Digitalisasi Perbankan, Inovasi Jadi Kunci

KANALSATU – Sambil bersantai di salah satu kafe di pusat perbelanjaan di Surabaya, mata dan tangan Ardhia Putri terus berseluncur di dunia maya, membuka beberapa situs penyedia tiket dan hotel serta maskapai penerbangan. Begitu melihat ada jadwal dan harga yang sesuai dengan kemampuannya, tanpa pikir panjang, Ardhia langsung mentransfer sejumlah uang untuk membayar tiket penerbangan ke Korea.

Tanpa perlu berlari-lari ke ATM terdekat, perempuan ini sudah bisa menyelesaikan transaksi pembayaran. Hal ini menjadi bukti betapa perkembangan teknologi sudah maju sedemikian  pesat sehingga ikut mengubah gaya hidup masyarakatnya.

Perbankan, sebagai penyedia jasa keuangan akhirnya juga dituntut untuk berubah mengikuti perkembangan zaman dengan pengaplikasian teknologi. Ekonom Universitas Brawijaya Dias Satria mengatakan teknologi telah mengubah tren di banyak sektor ekonomi.

”Segmen market perbankan sekarang ini adalah generasi Y dan Z atau generasi milenial yang akrab dengan teknologi. Oleh sebab itu business model juga harus mengarah kesana. Perbankan dan lembaga keuangan lainnya harus berinovasi,” ujar Dias ketika dihubungi, Senin (13/8/2018).

Untuk memenuhi berbagai kebutuhannya seperti transfer dana, mengecek saldo, membayar tagihan, membeli pulsa atau bahkan berbelanja semua bisa dilakukan hanya melalui ponsel pintar yang ada di genggaman. Tidak perlu lagi harus ke bank, ATM atau mengantre di kasir untuk berbelanja.”Apalagi bagi generasi milenial yang tidak suka birokrasi. Mereka malas kalau harus ke bank, Dengan teknologi, kebutuhan mereka sudah bisa dipenuhi tanpa harus ke bank,” ujarnya.

Salah satu indikator dari fenomena ini adalah menjamurnya financial tehnology yang mampu menjawab kebutuhan generasi milenial tadi. ”DNA perubahan itu harus ada. Perbankan musti catch up dengan teknologi. Dan hal ini harusnya tidak perlu dianggap sebagai ancaman selama bank mau terus berinovasi dan berkolaborasi,” tutur Dias.

Laporan Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) menyebutkan bahwa pengakses internet di Indonesia pada 2017 mencapai 143 juta orang atau lebih dari separo jumlah populasi di negara ini.

Data OJK sendiri menyebutkan, jumlah nasabah pengguna e-banking meningkat sebesar 270 persen dari 13,6 juta nasabah pada tahun 2012 menjadi 50,4 juta nasabah pada tahun 2016. Adapun frekuensi transaksi pengguna e-banking meningkat 169 persen dari 150,8 juta transaksi pada tahun 2012 menjadi 405,4 juta transaksi pada tahun 2016.

Menanggapi perubahan ini, PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Timur Tbk (Bank Jatim) terus mengembangkan sejumlah teknologi digital pelayanan perbankan. Direktur Utama Bank Jatim R Soeroso mengakui digitalisasi perbankan tidak bisa lagi dihindari.

Diawali dengan meluncurkan layanan SMS Banking pada 2014 silam, Bank Jatim terus meningkatkan layanan berbasis IT dengan meluncurkan layanan Internet Banking pada 2015 dan yang terbaru, layanan Mobile Banking pada tahun 2016 lalu. Hingga Desember 2017, untuk layanan electronic channel, pengguna sms banking mencapai 121.926, internet banking 7.2013 dan mobile banking 43.984 pengguna.
 
”Layanan berbasis IT ini diharapkan bisa memberikan kemudahan bagi ansabah Bank Jatim untuk bertransaksi tanpa harus datang ke kantor cabang. Layanan seperti transfer dana antar rekening Bnak Jatim maupun ke rekening bank lain di dalam negeri, pembayaran tagihan, pembayaran pajak, pembelian pulsa hingga pembayaran tagihan e-commerce juga bisa dilakukan dari gadget nasabah,” ujar R. Soeroso.

Saat ini Bank Jatim juga sedang menyiapkan layanan berbasis IT yang lebih canggih yakni sistem pembayaran dan transaksi digital berbasis QR Code dan RFID. ”Jadi nantinya nasabah Bank Jatim bisa bertransaksi di merchant-merchant hanya menggunakan smartphone mereka. Pembayarannya akan langsung didebetkan dari saldo masing-masing nasabah,” tutur Direktur Keuangan Bank Jatim, Ferdian Timur Satyagraha.
(KS-5)

Komentar