Teror Bom Landa Surabaya, Omzet Ritel Anjlok

Ketua DPW Aprindo Jatim April Wahyu Widati (kiri) dan Koordinator Wilayah Timur Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Abraham Ibnu (dua dari kiri) bersama perwakilan ritel modern saat pertemuan di Surabaya, Rabu (16/5/2018).

KANALSATU – Teror bom yang terjadi di sejumlah tempat ibadah di Surabaya pada Minggu-Senin (13-14/5/2018) lalu berimbas pada dunia usaha. Di sektor ritel, penurunan omzet yang dirasakan sangat signifikan.

”Minggu- Senin turun signifikan. Ritel modern yang integrated dengan mall turunnya sampai 70 persen dari rata-rata penjualan harian. Sementara untuk yang stand alone (tidak terletak di dalam mall) tidak terlalu signifikan walaupun ada juga yang turun hingga 60 persen,” kata Koordinator Wilayah Timur Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Abraham Ibnu kepada wartawan di Surabaya, Rabu (16/5/2018).

Penurunan terbesar dialami oleh ritel modern dengan format department store yang penurunan omzetnya sampai 80 persen. ”Karena kalau belanja sandang kan bisa ditunda. Jadi karena ada kondisi tersebut, orang-orang takut keluar rumah untuk berbelanja,” ujar Ibnu lagi.

Ketua DPW Aprindo Jatim April Wahyu Widati menambahkan, dalam hitung-hitungannya, akibat kejadian tersebut omzet yang melayang mencapai sekitar Rp 33,9 Miliar dari seluruh format ritel. Mulai dari minimarket, supermarket, hypermarket, pusat perkulakan serta department store.

”Teror yang terjadi menjelang Bulan Ramadan ini memang cukup memukul. Karena biasanya masyarakat berbelanja kebutuhan Bulan Ramadan di sekitar H-3. Nah bom ini meletusnya kan di H-3. Padahal, 30 persen dari target revenue selama satu tahun kami proyeksikan dari Ramadan dan Lebaran,” tutur April.

Tidak ingin terus menerus terpuruk, pihaknya terus mencari upaya mengembalikan kenyamanan warga nyaman berbelanja. ”Kami akan membuat surat resmi kepada Pemerintah Kota Surabaya untuk melakukan recovery psikologis warga masyarakat. Kami juga sudah menyiapkan aksi untuk mengembalikan minat warga masyarakat berbelanja,” ujar April.

Beberapa aksi yang disiapkan diantaranya memasang spanduk serta menggeber program promo. Dengan adanya promo-promo yang menarik diharapkan minat masyarakat untuk berbelanja kembali tumbuh dan omzet kembali meningkat.

Branch Manager Indomaret Cabang Gresik, Veronica Gratiawati mengatakan setidaknya ada 10 toko yang berjarak sekitar 500 Meter dari tiga gereja yang menjadi lokasi teror bom Hari Minggu lalu. ”Ada beberapa toko yang terpaksa kami tutup sehari penuh. Secara rata-rata penurunannya 30 persen padahal mestinya tumbuh di H-3 puasa. Dampaknya benar-benar terasa di Hari Senin,” pungkasnya. (KS-5)

 

Komentar