Indonesia Without Oil

Oleh Lutfil Hakim

Judul tulisan ini merujuk kepada sebuah video di YouTube tentang seandainya kehidupan ini kehabisan minyak, the world without oil. Banyak simulasi dalam bentuk video yang menggambarkan betapa paniknya kehidupan manusia saat dunia krisis minyak (the world without oil).

Semua kendaraan bermotor tidak berjalan. Pom bensin tutup. Transportasi bahan makanan terhenti. Aktivitas manusia stagnasi.

Kehidupan seolah lumpuh. Pesawat tidak terbang, karena truk angangkut an avtur tidak jalan. Kereta api parkir di stasiun. Listrik mati karena sebagian power plant pakai energi minyak. Peralatan elektronik dan semua jenis gadget mati, karena tidak di-charge akibat tiada strum listrik. Industri terhenti. Ujungnya krisis sosial terjadi. Kehidupan jadi kacau. Tapi belum kiamat.

Memang sebagian pihak sinis menganggapi penggambaran video “the world without oil” tersebut. Mereka menuding video itu hanyalah propaganda agar setiap orang berpikir seolah hidupnya hanya bergantung pada minyak. Energi minyak seolah segalanya. Padahal sebelum minyak ditemukan, sudah ada kehidupan yang berjalan secara normal.

Baru pada abad ke 8, ketika revolusi industri menemukan teknologi mekanik, minyak bisa digali dan diproduksi secara massal. Diolah, kemudian menjadi sumber energi utama yang diperdagangkan secara luas. Tadinya hanya disuling secara tradisional dengan jumlah produksi yang sangat sedikit.

Terlepas soal manusia bisa survival tanpa minyak, tapi membayangkan penyesuaian hidup manusia saat minyak habis, sungguh mengerikan. Memang sumber energi lain terus ditemukan seiring perkembangan teknologi. Namun di banyak negara, komposisi minyak dalam bauran energi primer masih terbesar. Di Indonesia, misalnya, porsi minyak (ditambah gas) masih 69 persen. Padahal source of oil energy ada batasnya. Pada saatnya minyak akan habis.

Di sinilah letaknya kenapa minyak menjadi komoditi paling diburu. Menjadi komoditas sangat penting, dan kerap dijadikan bencmarking terhadap fluktuasi ekonomi. Jika harga minyak naik, semua barang ekonomi ikut naik. Inflasi ikut naik. Terkadang diikuti ketegangan politik yang mengarah kepada aksi koreksi terhadap kemampuan pemerintah.

Perburuan minyak tidak hanya di wilayah dalam negeri, tapi “rela” ekspasionis ke pelataran negara orang lain yang memiliki kandungan minyak. Bahkan sejarah mencatat, sedikitnya ada lima peristiwa perang besar di dunia yang dipicu oleh persoalan (baca: daya tarik) minyak, diantaranya: 1. Perang Irak- Iran (1980-1988). 2. Invasi AS ke Irak (1991 – 2003). 3. Perang Suriah (sejak 2011). 4. Krisis Heglic 2012 (perbatasan Sudan dan South Sudan). 5. Perang sipil Nigeria (1967 – 1970). Ke lima perang besar itu banyak memakan korban.

Dari gambaran tersebut, hampir semua aspek kehidupan di dunia membutuhkan minyak (direct/ indirect). Termasuk kehidupan di Indonesia. Meski di nusantara ini banyak kandungan dan ladang minyak yang telah aktif berproduksi, namun jumlahnya jauh di bawah angka kebutuhan. Bukan hanya produksinya yang turun, bahkan cadangannya pun terus menurun.

Kenapa hal itu terjadi, karena banyak aspek yang melatari, khususnya yang terkait dengan lambannya kegiatan lifting minyak, serta hambatan regulasi dan rumitnya investasi dibidang perminyakan nasional. Padahal tingkat kebutuhan minyak dalam negeri terus naik – seiring terus meningkatnya jumlah industri dan kendaraan bermotor. Sehingga ancaman krisis energi minyak di Indonesia kian hari kian nampak jelas.

Pada saatnya, sangat mungkin Indonesia tidak memiliki minyak sama sekali – ketika kebutuhan akan energi minyak dalam negeri berada pada posisi yang sangat tinggi. Dampaknya, pasti kehidupan ekonomi akan lebih sulit dari sekarang. Sebuah babak baru kehidupan IndonesiaTanpa Minyak.

Memang tidak semua negara yang tidak memiliki minyak, seperti Korea Selatan, kehidupan ekonominya menjadi susah. Karena kemajuan industri manufaktur menjadi penopang utamanya. Sementara Indonesia, ketika masih memiliki minyak saja sudah berat secara ekonomi, apalagi kalau minyak sudah habis, dan seluruh kebutuhan energi minyak akan impor.

Mengembangkan energi alternatif adalah keniscayaan. Namun terus melakukan pencarian cadangan baru minyak dan menggenjot produksinya adalah determinant. Sebab gap antara konsumsi dan produksi minyak bumi semakin besar dari tahun ke tahun. Ini sebuah fakta yang perlu dipikirkan secara serius solusinya.

Berdasarkan statistik yang diterbitkan British Petroleum (BP) pada 2016, konsumsi minyak bumi di Indonesia mencapai 1,615 juta barel per hari. Sementara itu, data SKK Migas menunjukkan rata-rata produksi minyak bumi nasional pada 2016 hanya 825 ribu barel per hari. Padahal sepuluh tahun yang lalu (2006) produksi minyak Indonesia sempat di atas satu juta barel per hari.

Kebutuhan energi terus menunjukkan tren meningkat setiap tahunnya. Dari bidang transportasi, pada 2013 jumlah kendaraan bermotor tercatat 104 juta. Pada 2015 sudah naik menjadi 122 juta. Sedangkan pertumbuhan industri manufaktur skala sedang dan besar mencapai 4 persen. Pada 2016 dan 2017, keduanya sektor (transportasi dan industri) tumbuh signifikan. Ini yang kemudian menjadikan Indonesia sebagai negara net-importir minyak dalam beberapa tahun terakhir.

Beruntung masih ada gas, sehingga angka konsolidasi antara minyak dan gas (migas) kontribusinya terhadap bauran energi primer nasional masih tinggi (69 persen). Tapi tingginya kontribusi migas ini menjadi tidak baik kalau tidak segera dicarikan energi alternatif (baru terbarukan). Karena keduanya (minyak dan gas) sama-sama ada batasnya.

Menurut estimasi Dewan Energi Nasional (DEN) konsumsi migas Indonesia akan menjadi 3,63 juta barel setara minyak per hari di tahun 2025,  dan naik menjadi 8,49 juta barel setara minyak per hari di tahun 2050. Di sisi lain, tren lifting migas terus menurun.

Menurut data SKK Migas, lifting migas (minyak dan gas) setidaknya telah turun sejak 2010, yakni dari 2,34 juta barel setara minyak per hari -- menjadi 1,928 juta barel setara minyak per hari per Juli 2017.  Sementara temuan cadangan baru masih sulit dilakukan di tengah terbatasnya anggaran dan rendahnya minat investor di sektor pencarian.

Tanpa ada temuan cadangan baru, lifting diperkirakan masih akan terus merosot menjadi 1,75 juta barel setara minyak per hari di tahun 2020. Di sinilah titik krusialnya. Di satu sisi dinamika perkembangan ekonomi dan bisnis membutuhkan pasok energi migas yang cukup untuk mencapai keseimbangan economic growth, tapi di sisi lain sumber daya migas pasoknya tidak bertambah, bahkan cenderung menurun.

Beruntung dari sektor gas-bumi, Indonesia belum menjadi negara net importir, karena pasokan gas dalam negeri masih lebih besar dari konsumsinya. Namun, tren pemakaian gas terus meningkat dari tahun ke tahun. Pada tahun 2011, konsumsi gas tercatat 3,15 miliar kaki kubik per hari. Pada 2016 naik menjadi 3,85 miliar kaki kubik per hari. Estimasi DEN, pada 2025 konsumsi gas domestik diduga naik menjadi 9,5 miliar kaki kubik per hari, kemudian melonjak ke angka 26 miliar kubik per hari pada 2050. Artinya cadangan gas bumi juga harus terus dicari sebelum posisinya seperti minyak.

Banyak faktor yang membuat produksi migas menurun dalam beberapa tahun terakhir, diantaranya usia lapangan migas yang rata-rata sudah tua. Sekitar 72 persen produksi migas nasional berasal dari lapangan yang telah berusia lebih dari 30 tahun. Padahal laju penurunan alamiah lapangan migas Indonesia sangat tinggi. Untuk minyak bumi, rata-rata penurunan alamiah mencapai 29 persen per tahun dan gas bumi 18 persen per tahun. Butuh biaya tinggi untuk mempertahankan level produksi migas.

Selain itu, sebanyak 64 persen pipa panyalur dan 57 persen anjungan lepas pantai sudah terpasang sebelum tahun 1980. Artinya rata-rata sudah berusia hampir 30 tahun. Pencarian cadangan migas melalui kegiatan eksplorasi pun belum membuahkan hasil yang menggembirakan. Cadangan migas Indonesia juga semakin menipis.

Berdasarkan data SKK Migas, untuk minyak pada tahun 2009, cadangan terbukti sebesar 4,3 miliar barel. Jumlah ini turun menjadi 3,3 miliar barel pada 2016. Begitu pula dengan gas bumi, pada 2009 cadangan terbukti sebesar 107,3 triliun kaki kubik, turun menjadi 101,2 triliun kaki kubik pada 2016. Ini sejalan dengan data dari BP pada 2016,yakni cadangan minyak Indonesia hanya 0,2 persen dari total cadangan minyak dunia. Sedangkan untuk gas, cadangan terbukti Indonesia hanya 1,5 persen dari cadangan gas dunia. 

Dari angka tersebut tidak mengherankan apabila nilai ketergantian cadangan atau reserve replacement ratio (RRR) sangat jauh dari ideal. Angka RRR pada 2016 hanya 64,4 persen. Nilai ideal RRR seharusnya 100 persen. Artinya, bila diambil 1 barel minyak dari perut bumi, mesti diimbangi dengan upaya menemukan cadangan baru dengan volumen yang minimal sama
.
Reformasi Kebijakan

Reformasi kebijakan migas nasional dituntut (harus) lebih fleksibel di tengah suramnya iklim yang ada. Karena minat investasi sektor ini kian hari kian melemah.
Bahkan hasil survei indeks persepsi oleh Fraser Institute, organisasi riset independen internasional, menunjukkan iklim investasi migas di Indonesia menduduki peringkat ke 79 di dunia, terendah dibanding negara-negara Asean lainnya. Malaysia di posisi 41, dan bahkan negara sekelas Kamboja pun masih di peringkat 72. 

Penilaian tersebut berdasarkan beberapa variabel, antara lain tingginya nilai pajak bagi pelaku industri hulu migas, serta tinnginya beban kewajiban, ketidakpastian regulasi, instabilitas politik dan faktor keamanan. Artinya, investasi hulu migas di Indonesia dinilai tidak menarik, terlebih di tengah upaya-upaya perusahaan tambang migas yang kini harus berjalan prudential dan efisien pasca tidak bergeraknya harga minyak mentah dunia dalam beberapa tahun terakhir.

Penurunan harga minyak dunia yang terjadi tiga tahun terakhir semakin menekan industri hulu migas. Pada Juni 2014, harga minyak masih bertengger di angka US$112 per barel. Status per Juni 2017, harga minyak berada dikisaran US$48 per barel. Banyak investor migas menurunkan aktifitas eksplorasi di banyak negara, termasuk di Indonesia.

Perusahaan migas melakukan hal itu untuk menekan pengeluaran dan menghindari kerugian. Terlebih jika kebijakan migas negara tujuan investasi dinilai memberatkan, makin tidak menarik baginya. Indonesia sudah berada pada posisi negara yang tidak menarik.
Bila keadaan tersebut terus berlanjut dan tidak ada perbaikan iklim investasi di Indonesia, bukan tidak mungkin investor semakin enggan menanamkan modalnya. Bahkan, investor existing bisa saja hengkang. Hal ini akan berdampak tidak baik terhadap tingkat ketahanan energi nasional dan performa perekonomian di masa mendatang.

Pada kondisi berat demikian dan kian jelasnya bayang-bayang krisis migas nasional di masa mendatang, tahapan pertama yang harusnya diupayakan oleh seluruh stake-holder adalah melakukan perbaikan iklim investasi, minimal menempatkan Indonesia pada posisi 10 besar sebagai negara yang seksi untuk ladang investasi hulu migas.

Semua pihak ke depan harusnya menunjukkan keseriusan untuk menjadi bagian terpenting pada proses reformasi kebijakan bidang hulu migas secara menyeluruh, bukan untuk kepentingan investasi semata-- tapi lebih untuk ketahanan energi nasional di masa depan. 

Apa solusi - antsipasi kemungkinan terjadinya krisis migas ke depan, harusnya sudah dirumuskan secara seksama sejak saat ini. Setidaknya ada beberapa hal penting yang perlu segera dilakukan. Diantaranya perbanyak eksplorasi dengan target lapisan tanah yang lebih dalam. Lalu mengeksplorasi daerah-daerah terpencil, perairan laut dalam, dan cekungan-cekungan lain yang berpotensi mengandung cadangan migas. Saat ini masih ada 74 cekungan hidrokarbon yang belum dieksplorasi. 

Selain itu pada, pada cekungan yang sudah menghasilkan migas, potensi pun masih lumayan tersedia sepanjang kegiatan eksplorasinya terus  digalakkan. Contohnya, penemuan cadangan minyak yang cukup signifikan di Blok Cepu pada tahun 2001. Padahal sebelumnya di sekitar wilayah tersebut sudah cukup banyak kegiatan produksi migas yang berasal dari sumur tua.

Jika upaya pencarian cadangan baru di banyak cekungan kawasan lama terus digalakkan, sangat mungkin penemuan sepeti terjadi kawasan Blok Cepu akan terjadi. Masifnya kegiatan eksplorasi ini akan tercapai bila iklim investasi hulu migas di Indonesia kompetitif. Dibutuhkan penyederhanaan regulasi dan perizinan, serta insentif dan fasilitas yang menarik.
Solusi berikutnya, produksi dan konsumsi harus dilakukan secara seimbang. Harus ada edukasi pada tataran konsumsi (hilir). Cadangan migas yang ada di perut bumi tidak asal dikuras habis, tapi pemakaiannya harus irit. Target produksi harus disesuaikan dengan kemampuan reservoir atau lapisan batuan yang menyimpan cadangan migas. Tujuannya, agar jangka panjang tidak terjadi kerusakan reservoir.

Diversifikasi pemakaian energi dan aneka-ragam energi (EBT) sudah menjadi keniscayaan. Konversi minyak ke gas adalah salah satu contoh. Misalnya pembangkit listik yang tadinya menggunakan energi minyak beralih ke gas. Ini langkah efisien dan bisa menyokong penambahan jumlah power-plant baru.

Pemanfaatan energi baru terbarukan (EBT) harus terus ditingkatkan. Pada 2016 lalu, EBT hanya tercatat 5 persen dari total pasokan energi nasional. Diperlukan usaha lebih keras agar porsi EBT dalam kerangka ketahanan energi nasional semakin bertambah. Ketergantungan terhadap energi dari fosil (minyak) harus terus dikurangi agar pengelolaan energi nasional ke depan bisa berjaln secara berkelajutan.*** (lh)
Komentar