Kesetaraan Gender Turut Pengaruhi Angka Kematian Ibu

(kiri-kanan) Juri Nasional PAKI Award 2019, Prof. Dr. Erry Gumelar, SpOG (K), KP : Kabid Kesmas Dinkes Kulonprogo, drg Hunik Rimawati dan Plt Kepala Dinas Kesehatan Kulonprogo, Sri Budi Utami seusai menerima penghargaan PAKI Award di PIT POGI ke-24 di Surabaya, Senin (8/7/2019).

KANALSATU – Kesetaraan gender ikut berpengaruh terhadap upaya penurunan Angka Kematian Ibu. Namun sayangnya hal ini masih kurang mendapat perhatian.

”Kesetaraan gender belum pernah disentuh. Selama ini perumpuan termarginalisasi oleh laki-laki sehingga tidak mempunyai kesempatan mengurus dirinya. Perempuan hanya diberi peran di sektor domestik,” kata spesialis Obstetri dan Ginekologi, Prof. dr. Dr Dikman Angsar Sp.OG (K) ketika ditemui disela Pertemuan Ilmiah Tahunan Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia (PIT POGI) ke-24 di Surabaya, Senin (8/7/2019).

Perempuan juga seperti tidak memiliki hak atas tubuhnya. Misalnya saat ia hamil, untuk pergi ke klinik memeriksakan kandungannya, harus menunggu persetujuan suami. Begitu juga untuk penggunaan kontrasepsi. Di sisi lain, tidak sedikit suami yang justru tidak mempedulikan kehamilan istrinya. ”Jangankan menemani kelas ibu hamil atau periksa, usia kandungan istrinya saja tidak tahu,” sambung Dikman yang juga Direktur RS Universitas Airlangga ini.

Karena itu menurut Dikman, pendekatan kesetaraan gender harus dilakukan. Perlu dibangun sistem yang kuat dan melibatkan banyak sektor. Mulai dari SDM kesehatan, sarana prasarana, metode, pendanaan serta ligkungan di sekitarnya.

Untuk pertama kalinya, dalam penyelenggaraan PIT POGI akan menyelenggarakan  PAKI (Penurunan Angka Kematian Ibu) Award. Pada tahun 2019, Kabupaten Kulonprogo menjadi pemenang PAKI Award mengalahkan kota/kabupaten lain di Indonesia.

Kepala bidang Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan Kabupaten Kulonprogo, drg. Hunik Rimawati mengatakan apa yang dilakukan di wilayahnya merupakan kerja bersama lintas sektoral. ”Memang ada kebijakan-kebijakan bupati yang kami ikuti sampai ke bawah. Camat, lurah, semua berperan,” ujarnya.

Untuk memudahkan masyarakat, khususnya ibu hamil, ada banyak terobosan yang sudah dilakukan. Dimulai dengan SMS Gateway, kemudian berkembang menjadi Rindu KIA (Jejaring Peduli Kesehatan Ibu dan Anak) serta Bumilku (Ibu hamil Kulonprogo).

Mengenai peran serta lingkungan, utamanya peran serta suami pihaknya melalui pengurus kampung juga melakukan pendekatan ke para calon bapak agar lebih peduli. ”Selain kelas ibu, kami juga ada kelas ayah. Dengan begini ibu hamil tidak merasa sendiri. Ayah juga harus siap. Pendekatannya salah satunya melalui kegiatan kumpul-kumpul di kampung, itu kami sampaikan,” ujar Hunik. (KS-5)

 

Komentar