BPR Diharapkan Dapat Berperan Aktif pada Pertumbuhan Perekonomian Jatim

Kepala OJK Regional 4 Jawa Timur, Heru Cahyono

KANALSATU - BPR konvensional mencatatkan pertumbuhan volume usaha yang baik yaitu sebesar 5,42 persen (yoy) menjadi Rp14 Triliun. Sedangkan DPK tumbuh 6,2 persen (yoy) menjadi Rp9,3 Triliun dan Kredit 6,81 persen (yoy) menjadi Rp10,3 Triliun.

Hal ini menunjukkan bahwa tingkat kepercayaan masyarakat Jawa Timur terhadap perbankan dan khususnya BPR masih terjaga dengan baik. Industri BPR
di Jawa Timur diharapkan dapat berperan aktif dalam meningkatkan
pertumbuhan ekonomi di Jawa Timur terutama pada sektor UMKM.

"OJK akan mendorong pertumbuhan kredit industri BPR di Jawa Timur dengan tetap
memperhatikan prinsip kehati-hatian mengingat NPL BPR konvensional di wilayah Kantor OJK Regional 4 sebesar 8,26 persen," kata Kepala OJK Regional 4 Jawa Timur, Heru Cahyono dalam sambutannya pada Evaluasi Kinerja BPR periode Semester I tahun 2019 dan Workshop Penerapan Manajemen Risiko BPR, Senin (1/7/2019) di Banyuwangi.

Sementara itu pangsa aset BPR konvensional terhadap industri perbankan di Jawa Timur
mencapai 2,36 persen sedangkan pangsa DPK sebesar 1,67 persen dan kredit 2,13 persen.

Heru mengatakan, industri BPR dihadapkan pada berbagai macam tantangan dengan tingkat
kompetisi yang semakin ketat dan kompleks dengan berkembangnya perusahaan fintech yang memanfaatkan teknologi dalam menawarkan produk dan layanannya.

Oleh karena itu Heru meminta agar BPR mampu lebih adaptif dan kreatif dalam mengembangkan produk dan layanan kepada masyarakat dengan memanfaatkan teknologi yang didukung SDM yang kompeten.

Seiring dengan perkembangan industri BPR yang ditunjukkan oleh
berkembangnya jumlah jaringan kantor serta kompleksitas produk dan aktivitas,
OJK Kantor Regional 4 Jawa Timur mendorong BPR untuk mengimplementasikan
manajemen risiko yang dapat disesuaikan dengan kelompok kegiatan usaha dan kompleksitas usahanya.

Heru berharap melalui sosialisasi dan implementasi SEOJK No.1/SEOJK.03/2019 tentang Penerapan Manajemen Risiko Bagi BPR, menjadi salah satu upaya untuk memperkuat kelembagaan dan
meningkatkan reputasi industri BPR sesuai dengan arah kebijakan pengembangan BPR dalam rangka menciptakan sektor keuangan yang tumbuh secara berkelanjutan dan stabil serta memiliki daya saing yang tinggi.

Dalam kesempatan tersebut ia juga menyampaikan concern mengenai pentingnya penguatan modal
bank untuk meningkatkan kapabilitas SDM dan pemanfaatan teknologi informasi agar dapat bersaing di tengah kompetisi yang ketat dan kompleks dan
mengingatkan agar BPR mengupayakan sejak dini kewajiban pemenuhan modal inti minimum yang harus dipenuhi pada akhir tahun 2019. (KS-5)
Komentar