Migas Jadi Ujung Tombak Industri di Jatim

Kepala SKK Migas Jabanusa, Ali Masyhar memberikan sambutan pada Silahturahmi dengan pemangku kepentingan Pemerintah Provinsi Jawa Timur di Hotel Four Point Surabaya (28/11/2018).

KANALSATU -  Keberadaan Minyak dan Gas (Migas) menjadi ujung tombak industri di Jatim. Migas menjadi komoditas yang banyak digunakan untuk transportasi dan industri strategis di Indonesia. Bahkan gas yang berlimpah di Jawa Timur kini telah membantu industri listrik dan pupuk.

Menyadari pentingnya sektor Migas ini SKK Migas Jawa Bali Nusa Tenggara (Jabanusa) bersama Kontraktor Kontrak Kerjasama (KKKS) Petronas Carigali Ketapang II Ltd menggelar Silahturahmi dengan pemangku kepentingan Pemerintah Provinsi Jawa Timur di Hotel Four Point Surabaya (28/11/2018).

Kepala SKK Migas Jabanusa, Ali Masyhar menuturkan PC Ketapang II Ltd ini termasuk tiga besar penghasil minyak bumi di Jatim dengan produksi minyak mentah 14.000 Barrel of Day (BoD) dan gas sekitar 30 juta kaki kubik (MMCFD). Besarnya produksi Migas ini juga berbanding lurus dari dana untuk pembinaan Corporate Social Responsibility (CSR) yang hingga kini mencapai Rp 4,8 miliar yang dialirkan ke warga di Sampang dan Gresik.

”Insya Allah 2019 di Petronas ini akan tambah sumur sehingga bisa tambah produksi. Kami berharap semua urusan perizinan maupun urusan yang lainnya juga bisa diselesaikan tepat waktu sehingga Migas Jawa Timur bisa bertambah lagi produksinya,” harap Ali Masyhar dalam sambutannya.

Kepala Subdirektorat Pengembangan Wilayah Kerja Minyak dan Gas Bumi Non Konvensional Direktorat Pembinaan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi Bayu Wahyudiono mengaku jika Jawa Timur di tahun 2018 ini menurut catatan Kementrian ESDM mengalami penurunan produksi. Namun di tahun 2019 Jatim akan surplus gas karena beberapa pengembangan sumur akan menghasilkan.

 
”Jatim juga menjadi satu-satunya daerah yang beruntung sebab selain kaya dengan potensi gas bumi. Sebab sudah memiliki jaringan pipa gas sehingga 100 persen hasil gas bumi yang diproduksi KKKS,  semuanya digunakan oleh industri pupuk, listrik serta industri komersial dan rumah tangga di Jatim. Berbeda dengan daerah lain yang gasnya dijual keluar karena belum ada infrastruktur jaringan gasnya,” jelas Bayu.

Bayu memaparkan saat ini gas yang terkandung di perut bumi Jatim ini sekitar 4,66 Trillions of Standard Cubic Feet of gas (TSCF) sedangkan gas yang sudah di ekploitasi sekitar  628,66 MMCFD. Jika dikalkulasi dari hitungan maka Jatim masih punya cadangan gas hingga 20 tahun lagi.

”Namun tentunya secara riil di lapangan  tak semua cadangan itu bisa dieksploitasi. Intinya Jatim masih kaya akan gas,” tegas Bayu.


Berbeda dengan Bayu, Sulistya Hastuti Wahyu, VP Operasi SKK Migas, lebih banyak mengupas tentang  cadangan minyak bumi yang ada di lapangan pengeboran saat ini hanya akan bertahan hingga sembilan tahun saja. Namun temuan teknologi seismik yang lebih canggih menyebutkan saat ini di Indonesia ada 130 cekungan minyak. Dimana 74 cekungan atau lapangan masih belum tersentuh atau belum dieksplorasi.

 ”Jika mengandalkan sumur yang lama memang sudah kita sudah berdarah-darah. Jika tahun 60 an saat dieksploitasi 90 persennya adalah minyak bumi. Tapi sekarang 90 persen disedot yang keluar malah air. Untuk itu perlu lapangan dan eksplorasi baru dan disini dibutuhkan perizinan yang cepat sehingga saat minyak yang ada mulai menunjukkan penurunan, Indonesia masih punya cekungan lain yang siap berproduksi,” tandas Sulistya. (KS-5)

Komentar