Ini Strategi PTPN XII Genjot Produktivitas Kakao

Seorang petugas sedang mengeringkan biji kakao

KANAlSATU - PT Perkebunanan Nusantara (PTPN) XII tahun ini akan menggenjot produktivitas tanaman kakao hingga tiga kali lipat dari sekarang melalui program penyehatan (strategic healing). Sekarang ini PTPN XII memiliki total luas areal perkebunan tanaman kakao sebesar 5.587,81 hektar.

Dari luas areal perkebunan kakao tersebut, luas areal tanaman kakao edel atau fine cocoa tercatat sebesar 2.256,32  hektar, sedangkan luas areal untuk tanaman kakao bulk atau kakao lindak sebesar 3.331,49 hektar.

Dirut PTPN XII, M Cholidi, mengatakan, sejauh ini produktivitas kedua tanaman kakao itu terbilang cukup rendah atau masih dibawah BEP (Break Even Point) dari biaya produksi. Pada tahun 2018 lalu, misalnya, dengan realisasi produksi mencapai 312.628 kg produktivitas kakao edel hanya sebesar 209 kg per hektar per tahun.

Sedangkan dengan realisasi produksi sebesar 1.355.504 kg produktivitas kakao bulk hanya sebesar 377 kg per hektar per tahun. Karena produktivitasnya masih di bawah BEP alias merugi tersebut, komoditas tanaman kakao pun tak menyumbang sepeserpun atas keuntungan yang dicapai oleh PTPN XII sepanjang 2018 lalu.

Padahal, kalau produktivitas tanaman kakao bisa digeber lebih besar dari sekarang, semisal untuk kakao edel sebesar 400 kg per hektar per tahun atau untuk kakao bulk sebesar 600 kg per hektar pertahun, BEP dari biaya produksi pun akan bisa dicapai. Apalagi, kalau produktivitasnya bisa didorong sampai 800 hingga 1.000 kg per hektar per tahun, sudah pasti akan jauh lebih menguntungkan.

"Nah sekarang boro-boro produktivitasnya mendekati BEP, yang terjadi malah di bawahnya. Makanya, kami ingin mengembalikan kekhasan PTPN XII dalam produksi kakao pada standar yang lebih baik. Tahun ini kami akan dorong produktivitasnya melalui proses penyembuhan tanaman tahunan ini dan kami mengistilahkan program strategic healing," kata Cholidi.

Ia menyebutnya dengan program penyehatan, karena tanaman kakao telah cukup lama menderita dengan sangat minimalis dalam hal pemberian asupan pupuk. Kalau tanaman hanya diberikan asupan pupuk 30 persen hingga 40 persen, tanaman pastinya juga tidak akan bisa tumbuh secara normal, apalagi tumbuh dengan bagus.

Cholidi menegaskan, proses penyehatan tanaman kakao tersebut kini sedang berlangsung. Asupan pupuk ditambah dari hanya 30-40 persen menjadi 100 persen. Selain itu, pada proses penyehatan ini, juga dilakukan pemangkasan untuk memancing buah sekaligus mencegah tumbuhnya jamur pytopthora palmivora, yang berkembang dengan cepat dalam keadaan lembab, yang menyebabkan buah kakao busuk dan mengeras.

Jamur tersebut sulit diobati, namun bisa dihindari bila ada sirkulasi matahari yang cukup pada tanaman kakao. Dan untuk itu, perlu dilakukan pemangkasan. Kurangnya dana selama ini untuk biaya pemangkasan tanaman menyebabkan produktivitas tanaman kakao juga rendah.

Program penyehatan ini, sambung Cholidi, menjadi prioritas PTPN XII seiring dengan meningkatnya permintaan kakao di pasar, terutama kakao edel karena tidak banyak yang membudidayakannya. Bahkan, di Indonesia PTPN XII merupakan satu-satunya yang menyuplai kebutuhan kakao edel.

Harga kakao edel cukup stabil, yakni sebesar USD 5,2 per kg atau separo lebih tinggi dari harga jual kakao bulk yang hanya USD 2,6 per kg.

Karena mahalnya harga coklat edel tersebut, di pasar dalam negeri kurang begitu laku, tidak ada yang berani menawar harganya. Justru, produsen coklat kelas dunia yang bisa menikmatinya kelebihan coklat edel. Karena itu itu, hampir 80 persen hasil produksi kakao PTPN XII dilempar ke pasar global.

Para produsen coklat kelas dunia, seperti Swiss, menjadikan produk coklat edel sebagai produk unggulan sekalipun mereka tidak pernah menanamnya.

Dengan taste yang lebih halus, kakao edel PTPN XII pun banyak diminati terutama di negara-negara Eropa seperti Swiss, Perancis dan Inggris serta negara Asia seperti Jepang.

“Melalui program penyehatan ini kami juga ingin mengembalikan kebanggaan PTPN XII yang mampu menghasilkan kakao edel yang sangat dihargai di banyak negara Eropa itu dan mulai ditanam sejak zaman Belanda," ungkap Cholidi.

Ia yakin strategi penyehatan yang sekarang mulai dijalankan akan meningkatkan produktivitas kakao PTPN XII tahun ini hingga mencapai BEP, atau bahkan melebihinya hingga bisa menyumbang keuntungan PTPN XII. “Saya optimistis tahun ini komoditas kakao bisa menguntungkan,” katanya.

Sehingga dengan demikian, keuntungan PTPN XII tahun ini juga akan lebih besar dibandingkan tahun lalu. Apalagi, program penyehatan juga dilakukan pada komoditas lainnya seperti kopi, karet, teh dan lainnya.

"Tahun ini kami proyeksikan keuntungan sebesar Rp 100 miliar, naik dari tahun lalu yang masih dalam perkiraan karena belum selesai audit, yakni sebesar Rp 2,9 miliar," terang Cholidi. (KS-5)
Komentar