Gali Potensi Desa, PT Pertamina EP Cepu Dukung Budidaya Ayam Petelur di Desa Bandungredjo

KANALSATU - Komitmen PT Pertamina EP Cepu (PEPC) dalam menciptakan pemberdayaan dan kemandirian ekonomi masyarakat terus dilakukan. Salah satunya dengan mengajak masyarakat di desa Bandungredjo, Bojonegoro untuk membudidayakan ayam petelur.

Asmen Field Relation Masyarakat PT Pertamina EP Cepu (PEPC) Edi Purnomo mengutarakan bahwa program ini merupakan bentuk kepedulian perusahaan kepada warga sekitar. ”Program ini merupakan bentuk komitmen PEPC terhadap kemandirian ekonomi masyarakat di Desa Bandungrejo. Seperti diketahui bahwa mata pencaharian utama masyarakat Bojonegoro di sekitar Proyek JTB PEPC merupakan petani dan peternak,” jelas Edi saat Lokakarya Media 2019, SKK Migas dan KKKS wilayah Jabanusa, Senin( 22/4/2019).

Program Budidaya Ayam Petelur melalui Bisnis Usaha  Milik Desa (BUMDesa) bersama Pemerintah Desa dan Dinas Pemberdayaan Masyarakat, Desa di Desa Bandungrejo ini telah dilakukan sejak tahun 2017 lalu. BUMDes sendiri dipandang sebagai kelembagaan yang sangat tepat untuk mewadahi peningkatan pencaharian masyarakat secara berkelanjutan

Communication Relations and CSR PEPC Edi Arto menambahkan, budidaya ayam petelur dipilih karena besarnya kebutuhan pada komoditas tersebut. Konsumsi telur untuk 1,4 juta warga Bojonegoro mencapai 8,17 ton per tahun dan biasanya 80 persen dipenuhi dari luar Bojonegoro. ”Ini peluang usaha yang cukup bagus,” ujarnya.

Ia mengakui usaha ayam petelur di Bojonegoro memang agak anomali karena wilayahnya yang lebih panas dari pada sentra penghasil telur lainnya seperti Blitar. ”Sehingga agak gambling, pada 2017 kita coba 1500 ayam petelur dulu, jadi kami juga tak berani banyak dulu. Sekarang sudah ada 4.000 ekor ayam petelur dengan 4 unit kandang,” tutur Edi.

Lebih lanjut ia menuturkan, ada beberapa tantangan yang dihadapi dalam pengembangan usaha ini. Diantaranya adalah membentuk Bumdes yang memiliki memiliki bisnis utama berbasis potensi lokal. Kemudian dalam hal produksi. ”Waktu itu di 2018 ayamnya sampai mogok makan dua hari, karena bibit ayamnya di datangkan dari Blitar. Ternyata masalahnya kesalahan pemberian vaksin dimana vaksinnya tak boleh di simpan di freezer,” jelasnya.

Dengan usaha yang dijalani saat ini ditargetkan pada 2020 Bumdes tersebut sudah bisa mandiri dan memiliki pengembangan bisnis lain serta sudah bankable.

Sejak Juni 2018 hingga Maret 2019 produksi ayam petelur dari Bumdes Bandungrejjo sudah mencapai mencapai 15.917 Kg. Total penjualan  menapai Rp 314.666.857 dan mampu menghasilkan laba Rp 40 - 50 juta. (SA)

 

Komentar