PTPN X Kembangkan Varietas Unggul untuk Tingkatkan Protas Tebu

Direktur Utama PTPN X, Dwi Satriyo (tengah) saat kunjungan ke Puslit Gula Jengkol

KANALSATU - PT Perkebunan Nusantara (PTPN) X melalui Pusat Penelitian dan Pengembangan (Puslit) Gula yang berada di desa Jengkol, Kediri mengembangkan sejumlah varietas unggul harapan sebagai nominasi pendamping maupun nominasi pengganti dari varietas yang ada saat ini. Pengembangan varietas unggul ini ditujukan untuk meningkatkan produktivitas pada musim giling yang akan datang.

Direktur Utama PTPN X Dwi Satriyo Annurogo menjelaskan, umumnya varietas yang ada di petani saat ini adalah varietas nonbina untuk keperluan multilokasi dari expert breeder yang kompeten di bidangnya. Namun demikian, ada pula beberapa varietas yang masih perlu ditelusuri asal-usulnya.

Sehingga dalam proses pengembangannya di kebun bibit berjenjang, Puslit Gula didampingi oleh BBPPTP (Balai Besar Perbenihan dan Proteksi Tanaman Perkebunan) Surabaya. ”Kami harap selanjutnya varietas nonbina yang unggul ini dapat dikembangkan hingga resmi menjadi varietas bina,” terang Dwi di sela kunjungannya ke Puslit Gula Jengkol.

Varietas yang dikembangkan oleh Puslit Gula PTPN X tersebut terdiri dari tiga sumber pengembangan, yaitu yang pertama dari rekayasa pemuliaan dengan cara persilangan bunga tebu. Dari upaya rekayasa persilangan ini telah dihasilkan beberapa varietas dengan kode JSR yang merupakan akronim dari Jengkol Sugar Research.

Upaya kedua adalah mengembangkan varietas-varietas yang telah ada di petani dan memiliki sifat unggul.  Selain itu, PTPN X juga telah secara resmi melakukan introduksi varietas unggul dari Sao Paolo – Brazil.

Ada enam varietas yang sudah berada di penangkaran tingkat KBPU dan telah lulus uji aklimatisasi dan karantina selama setahun di dalam green house di Puslit Gula PTPN X. Selain dari pihak BBPPTP Surabaya, pihak Balai Karantina juga turut memantau perkembangan varietas introduksi dari Brazil tersebut.

Kepala Puslit Gula Jengkol, Purnomo Aji menyatakan, saat ini petani masih condong kepada varietas tertentu seperti PS-862, PS-881 ataupun Bululawang, dengan pertimbangan produktivitasnya yang lebih tinggi dari varietas yang lainnya. Padahal umur varietas tersebut sudah lebih dari 10 tahun dan tanpa pemurnian ulang, sehingga semakin kurus. Selain itu, varietas yang ada mulai mudah terserang penyakit, hingga tingkat endemi.

”Yang paling rawan saat ini adalah serangan cendawan Ustilago scitaminea Sydow atau yang lebih umum disebut serangan ‘luka api’, khususnya pada varietas Bululawang. Selain bisa menurunkan produktivitas tebu, dampak serangan cendawan tersebut dapat mengakibatkan gagal panen,” jelasnya.

Lebih jauh Purnomo menyampaikan, untuk menjembatani penataan varietas yang lebih baik produktivitasnya, PTPN X telah melaksanakan kegiatan rating varietas di kebun PG Watoetoelis Sidoarjo yang melibatkan BBPPTP, Balittas Karangploso, P3GI, PT Perkebunan Nusantara XI dan XII, serta perwakilan petani dari masing-masing pabrik gula wilayah kerja PTPN X.

Pelaksanaan rating varietas yang bertujuan untuk menilai keragaan dan potensi tebu tersebut telah memberikan gambaran langsung adanya varietas-varietas unggul pilihan lainnya. Ada sembilan varietas yang jauh lebih unggul dari Bululawang yang bisa dipilih petani untuk meningkatkan pendapatan kebunnya sekaligus meningkatkan minat budidaya tebu secara lebih luas lagi.

”Lima varietas di antaranya adalah hasil rekayasa pemuliaan di Puslit Gula Jengkol,” ujarnya.

Selain di Puslit Gula Jengkol dan PG Watoetoelis, warung tebu sebagai kebun display varietas-varietas tebu unggulan yang dapat dipilih oleh petani juga sedang dikembangkan di Jombang dan Kediri, disertai dengan penerbitan buku katalognya. Dengan demikian, diharapkan petani akan lebih mudah dalam memilih atau memesan bibit unggul kepada pabrik gula pembinanya, sesuai dengan rencana bulan tanam maupun tipologi lahannya.
(KS-5)

Komentar