Biaya Produksi Lebih Murah, Kualitas Lebih Terjaga

Gunakan Gas PGN

Pemilik usaha kue Kreasi Fitri, Sumiatun menata coklat praline buatannya. Bagi pengusaha makanan seperti dirinya, ketersediaan jaringan gas PGN sangat membantu proses produksi.

KANALSATU – Tangan perempuan setengah baya ini dengan cetakan memasukkan coklat praline berwarna orange bikinannya ke wadah kertas kemudian menatanya di toples yang sudah disiapkan. Menjelang Natal, pesanan coklat dan kue mulai meningkat.

Kesempatan ini tidak disia-siakan Sumiatun, pemilik usaha kue Kreasi Fitri. Selain coklat praline yang banyak diminati, sehari-hari ia tetap membuat kue-kue basah. Produksinya tidak sedikit, bahkan terkadang bisa mencapai seribu buah aneka macam kue basah.

Tempat tinggalnya yang berada di kawasan Rungkut Lor sudah dikenal sebagai Kampung Kue di Surabaya. Setiap harinya sekitar 65 orang warganya sibuk melayani permintaan kue basah dan kue kering yang kemudian dipasarkan ke Surabaya dan kota-kota sekitarnya.

Eksistensi Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) tidak perlu diragukan lagi dalam mendorong pertumbuhan ekonomi nasional. Bisa dikatakan, UMKM tidak ada matinya. Apalagi yang bergerak di sektor makanan dan minuman.

Namun agar lancar berproduksi, tentunya dibutuhkan dukungan termasuk untuk ketersediaan bahan bakar. Bagi warga Kampung Kue, kehadiran jaringan gas bumi PGN sangat terasa manfaatnya.

Hal ini juga dirasakan Sumiatun. Biaya berlangganan gas PGN dirasakan jauh lebih hemat pemakaiannya juga bisa terus menerus tanpa takut kehabisan ketika ditengah-tengah proses produksi berlangsung.  ”Kebutuhan bahan bakar ini memang besar buat saya karena bisa dibilang tiap hari produksi. Baik kue-kue basah maupun kue kering,” ujar Sumiatun.

Ia mencontohkan ketika bulan puasa, ia menerima banyak sekali permintaan kue bikang dan apem. Dalam satu malam ia biasanya memproduksi hingga 500 buah bikang bunga. Sedangkan apem bisa sampai 2.000 buah. Itu belum termasuk produksi Ceriping dan Stick Keju yang dalam satu hari masing-masing bisa berproduksi sampai 15 kg.

Melihat banyaknya jenis kue yang diproduksi, tentu saja energi untuk bahan bakar yang dibutuhkan sangat besar. Sumiatun, yang dikalangan tetangganya akrab disapa Bu Pri ini mengatakan saat masih menggunakan tabung elpiji 3kg, minimal dalam satu minggu ia harus 2 kali mengganti tabung. Sehingga rata-rata dalam satu bulan ia membutuhkan delapan hingga 10 tabung elpiji 3 kg.

Dengan harga per tabungnya Rp 18.000 rata-rata dalam satu bulan ia menghabiskan sekitar Rp 180.000. Namun sejak beralih menggunakan gas bumi dari PGN, biaya yang ia keluarkan untuk energi terpangkas hampir separo, hanya sekitar Rp 87.000 hingga Rp 102.000 saja.  
 
Hal ini dirasakan Sumiatun sangat meringankan. Apalagi ketika bahan-bahan kue seperti tepung atau telur sedang melonjak, setidaknya ia masih bisa berhemat dari biaya penggunaan energi. ”Kalau dijual mahal-mahal kan kasihan. Untuk kue-kue basah yang ambil kesini umumnya mereka kan kulak untuk kemudian dijual lagi ke warung-warung,” ujarnya.

Ibu tiga anak ini menuturkan, selain karena lebih hemat, menggunakan gas PGN ini juga dirasakan lebih aman. ”Kalau pakai elpiji sebenarnya saya masih takut kalau dengar berita ada yang meledak-meledak itu mbak,” ujarnya kepada kanalsatu.com.

Belum lagi ada resiko gas habis ketika digunakan. ”Pernah pas terima pesanan risol mayo, saya masih pakai LPG terus gasnya habis. Akhirnya yang digoreng ini kan rusak. Sementara kalau pakai gas PGN kan lancar terus tidak sampai (kompornya) mati kehabisan (gas),” tutur perempuan 52 tahun ini.

Jaringan gas PGN sendiri masuk ke area tempat tinggal Sumiatun di Rungkut Lor yang terkenal dengan sebutan sebagai ‘Kampung Kue’ sejak 2014 berkat dukungan Pemerintah Kota Surabaya. Di Kampung Kue ini setiap harinya sudah ada lebih dari 50 orang yang rutin kulakan untuk kemudian dipasarkan di wilayah Surabaya, Sidoarjo dan Gresik.

Diinisiasi sejak 2005, Kampung Kue awalnya hanya beranggotakan tiga orang ibu rumah tangga di wilayah Rungkut Lor gang 2 Surabaya. Saat itu, kondisi di kampung tersebut cukup memprihatinkan karena dampak krisis ekonomi yang terjadi pada tahun 1998-1999 masih terasa.

Banyak warganya yang mendadak jadi pengangguran. Setelah melihat potensi di wilayahnya, pelopor Kampung Kue yaitu Choirul Mahpaduah bersama dua ibu rumah tangga lainnya termasuk Sumiatun sepakat mengembangkan usaha kue di kampungnya. Sekarang, produk dari kampung padat penduduk ini sudah masuk ke jaringan ritel modern dan toko oleh-oleh di Kota Surabaya. (KS-5)

Komentar