Boeing Gagal Memberi Jaminan Keamanan Dalam Diri 737-Max 8?

Oleh Fahmi Alfian

Boeing 737 Max 8 (cr: CNN)

KANALSATU – Boeing mendapat kritikan hebat terkait tragedi jatuhnya pesawat Ethiopian Airlines ET302 pada Minggu pagi (10/3) waktu setempat. Boeing 737 Max 8 merupakan pesawat yang menjadi korban kecelakaan tersebut.

Bagaimana tidak, masih jelas dalam ingatan masyarakat luas dan pakar serta pengamat aviasi di seluruh dunia tentang pesawat jatuh yang menimpa penerbangan ET302 merupakan jenis pesawat yang sama dengan tragedi Lion Air JT610. Bagaimana bisa pesawat yang baru beroperasi dalam dunia penerbangan komersil sejak 2017 tersebut mengalami kecelakaan fatal dua kali dalam kurun waktu kurang dari satu tahun?

Boeing menanggapi hal ini dengan serius dan telah mengirim tim investigasi menuju Ethiopia guna mencari fakta dan penyebab kecelakaan maut yang menyebabkan 157 nyawa melayang ini.

Investigasi awal yang dilakukan oleh tim KNKT Ethiopia menyatakan bahwa kemungkinan utama adalah gagalnya sistem anti-stall pesawat menjaga ketinggian derajat moncong pesawat yang mengakibatkan pesawat tidak memiliki daya angkat (lift) yang cukup sehingga pesawat akan menukik (stall) yang dapat berakibat fatal jika tidak mampu diatasi dengan baik oleh pilot.

Dengan hasil investigasi awal ini dapat ditarik kesimpulan bahwa kasus yang hampir sama persis dengan apa yang terjadi dengan Lion Air JT610. Maka pengamat dan pakar aviasi semakin bertanya-tanya ada apa dengan Boeing 737 Max 8? Mengapa pesawat yang relatif baru, bahkan pesawat ET302 baru mendapat full service pada Februari 2019, ini mengalami kegagalan sistem anti-stall yang berakibat sangat fatal?

Untuk menjawab hal ini tentunya membutuhkan waktu bertahun-tahun menggunakan teknologi Boeing dan ahli lainnya dalam investigasi ini. Bahkan hingga saat ini belum bisa dipastikan apa yang terjadi dengan Lion Air JT610, enam bulan setelah tragedi tersebut.

Dampak dari gagalnya Boeing memberi jaminan keamanan bagi lini 737 Max 8 miliknya, pemerintah China mengutuskan seluruh maskapai penerbangan China untuk tidak mengoperasikan Boeing 737 Max 8 sampai batas waktu yang belum ditentukan. Total ada sekitar 90 pesawat Boeing 737 Max 8 yang dioperasikan maskapai-askapai asal China.

Pun halnya dengan Ethiopian Airlines, mereka juga “mengkandangkan” Boeing 737 Max 8 miliknya yang berjumlah enam buah yang beroperasi dari 30 buah yang mereka pesan dari Boeing.

Sedangkan pihak maskapai-maskapai Amerika Serikat yang merupakan rumah dari Boeing menyatakan bahwa asosiasi penerbangan komersil AS sedang mempelajari kedua kasus dengan teliti sehingga jika diperlukan maka AS juga akan melarang pengoperasian generasi terbaru dari jenis pesawat Boeing 737 tersebut.

Di Indonesia sendiri, melalui Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan memustuskan untuk memberi larangan terbang terhadap pesawat Boeing 737 Max 8 dampak dari jatuhnya pesawat tersebut milik maskapai Ethiopia Airlines di dekat Addis Ababa.

Menurut Direktur Jenderal perhubungan Udara Polana B. Pramesti, larangan tersebut diterbitkan guna memastikan keamanan penumpang penerbangan sipil di Indonesia juga memastikan bahwa kesebelas pesawat B737 Max 8 yang beroperasi di Indonesia laik terbang.

Sejauh ini pengawasan untuk pengoperasian pesawat jenis tersebut sudah dilakukan sejak tragedi Lion Air JT610 yang merenggut 189 jiwa pada Oktober tahun lalu.

Ditjen Perhubungan Udara juga akan terus bekerjasama dengan pihak FAA (Federation Aviation Administrassion) untuk memastikan pesawat B737 Max 8 yang beroperasi di Indonesia dalam keadaan baik dan laik terbang.

Di Indonesia sendiri ada sebelas pesawat B737 Max 8 yang tercatat beroperasi di bawah naungan dua maskapai terbesar Indonesia.

Seperti diketahui Garuda Indonesia mengoperasikan satu pesawat jenis tersebut dan Lion Air mengoperasikan sepuluh sisanya.

Pihak Garuda Indonesia bahkan mengadakan inspeksi terhadap satu pesawat B737 Max 8 miliknya yang sudah beroperasi sebelum Ditjen Perhubungan Udara memberikan larangan terbang bagi pesawat jenis ini.

Garuda menyatakan dalam siaran jumpa pers beberapa jam setelah tragedi di Addis Ababa bahwa pihaknya telah melakukan pengecekan menyeluruh dan khusus terhadap komponen-komponen yang ditengarai menjadi masalah utama dalam kecelakaan kedua pesawat tersebut pada Oktober tahun lalu dan Minggu (10/3). Semua sistem menunjukkan hasil normal alias “no faults detected” yang artinya pesawat aman untuk dioperasikan menurut pihak Garuda.

Jika dari sebelas pesawat milik kedua maskapai ternama ini digarasikan, maka besar pengaruhnya terhadap penerbangan domestik di Indonesia mengingat pesawat yang dilarang terbang merupakan pesawat jarak pendek-menengah yang digadang-gadang merupakan yang paling irit dan efisien di kelasnya yang menjadi favorit maskapai-maskapai dunia.

Tentunya maskapai akan memutar otak untuk memenuhi kuota yang “hilang” diakibatkan pelarangan tersebut. Bisa jadi dengan melukir jadwal yang sudah ada, bisa dengan menggunakan pesawat lama, atau bahkan mengurangi kuota terbang, yang jelas dengan adanya larangan ini selain penumpang, maskapai pun akan sangat dirugikan.

Taruhlah semisal dalam sekali terbang, pesawat B737 Max 8 milik Lion Air mampu menampung rata-rata 160 penumpang. Dalam sehari rate penerbangan pesawat tersebut melayani tiga rute, berarti Lion sudah kehilangan 480 penumpang dalam sehari, per pesawat yang tidak beroperasi. Jika Lion memiliki sepuh pesawat B737 Max 8, maka sekurang-kurangnya ada 4800 penumpang yang tidak dapat ditampung. Belum lagi jika Lion harus membayar biaya hangar dan biaya airport tempat kesepuluh pesawatnya disimpan. Bayangkan berapa besar kerugian Lion dan berapa banyak penumpang yang akan kecewa akibat keterlambatan atau pembatalan penerbangan menggunakan B737 Max 8.

Maka dari itu Boeing juga harus cepat dalam menanggapi kecelakaan ini dengan serius. Entah itu bekerja sama dengan FAA ataupun badan-badan kompeten lainnya, Boeing wajib memberi jawaban kepada klien maskapai-maskapai yang menggunakan dan memesan B737 Max 8 ini dan juga bertanggung jawa kepada masyarakat internasional bahwa pesawat Boeing 737 Max 8 andalan mereka aman untuk mengudara di langit dunia.

(FA)

Komentar