Mentan Optimistis Ekspor Jagung Tembus 500.000 Ton

KANALSATU - Kementerian Pertanian tahun ini akan meningkatkan ekspor jagung menjadi 500.000 ton atau naik 120.000 ton dibandingkan tahun 2018 sebesar 380.000 ton. Daerah-daerah yang berpotensi menyumbang ekspor jagung tahun ini termasuk di antaranya Lamongan (Jawa Timur), Gorontalo (Sulawesi Selatan) dan Sumbawa (Nusa Tenggara Barat).

Menteri Pertanian (Mentan), Amran Sulaiman, Lamongan bekerja sama dengan perusahaan asal Malaysia akan mengekspor jagung petani ke Malaysia dan Filipina. Kemudian, Gorontalo juga siap mengekspor sebanyak 150.000 ton ke Filipina.

”Mudah-mudahan ekspor jagung tahun ini bisa naik 500.000 ton. Dalam satu bulan atau maksimal dua bulan ke depan kita sudah ekspor (jagung) lagi,” kata Amran usai panen raya jagung bersama petani jagung di Desa Mojorejo, Kecamatan Modo, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur, Rabu (6/2/2018).

Dengan ekspor yang dilakukan kali ini sekaligus menunjukkan kepada dunia bahwa Indonesia yang dulu impor 3,5 juta ton dari Amerika dan Argentina, sekarang sudah bisa ekspor. ”Nilainya juga tidak kecil, yakni Rp 10 triliun. Kalau dikalikan tiga tahun Rp 30 triliun,” ujarnya.

Menurut Amran menyetop impor jagung 3,5 juta ton itu bukan pekerjaaan mudah dan itu bisa dicapai karena kebijakan yang tepat dan sinergi yang baik. ”Sekarang bagaimana kita meningkatkan lagi ekspor jagung ke depan. Kalau kita lihat sepanjang jalan pematang ditanami jagung, itu artinya bercocok tanaman jagung menguntungkan petani, dan tolong itu jangan diganggu. Impor 30.000 ton itu sangat kecil dibandingkan dengan 3,5 juta ton. Petani sudah berjibaku menanam jagung dan ekspor, itu kita hargai,” katanya.

Amran tak menampik kalau ada saja yang menyangsikan tentang surplus jagung yang telah dicapai negara kita terkait dengan impor jagung beberapa waktu lalu. ”Kalau ekspor (jagung) 380.000 ton kemudian impor 100.000, surplus apa minus ?” kata Amran.

Ia pun membeberkan pada 2014 impor jagung mencapai 3,5 juta ton, dan pada 2015 impor tersebut turun menjadi 1,5 juta ton dan turun lagi tinggal 900.000 ton pada 2016, sampai akhirnya pada 2017 tidak ada impor. “Dan pada 2018, kita ekspor 380.000 ton dan kita impor 100.000 ton, itu artinya surplus kan. Bayangkan dulu impor 3,5 juta ton biasa-biasa saja,” jelasnya.

Dalam kesempatan itu, Amran pun akhirnya membuka masalah di balik impor 100.000 ton jagung. ”Mengapa kita harus impor 100.000 ton padahal kita ekspor 380.000 ton. Ada masalah yang harus diketahui publik dan harus clear,” katanya.

Menurut dia, dari informasi yang didapat dari Dirjen Peternakan, yang telah mengeluarkan impor bahan pakan berupa gandum sebanyak 200.000 ton kepada perusahaan pakan ternak. Dalam perjalanannya, perusahaan pakan itu tidak jadi impor gandum tersebut dan lebih memilih membeli jagung petani dengan harga Rp 5.000-6.000 karena dolar waktu itu tembus Rp 15.000 per dolar AS.

Jagung yang semestinya untuk peternak pun terserap untuk kebutuhan perusahaan pakan tersebut. ”Saya bilang bagi Anda menguntungkan tetapi menyusahkan peternak,” tutur Amran.

Dalam kondisi tersebut, Kemtan pun memilih menyelamatkan kebutuhan peternak sebanyak 2,5 juta ton dan memutuskan segera mengimpor secepatnya cadangan 100.000 ton karena perusahaan besar tersebut mengalihkan yang biasanya menggunakan campuran gandum mengalihkan langsung ke jagung karena nilai dolarnya naik Rp 2.000.

”Ini kan nggak benar, tapi nggak apalah kita harus jaga semuanya petani dan peternak. Apa kita tega peternak yang 2,5 juta ton membeli jagung dengan harga mahal karena diijon oleh perusahaan besar yang dulu jatahnya harus impor gandum,” imbuh Amran.
(KS-5)

Komentar