TGC Coffee Angkat Potensi Kopi Lokal

Ketua Asosiasi Pengusaha Kafe Restoran Indonesia (Apkrindo) Jatim, Tjahjono Haryono (kiri) dan Owner TGC Coffee Roasery and Retalier Daniel Ko (tengah) bersama barista di TGC Coffee shop Basuki Rahmat, Surabaya, Selasa (1/10/2019).

 

KANALSATU – Saat ini, meminum kopi atau ngopi di coffee shop sudah menjadi bagian dari gaya hidup. Hal ini menjadikan semakin bermunculannya kedai kopi di kota ini.

Salah satu kedai kopi di Surabaya, The TGC Coffee mengangkat kopi lokal sebagai andalan. Owner TGC Coffee Roasery and Retalier Daniel Ko mengatakan Indonesia sudah dinyatakan oleh PBB sebagai surganya kopi pada tahun 2017.  

Di  TGC Coffee sendiri memiliki lebih dari 100 varian biji kopi dari Indonesia maupun impor yang semuanya adalah arabika. ”Tapi kopi impor hanya 10-15 persen. Meski demikian kami memiliki jenis kopi Gesha asal Ethiopia yang terkenal langka dan mahal. Visi kami adalah mengangkat kopi lokal. Bahwa kopi lokal tidak kalah dengan yang impor,” ujar Daniel disela grand opening TGC Coffee Shop yang kedua di Surabaya, Selasa (1/10/2019).

Kopi asli Indonesia yang disediakan di TGC Coffee diantaranya Toraja, Mandheling, Gayo, Bali, Java, Preanger, Lintong, hingga Luwak. Sedang kopi impor, diantaranya Honduras, Tanzania, Guatemala, Colombia, Brazil, Ethiopia, hingga Gesha coffee.

Dikatakannya, TGC Coffee memang menghadirkan konsep cafe manual brew dimana pengunjung bisa langsung melihat bahkan melakukan sendiri proses seduhnya. Pembeli juga dapat memilih seduh manual dengan berbagai metode atau seduh dengan mesin Black Eagle.

Grinder dikatakan Daniel memegang peranan sangat penting saat melakukan brewing kopi. Ibaratnya, kalau manusia akselerasi pergerakannya sangat tergantung pada jantung, maka grinder dalam kopi adalah nyawa dalam penyeduhan. ”Salah memilih grinder, maka siap-siaplah kopi seduhan Anda gagal total. Bukan apa-apa, presisi biji kopi yang sudah dihaluskan dengan ukuran tertentu sangat menentukan citarasa kopi. Maka jangan heran kalau ada pelaku kopi yang berburu grinder meski harganya selangit," ujar lelaki yang juga memiliki bisnis ikan Koi ini.

Mengusung konsep manual brew dengan jenis kopi terbaik diakui Daniel memang memiliki segmen pasar yang terbatas. ”Marketnya emang kecil. Tapi walaupun dibandingkan dengan kopi kekinian yang murah, kami tidak khawatir karena masing-masing punya segmen sendiri. Anak-anak kuliah bisa menggenal kopi di kopi-kopi kekinian itu. Nantinya begitu sudah bekerja, gaya hidupnya akan berubah,” ujarnya yakin.

Saat ini TGC Coffee shop memiliki tiga cabang. Yang pertama ada di Surabaya barat, kemudian yang kedua ada di Canggu, Bali.

Ketua Asosiasi Pengusaha Kafe Restoran Indonesia (Apkrindo) Jatim, Tjahjono Haryono menambahkan, pertumbuhan coffee shop mencapai double digit. ”Meskipun banyak bermunculan, tapi TGC Coffee shop ini berbeda karena memberikan experience yang berbeda,” kata Tjahyono.

Menurutnya, jika hanya mengikuti trend, suatu usaha akan mengalami masa jenuh dan menurun. Tapi yang memiliki ciri khas akan bertahan. (KS-5)

 

Komentar