Mahasiswa Efektif Kerek Cakupan Imunisasi Difteri di Madura

KANALSATU – Mahasiswa dianggap sebagai pembawa pengaruh yang bisa mengerek cakupan imunisasi difteri utamanya di wilayah yang masih rendah tingkat realisasi. Misalnya saja di Madura.

Sekretaris Dinas Kesehatan Kabupaten Bangkalan Muhammad Rasuli menuturkan, langkah untuk masuk ke kampus-kampus menjadi gerakan positif untuk bisa menambah cakupan imunisasi difteri. Mereka yang sebelumnya sudah melaksanakan imunisasi tahap pertama di sekolah asalnya masing-masing bisa turut serta untuk ikut dalam imunisasi tahap dua ini.

”Para mahasiswa ini juga penting untuk menyebar kabar positif dalam menjaga kesehatan di masyarakat, terutama melalui imunisasi,” ujar Rasuli ketika ditemui di sela-sela Talkshow Kesehatan di Universitas Trunojoyo Madura (UTM) Bangkalan, Kamis (20/9/2018).

Ia menyadari kesadaran masyarakat di Bangkalan masih rendah terhadap imunisasi. Apalagi sebelumnya sempat ada isu halal dan haram masalah vaksin Campak Rubella di luar Pulau Jawa yang berdampak pada pelaksanaan imunisasi difteri.

Guru Besar Biokimia dan Biomolekuler FKH Unair Prof. Dr. drh. Chairul Anwar Nidom mengungkapkan, imunisasi merupakan cara paling ampuh untuk mencegah munculnya penyakit, termasuk difteri yang saat ini ditetapkan dalam kondisi darurat.

”Dengan kekebalan tubuh yang baik, maka dengan sendirinya akan terbangun kondisi masyarakat yang imun terhadap serangan penyakit. Dampaknya, indeks kesehatan masyarakat akan meningkat,” ujar Nidom yang juga ahli vaksin Universitas Airlangga Surabaya.

Kepala Perwakilan Unicef di Pulau Jawa Arie Rukmantara menambahkan, imunisasi menjadi hak setiap anak untuk bisa menjaga kesehatan. Bagaimana pun juga, imunisasi merupakan benteng paling kuat bagi anak-anak untuk mencegah serangan penyakit.

 Ia melanjutkan, kesehatan merupakan aset paling mahal yang bisa dimiliki seseorang. Terkadang banyak yang lupa aset mahal itu harus benar-benar bisa dijaga. Ketika sakit melanda, masyarakat baru menyadari betapa mahalnya harga sebuah kesehatan.
 
Pada tahun 2017 perhatian masyarakat di Indonesia dikagetkan dengan adanya 954 kasus difteri yang terjadi di 170 kabupaten/kota di 30 provinsi. Dari jumlah kasus itu, sebanyak 44 orang diantaranya meninggal dunia.

Angka kematian atau Case Fatality Rate (CFR) adalah 4,6 persen yang berarti dari 100 orang yang menderita penyakit difteri, terdapat 4-5 penderita yang meninggal. Angka CFR nasional ini lebih rendah dari data angka CFR global yang dirilis WHO yaitu sekitar 5-10 persen.

Suatu wilayah dikatakan mengalami Kejadian Luar Biasa (KLB) difteri apabila ditemukan minimal satu kasus terduga difteri. Dengan terjadinya KLB difteri di berbagai daerah maka harus segera dilakukan Outbreak Response Immunization (ORI). Jawa Timur pun akhirnya mengalami KLB karena banyaknya warga yang terdeteksi terkena difteri dan sudah ada 16 korban meninggal dunia.

 ”Jadi kita membutuhkan kekebalan kelompok yang bisa menanggkal difteri. Cakupan imunisasi difteri harus bisa ditingkatkan untuk proteksi di berbagai kabupaten/kota di Jatim,” jelasnya.

Data hingga 12 September 2018 kemarin menyebutkan, ORI Difteri putaran 2 baru tercapai 92,40 persen. Dari capaian tersebut, terdapat tujuh kota masih menempati posisi paling rendah cakupan sasaran, yaitu Kabupaten Pasuruan, Pamekasan, Bangkalan, Tuban, Kota Probolinggo, Kabupaten Sampang dan Kabupaten Pasuruan. Seluruh daerah tersebut proyeksi cakupannya masih berada di bawah 85 persen, sementara target pemerintah minimal proyeksi cakupan sebesar 95 persen. (KS-5)

Komentar