Berlebihan Gunakan Gawai, Risiko Neuropati Meningkat

(Kiri-kanan) Ketua Kelompok Studi Neurofisiologi dan Saraf Tepi PERDOSSI Pusat Dr. Manfaluthy Hakim, Sp.S(K), Group Brand Manager, P&G Consumer Health Indonesia Wens Arpandy dan Medical & Technical Affairs Manager Consumer Health, P&G Health, dr. Yoska Yasahardja di Surabaya, Sabtu (14/9/2019).

KANALSATU - Ketergantungan seseorang pada gawai atau gadget terutama ponsel pintar, terus meningkat. Secara umum, pengguna internet mengakses gawainya lebih dari 8 jam setiap hari.

Padahal, penggunaan internet pada gawai berdurasi panjang dapat menyebabkan risiko kerusakan saraf tepi atau neuropati.

Saraf tepi adalah penghubung organ tubuh dengan saraf pusat yaitu otak dan sumsum tulang belakang dengan seluruh organ tubuh (organ dalam, mata, pendengaran, penghidu, kelenjar keringat, kulit dan otot - otot), karena itu sangat penting untuk dijaga agar tetap berfungsi maksimal dan terhindar dari neuropati atau kerusakan saraf tepi. "Ketika saraf tepi mengalami kerusakan maka akan muncul gejala-gejala seperti kesemutan, kebas, kram, dan kelemahan otot yang disebut dengan neuropati," kata Ketua Kelompok Studi Neurofisiologi dan Saraf Tepi PERDOSSI Pusat Dr. Manfaluthy Hakim, Sp.S(K) kepada wartawan di Surabaya, Sabtu (14/9/2019).

Luthy menjelaskan, gerakan atau kegiatan berulang umumnya menyebabkan beberapa gangguan, salah satunya gangguan saraf tepi akibat jeratan. Salah satu contoh kegiatan berulang adalah mengetik, penggunanan mouse yang terus menerus serta bermain game di komputer maupun gawai.

Bagian tubuh pengguna gawai yang berisiko terkena neuropati adalah bagian tangan, lengan terutama siku. Umumnya daerah tersebut bisa terkena neuropati akibat jeratan.

"Gejala-gejalanya antara lain kesemutan, kram, rasa terbakar, kaku-kaku, kulit kering atau mengkilap bahkan sampai mati rasa," jelas Luthy. Dikatakannya, 1-2 orang usia di atas 30 tahun mengalami gejala neuropati. 53,6 persennya merasakan kesemutan.

Gangguan neuropati dapat menyebabkan gangguan fungsi sensorik seperti nyeri, kesemutan dan baal. Selain itu juga dapat mengakibatkan gangguan keterampilan dan gangguan rasa nyaman.

Group Brand Manager, P&G Consumer Health Indonesia Wens Arpandy menambahkan,
Consumer Behavior and Lifestyle Study tahun 2014 menunjukkan, sebesar 70 persen responden mengatakan belum mengetahui cara tepat untuk mengatasi neuropati. 33,9 persen memilih beristirahat ketika merasakan gejala Neuropati. Hanya 16,8 persen saja yang minum obat atau vitamin.

"Neurobion memiliki solusi total untuk neuropati yaitu memilih produk yang tepat yaitu Neurobion, edukasi kesehatan saraf dan senam kesehatan saraf atau neuromove," ujar Wens.

Medical & Technical Affairs Manager Consumer Health, P&G Health, dr. Yoska Yasahardja mengatakan, pada Studi Klinis 2018 NENOIN (Penelitian Non-intervensi dengan vitamin neurotropik) membuktikan bahwa konsumsi kombinasi Vitamin Neurotropik yang terdiri dari vitamin B1, B6, dan B12 secara rutin dan berkala dapat mengurangi gejala neuropati seperti kebas, kesemutan, rasa terbakar dan rasa sakit secara signifikan hingga 62,9 persen dalam 3 bulan periode konsumsi. "Vitamin neurotropik yang digunakan dalam studi ini adalah Neurobion Forte," jelas Yoska.

Neurobion memiliki dua varian yaitu Neurobion Forte dan Neurobion putih. Masyarakat dapat mengatasi kesemutan akibat neuropati karena kekurangan vitamin neurotropik (B1, B6, B12) dengan Neurobion Forte. Untuk gejala yang sudah lebih ringan dan pencegahan gejala Neuropati akibat kekurangan vitamin Neurotropik (B1, B6, B12) gunakan / minum Neurobion putih. (KS-5)
Komentar