Neraca Perdagangan Jatim pada April 2019 Alami Defisit US$ 622,40 Juta

KANALSATU – Neraca perdagangan Provinsi Jawa Timur pada Bulan April 2019 mengalami defisit sebesar US$ 622,40 juta. Hal ini disebabkan karena adanya selisih perdagangan yang negative pada sektor non migas maupun migas, sehingga secara agregat menjadi defisit.

Sektor non migas mengalami defisit sebesar US$ 276,4 juta dan sektor migas mengalami defisit US$ 3455,92 juta.

Nilai ekspor pada bulan tersebut tercatat US$ 1,57 Miliar atau turun sebesar 13 persen dibandingkan Maret. Sedangkan nilai impornya mengalami kenaikan 23,80 persen dibandingkan bulan sebelumnya atau menjadi US$ 2,19 Miliar.

Penurunan nilai ekspor April 2019 lebih disebabkan oleh kinerja ekspor sektor nonmigas yang turun lebih besar meskipun ekspor migas mengalami peningkatan. ”Apabila dibandingkan bulan sebelumnya, ekspor komoditas nonmigas turun sebesar 14,2 persen yaitu dari US$ 1,73 Miliar menjadi US 1,48 Miliar,” ujar Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Jawa Timur, Teguh Pramono, Rabu (15/5/2019). Padahal ekspor nonmigas memberikan kontribusi sebesar 93,95 persen dari total ekspor bulan ini.

Hal sebaliknya terjadi pada komoditas migas yang naik sebesar 26,71 persen dibandingkan bulan sebelumnya yaitu dari US$ 75,08 juta menjadi US$ 95,13 juta pada Bulan April. Komoditas migas menyumbang 6,05 persen total ekspor Jatim.

Pada Bulan April 2019, ekspor Jatim masih didominasi oleh sektor industri dengan nilai ekspor mencapai US$ 1.352,75 juta yang berkontribusi sebesar 86,09 persen dari total ekspor pada bulan tersebut. sementara itu ekspor sektor pertanian berada diurutan berikutnya dengan nilai ekspor mencapai US$ 11,28 juta yang menyumbang 7,53 persen. Kemudian ekspor sektor migas mencapai US$ 95,13 juta yang menyumbang peranan sebesar 6,05 persen.

Teguh menuturkan, selama April 2019 impor Jatim masih didominasi oleh bahan baku dan penolong dengan nilai US$ 1.0,47 juta yang memberikan kontribusi sebesar 82,44 persen. Sementara itu, impor barang-barang konsumsi merupakan golongan barang urutan berikutnya dengan kontribusi sebesar 9,24 persen atau mencapai 202,74 juta. ”Dan berikutnya barang-barang modal merupakan kelompok impor terkecil, dengan peranan sebesar 8,32 persen atau sebesar US$ 182,58 juta,” ujarnya.

Tiga negara utama penyumbang impor terbesar periode Januari-April masih didominasi dari Tiongkok dengan nilai impor sebeasr US 1.81,03 juta atau dengan kontribusi sebesar 28,23 persen. Disusul berikutnya dari Amerika Serikat sebesar US$ 443,12 juta atau berkontribusi sebesar 6,88 persen serta dari Thailand sebesar US$ 326,82 juta atau dengan kontribusi sebesar 5,08 persen. (KS-5)

Komentar