BI Jatim Proyeksikan Ekonomi Jatim Tumbuh 5,4-5,8 Persen di 2019

Kepala Perwakilan BI Provinsi Jawa Timur Difi Ahmad Johansyah saat menyampaikan sambutan dalam Pertemuan Tahunan Bank Indonesia (PTBI) Provinsi Jawa Timur 2018, Rabu (28/11/2018) di Surabaya.

KANALSATU – Pertumbuhan ekonomi Jawa Timur pada tahun 2019 diproyeksikan akan berada pada kisaran 5,4-5,8 persen. Sedangkan inlasi diperkirakan berada pada rentang 3,5 persen.

 
”Pertumbuhan ekonomi Jawa Timur tahun 2019 diproyeksikan masih kuat dan kondusif dengan tingkat inflasi yang terjaga,” kata Kepala Perwakilan BI Provinsi Jawa Timur Difi Ahmad Johansyah dalam Pertemuan Tahunan Bank Indonesia (PTBI) Provinsi Jawa Timur 2018, Rabu (28/11/2018) di Surabaya.

Dalam sambutannya, Difi menyampaikan prioritas kebijakan Bank Indonesia pada tahun 2019 diarahkan untuk memperkuat ketahanan ekonomidengan menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan. Pertama, dari sisikebijakan moneter, pengendalian inflasi diperkuat melalui peran TPID, kerjasamaantar daerah dan peningkatan ekspor komoditas unggulan dalam rangka penurunanCurrent Acoount Deficit (CAD).

Kedua, kebijakan makroprudensial akan bersifat akomodatif untuk mendorong intermediasi perbankan sertapeningkatan surveilance sistem keuangan.

Ketiga, Bank Indonesia mendorong pengembangan UMKM dan klaster yang difokuskan padapengendalian inflasi. Keempat, dari sisi sistempembayaran, Bank Indonesia mendorong ketersediaan instrumen pembayaran, inklusi keuangan, teknologi finansial, Gerbang Pembayaran Nasional (GPN), elektronifikasi, disertai peningkatan efisiensi pengedaran uang.

”Bank Indonesia juga mendukung Jawa Timur sebagaipusat ekonomi syariah dengan mendorong program sertifikasi halal,pelatihan ekspor bagi UMKM, sertifikasi Dewan Pengawas Syariah khususnya untukkoperasi syariah dan BMT, serta sertifikasi badan nadzir untuk wakaf,” jelas Difi.

Sementara itu, pertumbuhan ekonomi Jawa Timur pada triwulan III-2018 tercatat sebesar 5,40 persen (yoy) lebih tinggi dibandingkan nasional yang sebesar 5,17 persen (yoy). Pertumbuhan ini utamanya ditopang oleh kinerja investasi dan net ekspor antar daerah.

Secara spasial, selama enam tahun terakhir, pertumbuhan ekonomi mayoritas kabupaten/kota di Jawa Timur juga tumbuh di atas capaian nasional. ”Hal ini menunjukkan bahwa perkembangan ekonomi daerah di Jawa Timur masih terus berakselerasi didorong oleh upaya dari pemerintah dan masyarakat dalam mengoptimalkan potensi yang ada,” tutur Difi.

Selama kurun waktu terakhir, inflasi Jawa Timur juga tercatat lebih rendah dari nasional. Pada bulan Oktober 2018, inflasi Jawa Timur tercatat sebesar 2,9 persen (yoy) atau lebih rendah dibandingkan nasional yang sebesar 3,2 persen (yoy).

Tingginya kinerja ekonomi Jawa Timur juga tidak terlepas dari terjaganyakinerja sistem keuangan di Jawa Timur. Berdasarkan Regional Financial Account dan Balance Sheet (RFABS) Bank Indonesia, sektor rumah tangga dansektor korporasi adalah pelaku utama perekonomian di Jawa Timur.

Dari sisi investasi, realisasi pembangunan infrastruktur pemerintah seperti jalan tol, bandara dan sarana pendukung pertanian serta investasi industrimendorong kinerja investasi Jawa Timur. Dilihat dari Load to Deposit Ratio (LDR) perbankan di Jatim berdasarkan lokasi bank dan lokasi proyek, terlihat bahwasumber pendanaan proyek/investasi/industri di Jawa Timur tidak hanya dibiayai oleh perbankan di Jawa Timur, melainkan juga perbankan di luar Jawa timur.

”Berdasarkan pemetaan industri, terdapat beberapa sektor yang memiliki potensi dikembangkan ke depan, yaitu industri pengolahan kopi dan teh, industri perhiasan, industri pengolahan ikan dan biota laut, serta industri alas kaki. Apabila dikembangkan dengan baik dan memperoleh investasi yang cukup, industritersebut dapat semakin mendorong perekonomian Jawa Timur,” jelas Difi.

Pada kesempatan yang sama, Gubernur Jawa Timur Soekarwo menambahkan, Jawa Timur adalah hub untuk beragam jalur industri. ”Kita harus mendorong industri di Jawa Timur untuk mampu memiliki daya saing sehingga memiliki kualitas ekspor dan dapat mengurangi current account deficit yang sekarang sedang kita alami,” ujar Soekarwo.
(KS-5)

Komentar