Polisi di Seluruh Dunia Minta Warganet Stop Sebarkan Video Penembakan Christchurch

Cuplikan video live-streaming Brenton Tarrant sesaat sebelum melakukan penembakan di Christchurch. (cr: Facebook)

KANALSATU – Polisi di berbagai negar meminta warganya untuk tidak menyebarkan video penembakan massal yang terjadi di dua lokasi masjid di Christchurch Jumat siang (15/3).

Seperti diketahui, salah satu tersangka penembakan diidentifikasi dengan nama Brenton Tarrant sengaja menyiarkan perbuatan tidak manusiawinya melalui platform live-streaming video di Facebook.

Tidak lama setelahnya video pun beredar luas di masyarakat.

Facebook pun langsung menghapus video yang berkaitan dan menutup laman Facebook Brenton Tarrant untuk mencegah tersebarnya video tersebut. Facebook dan berbagai platform media massa sedang berusaha untuk menghapus semua video yang telah beredar di masyarakat.

Serangan teroris terhadap umat muslim terjadi di New Zealand pada Jumat (15/3) siang saat umat Muslim sedang melaksanakan ibadah shalat Jumat. Dua serangan terjadi di dua masjid berbeda di kota Christchurch, New Zealand. 49 orang tewas dalam aksi terburuk dalam sejarah New Zealand.

Serangan pertama terjadi di Masjid Al Noor yang menewaskan 41 orang. Dan serangan kedua terjadi hampir bersamaan dengan serangan pertama dan berlokasi di Masjid Linwood, di daerah yang tak jauh lokasinya dari Masjid Al Noor Christchurch.

Polisi menyatakan bahwa pihak berwenang telah menangkap tiga terduga pelaku penembakan massal di dua tempat berbeda itu. Salah satu diantara penembak yang diduga telah ditangkap polisi telah diidentifikasi dengan nama Brenton Tarrant berumur akhir 20 tahun bahkan sempat melakukan live-streaming di Facebook saat melakukan penembakan di Masjid Al Noor. Namun hingga saat ini polisi belum memberi konfirmasi apakan Brenton adalah salah satu tersangka yang ditangkap.

Dengan adanya serangan terhadap dua masjid di Christchurch ini New Zealand meminta seluruh masjid yang ada di negara tersebut untuk ditutup sementara hingga situasi kondusif agar menghindari adanya kemungkinan serangan lanjutan. (FA)

 

Komentar