Red Velvet, From Zero to Billboard's K-Pop Song of The Year

Oleh Fahmi Alfian

Red Velvet (ki-ka: Joy, Irene, Seulgi, Wendy, Yeri) (cr: SM Entertainment)

KANALSATU – 1 Agustus 2014 menjadi awal cerita empat gadis muda asal Korea yang bermimpi untuk menjadi penyanyi. Sebuah mimpi dan cita-cita yang sangat sulit terealisasi meskipun agensi mereka adalah salah satu yang terbesar di Korea Selatan, yakni SM Entertainment

Selain persaingan dengan sesama trainee, dalam setahun industri musik di Korea yang terkenal dengan genre K-Pop nya itu melahirkan puluhan penyanyi (grup, wanita dan pria, solois) baru. Bahkan pada 2014, tahun di mana Red Velvet debut, tercatat ada 20 penyanyi wanita (grup maupun solois) yang debut.

Tak heran banyak yang pesimis dengan langkah SM Ent. ini untuk mendebutkan sebuah grup musik wanita baru. Bahkan sebelum resmi debut, anggota Red Velvet yang dulunya tergabung dalam SM Rookies (sebutan trainee SM Ent.) telah mendapat banyak kecaman dan ujaran kebencian dari para antis (sebutan untuk haters sebuah grup). Namun SM tetap bersikukuh dan pada akhirnya mendebutkan empat gadis muda yang pada akhirnya disebut dengan Red Velvet.

Tak pernah terbayang sedikit pun dalam benak Irene (ketua grup), Seulgi (penari utama/main dancer), Wendy (penyanyi utama/ main vocalist), dan Joy (rapper), bahwa mereka akan berhasil debut. Mereka hanya terus berlatih dan berlatih tanpa henti, tanpa kepastian namanya akan masuk daftar anggota Red Velvet.

Debut dengan lagu andalan berjudul “Happiness”, Red Velvet mendapat respon dari penikmat kpop yang beragam, bahkan nyaris mayoritas negatif. Lagu dan konsep yang disajikan dalam lagu tersebut dinilai terlalu lemah sebagai lagu perkenalan. Konsep yang ceria dianggap monoton karena pada tahun itu sendiri sebelumnya sudah banyak yang mengusung konsep ceria. Tidak ada yang spesial, antusiasme penikmat kpop menurun, penonton kecewa. 

Pasalnya SM adalah agensi besar, keseluruhan produksi single “Happiness” dianggap terlalu hambar untuk sekelas SM.

Namun semua berbalik total setelah Red Velvet melakukan comeback dengan single “Be Natural”. Konsep yang 180 derajat berbeda dengan “Happiness” di mana mereka menyajikan konsep mature girl, sexy, dan misterius sekaligus, tanpa adanya kostum panggung yang “buka-bukaan”. Mereka menjadikan kekuatan vokal dan skill menari yang sangat baik. Sangat baik. Bahkan beberapa kritikus menyebutkan “Be Natural” sebagai breakthrough concept di mana sebuah girlgroup menampilkan dua konsep yang berbeda. Dari sanalah publik akhirnya mengerti, bahwa itu adalah konsep Red Velvet yang sebenarnya.

Red yang berarti merah identik dengan keceriaan, semangat dipadukan dengan musik yang up-beat tergambar dengan jelas dalam diri “Happiness”.

Velvet yang berarti beludru, mengirimkan kesan yang classy, dan misterius dengan musik yang lebih “kalem” yang disampaikan mereka melalui “Be Natural”.

Sebuah konsep yang unik pada masa itu. Sebelumnya, belum ada grup musik wanita yang memadukan nama mereka dengan konsep yang mereka tawarkan. Kebanyakan dari girlgroup yang sudah debut menampilkan satu identitas musiknya saja. Entah itu cutesy saja, ceria saja, sexy saja. Dalam beberapa kasus memang ada beberapa girlgroup yang berganti konsep mencoba-coba peruntungan, tapi tidak ada yang seperti Red Velvet. Tidak ada yang dari awal memang menawarkan dua identitas. Red. Velvet.

Terbukti publik mulai antusias dengan apa yang akan mereka tawarkan selanjutnya.

Pada awal 2015, Red Velvet menyambut satu anggota baru yang juga merupakan maknae (sebutan untuk anggota termuda grup) bernama Yeri (rapper). Dibarengi dengan Comeback berjudul “Ice Cream Cake” yang bertema Red serta “Automatic” yang bertema Velvet yang terkemas dalam EP berjudul “Ice Cream Cake”Red Velvet berhasil mengokohkan eksistensinya di industri musik Korea, serta mulai mengumpulkan banyak penggemar baru.

2015 menjadi tahun awal kesuksesan Red Velvet, dengan peluncuran album studio pertama berjudul “The Red” dengan single utamanya yang berjudul “Dumb-Dumb”. Tanpa diduga-duga album ini berhasil menempati posisi satu di berbagai acara musik, radio, dan charts di Korea dan bahkan di beberapa negara lain (melalui platform iTunes). Bahkan yang sangat tidak diduga adalah ketika mereka berhasil menduduki posisi pertama Billboard World Chart! Pencapaian yang sungguh luar biasa. Girlgroup Korea pertama yang berhasil menduduki posisi ini. A legend in the making, begitu lah kira-kira label yang disematkan oleh pecinta k-pop.

Singkat cerita pada pada 2016/17 Red Velvet juga mencatatkan rekor-rekor baru dengan single-single dan extended plays (EP) serta album yang mereka rilis. Tercatat RV (sebutan Red Velvet) merilis tiga EP (“Rookie”, “Russian Roullette”, “Summer Magic”), satu mini album (The Velvet), dan satu studio album yang berjudul “Perfect Velvet”.

Hingga tiba tahun 2018 yang lagi-lagi membuat RV semakin menjadi perbincangan dunia. Ya, pada saat ini RV sudah memiliki fanbase yang kuat di kalangan fans internasional, serta menerima penilaian positif dari berbagai kritikus dunia, menjadi satu-satunya girlgroup yang ditunjuk pemerintah Korsel untuk menjadi duta perdamaian Korut-Korsel dengan penampilan memukaunya di hadapan petinggi Korut di Pyongyang!

Melalui album re-packaged berjudul “The Perfect Red Velvet”, Red Velvet menghasilkan salah satu single terbaiknya yang berjudul “Bad Boy”. Buktinya, “Bad Boy” berhasil menjadi K-Pop Song of The Year 2018 versi staff Billboard. Ya, Staff Billboard. Sebuah penghargaan yang bukan main-main yang disematkan oleh beberapa kritikus dan pengamat musik Billboard yang terkenal tidak mudah ter-impresi oleh lagu-lagu dari genre kpop. Bahkan dalam sebuah poling yang diadakan Billboard pada 2018, Red Velvet merupakan grup musik favorit dari semua kalangan umur dan gender.

Rasanya jika kita membicarakan RV, tidak akan ada habisnya. Mereka terus-menerus berusaha mengembangkan musik mereka sendiri untuk terus menghibur penggemar. Seperti yang disematkan publik sebelumnya, Red Velvet telah tumbuh menjadi salah satu girlgroup terbesar dalam sejarah K-Pop generasi ke-III. Legend.

Mengutip dari salah satu lirik dari lagu debut mereka “Happiness”, mari kita tutup artikel ini dengan sebuah kalimat yang penuh optimisme yang akhirnya membuat Red Velvet berevolusi. From zero to legendary hero.

“Shine on me, let it shine on me, shine on me, let it shine!”

(FA)

Komentar