu atau pekerjaan pemeliharaan tanaman keprasan ratoon cane yang berdampak pada pencemaran udara. Dengan tidak dilakukannya pembakaran daun tebu, bermanfaat mengurangi risiko ketidakseimbangan populasi fauna tanah dan mempertahankan kandungan bahan organik tanah.

Terpisah, Komisaris Utama PT Perkebunan Nusantara XI Dedy Mawardi memberikan apresiasi atas inisiatif manajemen. "Komisaris mengapresiasi kinerja Direksi beserta jajaran yang memanfaatkan daduk, selama ini dianggap sebagai sampah tebu menjadi memiliki competitive advantages terlebih untuk kepentingan eksport ke Jepang, dalam artian juga mendukung program pemerintah dalam meningkatkan eksport secara luas," ujar Dedy di sela-sela kegiatan Kick Off Meeting Assesment GCG Holding Perkebunan Nusantara di Bandung sehari sebelumnya.

Di negara importir, daduk akan digunakan sebagai soil conditioner atau tambahan unsur hara untuk meningkatkan kualitas tanah dan mulsa yakni menutup permukaan tanah guna menjaga kelembapan dan menghindari penguapan yang lebih tinggi, menghambat tumbuhan gulma hingga bila daduk tersebut lapuk akan menjadi pupuk organik penyedia unsur hara bagi tanah. (KS-5)
Komentar