Banyak yang Masak Opor, Daging Ayam Ras Kerek Inflasi Jatim

KANALSATU – Pada Bulan Mei 2019 Jawa Timur mengalami inlasi sebesar 0,29 persen. Inflasi terjadi di delapan kota pemantauan IHK (Indeks Harga Konsumen) di Jatim.

Pada bulan Mei 2019 dari tujuh kelompok pengeluaran, enam kelompok mengalami inflasi dan satu kelompok mengalami deflasi. Inflasi tertinggi adalah kelompok Bahan Makanan sebesar 0,68 persen, sedangkan kelompok yang mengalami deflasi adalah kelompok Pendidikan, Rekreasi, dan Olah raga yaitu sebesar 0,07 persen.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Timur Teguh Pramono menjelaskan, tiga komoditas utama yang mendorong terjadinya inflasi di bulan Mei 2019 ialah daging ayam ras, angkutan antar kota, dan apel. ”Pada bulan Mei yang bersamaan dengan bulan Ramadan, mungkin banyak yang masak opor ayam. Hal ini membuat permintaan daging ayam ras meningkat yang menyebabkan harganya merangkak naik. Kenaikan harga ini membuat daging ayam ras menjadi komoditas utama pendorong inflasi,” kata Teguh di Surabaya, Senin (10//6/2019).

Komoditas lain yang mengalami kenaikan adalah tarif angkutan antar kota. Kenaikan tarif terjadi pada sepekan sebelum hari raya Idulfitri. Apel beserta beberapa komoditas buah-buahan lain juga turut mengalami kenaikan pada bulan ini.

Selain komoditas-komoditas pendorong laju inflasi di atas, beberapa komoditas menjadi penghambat terjadinya inflasi di bulan Mei 2019 ini. Tiga komoditas utama yang menghambat terjadinya inflasi ialah bawang merah, beras, dan angkutan udara. Harga bawang merah pada Bulan Mei mengalami penurunan, hal ini disebabkan adanya panen yang bersamaan di beberapa sentra penghasil bawang merah. Hal yang sama juga dialami komoditas beras yang masih mengalami penurunan harga sejak bulan sebelumnya.

Komoditas angkutan udara pada Bulan Mei justru mengalami penurunan, hal ini berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, dimana tarif angkutan udara mengalami kenaikan menjelang hari raya Idulfitri, namun pada tahun ini justru mengalami penurunan dibandingkan bulan sebelumnya setelah pemerintah menurunkan tarif batas atas angkutan udara.

Teguh menuturkan, dari delapan kota penghitungan IHK di Jatim, inflasi tertinggi terjadi di Sumenep yaitu mencapai 0,69 persen, diikuti Jember dan Probolinggo sebesar 0,64 persen, Madiun sebesar 0,61 persen, Banyuwangi sebesar 0,46 persen, Malang sebesar 0,35 persen, Surabaya sebesar 0,18 persen, dan Kediri sebesar 0,05 persen.

Jika dibandingkan tingkat inflasi kalender (Januari - Mei) 2018 di 8 kota IHK Jawa Timur, sampai dengan bulan Mei 2019 Madiun merupakan kota dengan inflasi tahun kalender tertinggi yaitu mencapai 1,40 persen, sedangkan kota yang mengalami inflasi kalender terendah adalah Kediri yang mengalami inflasi sebesar 0,64 persen. (KS-5)

 

Komentar