BUMN Diminta Aktif Tingkatkan Ekspor

KANALSATU - Seluruh Badan Usaha Milik Negara (BUMN) diminta untuk ikut berperan serta aktif dalam peningkatan investasi dalam negeri dan ekspor ke berbagai negara. Hal ini sangat penting dilakukan mengingat semakin sengitnya perang dagang antar negara yang terjadi saat ini.

”Dan BUMN, setelah berhasil berkiprah dan berkembang, holding juga sudah mulai lahir walaupun belum tuntas, kita ingin mereka  berperan dalam peningkatan investasi dan ekspor,” ujar Menteri Koordinator Perekonomian Republik Indonesia, Darmin Nasution saat membuka “Indonesia Business & Development (IBD) Expo 2018 di Grand City Surabaya, Rabu (3/10/2018).

Lebih lanjut Darmin mengungkapkan, memasuki 2017 perdagangan global mulai pulih dan perekonomian juga mulai tumbuh lebih baik. Sementara pemerintah Indonesia telah menyadari sejak 2008 telah menanggalkan pasar dalam negeri. Sehingga pertumbuhan ekonomi tersebut tidak akan bisa dinikmati Indonesia secara maskimal.

”Kalau ekonomi dunia pulih, maka yang bsia mendapatkan manfaat besar adalah negara yang berorientasi ekspor. Sedangkan Indonesia adalah negara yang peranan ekspornya tidak terlalu besar. Sehingga jika ekonomi dunia pulih, maka yang dapat keuntungan banyak adalah Malaysia, negara yang kinerja ekspornya sangat besar,” tegasnya.

Untuk itu, Indonesia mulai melakukan penguatan dengan menarik investasi, utamanya yang berorientasi ekspor. Sehingga fokus Indonesia di tahun  lalu adalah pada pembangunan infrastruktur dan pengembangan industrialisasi.

Terlebih dengan setelah Amerika Serikat dan negara maju lainnya melakukan normalisasi kebijakan moneter dengan meningkatkan suku bunga.”Jadi solusinya dengan membiarkan investasi yang berorientasi ekspor. Karen ekonomi bisa dikatakan mulai tumbuh dan berkembang jika ekspor meningkat dengan cepat. Sementara kita, impor jauh lebih besar. Neraca transaksi berjalan mengalami defisit,” tegas Darmin.

Pada kesempatan tersebut, ia juga mengatakan bahwa mulai tahun depan pemerintah akan melakukan peningkatan kompetensi Sumber Daya Manusia (SDM) melalui pengembangan pendidikan vokasi besar-besaran di tahun depan dan menyiapkan insentif bagi dunia usaha yang terlibat. Karena SDM menjadi kunci utama dalam menentukan daya saing suatu negara.

Menurutnya, selama ini pendidikan SMK hanya bergulat mempelajari teori. Sehingga lulusan SMK justru menjadi kontributor terbesar terhadap besarnya tingkat pengangguran dalam negeri. Padahal, lulusan SMK seharusnya menjadi tenaga yang siap bekerja. Untuk itu, pemerintah harus membuat sistem modul.

”Misalnya kalau modulnya bikin rumah ya bikin rumah. Kalau modulnya otomotif ya otomotif, dan itu tidak harus 3 tahun, harusnya 1 tahun. Itu sebabnya pemerintah merumuskan perlu insentif bagi dunia usaha termasuk BUMN. Kalau dia ikut dalam pendidikan vokasi tidak harus bikin sekolah tapi bisa meminjamkan pegawai anda yang eksis dalam bidang tertentu,” katanya kepada para pelaku usaha BUMN.
(KS-5)

Komentar